Humaniora

Generasi Milenial Menjaga Toleransi dan Teladan Nabi

24 November 2018   06:53 Diperbarui: 24 November 2018   07:20 111 0 0
Generasi Milenial Menjaga Toleransi dan Teladan Nabi
Toleransi - nusantaranews.co


Di era milenial seperti sekarang ini, perkembangan dunia teknologi informasi memang menjadi hal yang tak bisa dibendung lagi. Persaingan antar perusahaan IT terus terjadi. Hampir setiap bulan selalu saja ada produk teknologi yang membuat kita geleng kepala. Selain menawarkan berbagai kecanggihan, teknologi ini terbukti telah mampu merubah gaya hidup generasi milenial. 

Anak-anak sekarang begitu familiar dengan yang namanya smartphone. Bahkan, tidak sedikit orang tua saat ini memberikan telepon genggamnya ke anaknya ketika menangis. Setelah disaksikan video di youtube, si anak langsung terdiam.

Teknologi di era milenial ini bisa membikan dampak positif, tapi juga bisa memberikan dampak negatif. Hal ini disebabkan karena perilaku orang yang tidak bertanggungjawab, dengan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan yang tidak baik. Salah satu contohnya adalah penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial. 

Penyebaran hoax dan hate speech ini, tentu akan merusak segalanya. Kerukunan antar umat beragama yang selama ini terjaga, pelan-pelan akan memudar. Keramahan yang selama ini menjadi identitas, pelan-pelan berubah menjadi amarah yang membabi buta. Lalu, dimana toleransi yang selama ini selalu didengungkan? Bukankah Indonesia mayoritas  berpenduduk muslim? Dan bukankah Islam juga sangat mengedepankan toleransi?

Mari kita saling introspeksi. Jangan lagi saling menyalahkan, saling merasa benar dan saling menghujat satu sama lain. Kita semua sama. Makhluk yang sama-sama diciptakan Allah SWT. Sudah semestinya kita hidup berdampingan. Bukankah Allah menciptakan manusia itu saling berbeda satu dengan yang lainnya? Dan Allah juga menganjurkan setiap manusia saling mengenal satu dengan yang lain. Dan dalam prakteknya, upaya untuk saling mengenal itulah yang kemudian menghasilkan toleransi antar umat beragama.

Kondisi juga diperkuat dengan budaya masyarakat Indonesia yang cenderung terbuka. Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, tidak ada yang menggusur atau digusur. Tidak ada yang menindas atau ditindas. Dan tidak ada yang mencaci, menjelekkan ataupun melakukan persekusi. Bahkan, budaya-budaya itu justru saling melengkapi. 

Jejak akulturasi budaya itu yang bisa kita lihat di beberapa bangunan lama hingga saat ini. Budaya gotong royong masyarakatnya yang terus terjaga, juga membuat kerukunan antar umat begitu terasa. Lalu, jika toleransi ketika itu begitu terjaga, kenapa di era milenial ini, toleransi justru mulai memudar hanya karena provokasi SARA dan ujaran kebencian?

Sekali lagi, mari kita introspeksi dan kembali pada ajaran yang benar. Kelompok intoleran selalu berteriak Indonesia mayoritas muslim, lalu kenapa perilaku mereka terkadang justru tidak mencerminkan seorang muslim yang baik. Karena itulah, mari kita melihat segala apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi pekan kemarin, harus menjadi momentum bagi semua pihak, untuk menegakkan karakter Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. 

Jika Nabi berhasil mewujudkan peradaban yang toleran ketika itu, kita para pengikutnya juga harus bisa melakukan hal yang sama. Apalagi Indonesia adalah negara yang tentram, kaya sumber daya alam dan bukan negara konflik. Generasi milenial harus menjadi generasi yang saling menghargai, generasi yang santun dalam berbicara dan berperilaku, serta generasi yang jujur dan bertanggungjawab. Salam.