Mohon tunggu...
Nugroho Endepe
Nugroho Endepe Mohon Tunggu... Dosen - Edukasi literasi tanpa henti. Semoga Allah meridhoi. Bacalah. Tulislah.

Katakanlah “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (67:30) Tulisan boleh dikutip dengan sitasi (mencantumkan sumbernya).

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Benarkah Pola Asuh Pengaruhi Kemandirian Anak?

8 Desember 2022   06:35 Diperbarui: 8 Desember 2022   06:47 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: lifestyle.kompas.com 

Pilih mana, otoriter, permisif serba boleh. atau demokratis?

Ada ciri-cirinya.

Pokoknya kamu tidak boleh pergi bermain ke luar rumah," kata seorang ibu dengan galaknya. "Lho, "kan ibu kemarin telah mengizinkan Sinta" kata Sinta, sang anak dengan muka takut-takut.

"Nah, mulai membantah, ya. Yang jadi orangtua itu kamu atau aku, hah? Anak sekarang, sedikit-sedikit berani membantah orangtua. Belum mampu ngasih makan orangtua, sudah berani membantah. Ibu dulu, tak pernah menjawab kalau nenek kamu menasihati," kata Ibu itu dengan ekspresi marah.

     Entah mengapa, sering terjadi, manakala orangtua marah, orangtua memaksa anak untuk mendengarkan segenap bunyi amarah orangtua. Namun suara anak, betapa pun dalam pandangan logika berpikir secara nalar bisa diterima, tidak pernah didengarkan oleh para Orangtua. Caci maki, cubitan di pantat, kecaman, dan bentakan terkadang mewarnai kemarahan orangtua kepada anak.

Apalagi bila sebelumnya orangtua telah bermasalah. Masalah kantor, masalah dengan suami, tumpah ruah kepada anak. Stimulasi kecil, akan memicu kemarahan terhadap anak. Anak bukan hanya bingung, sering merasa Sakit hati, dan merasa tidak berdaya dalam bayang-bayang Otoritas orangtua.

Apalagi, kultur budaya Jawa yang cukup berpengaruh mengatakan, membantah orangtua adalah tabu. Jawaban anak yang dimaksudkan memberi kejelasan masalah, misalnya pada kasus Sinta (kemarin ibu mengizinkan, kok sekarang tidak, mengapa?), ternyata diterjemahkan orangtua sebagai ujud pembantahan anak terhadap wibawa orangtua.

Pola Asuh 

Ekspresi kemarahan orangtua, model cara didik, dan penanaman sistem nilai dan ekspresi emosi terhadap anak berkaitan erat dengan pola asuh.

Diana Baumrind (1975), psikolog penyusun buku Early Socialization and Discipline menyatakan, terdapat tiga macam pola asuh orangtua yang diterapkan dalam mengelola anak. Yakni pola asuh otoritarian, pola asuh permisif, dan pola asuh otoritatif.

Pola asuh otoritarian menuntut kepatuhan dan ketaatan anak terhadap aturan yang ditetapkan orangtua. Orangtua tidak segan-segan menggunakan perlakuan keras, bahkan mungkin kasar, untuk mendapatkan kepatuhan anak. Eufemisme bahasa, menggantikan pola asuh otoriter ini dengan istilah "mendisiplinkan anak dengan tegas". Anak senantiasa dikontrol, dikekang, dan dikendalikan sesuai kehendak orangtua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun