Mohon tunggu...
Nugroho Endepe
Nugroho Endepe Mohon Tunggu... Iqra.... قْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ 1 اقْرَ Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

“Reading maketh a full man; and writing an exact man. ” ― Francis Bacon “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah..” ― Pramoedya Ananta Toer

Selanjutnya

Tutup

Transportasi

Kliping | Smart Port untuk Pelabuhan Banjarmasin

6 Januari 2020   05:14 Diperbarui: 6 Januari 2020   05:42 15 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kliping | Smart Port untuk Pelabuhan Banjarmasin
Tol Sungai, eksisting di Banjarmasin yang melegenda (dokpri, 2018)

Kutipan: Smart port pada dasarnya pelabuhan cerdas yang ditopang teknologi digital sehingga efisiensi tinggi, kompetitif, bernilai tambah bagi masyarakat sekitar, otomatisasi di segala bidang, dan pada akhirnya pelabuhan akan meningkatkan aspek ramah lingkungan, standar keselamatan dan keamanan yang semakin baik, serta produktivitas meningkat. Jika pada tahun 2018 ini Banjarmasin melakukan upaya system on line untuk layanan operasional, maka pada tahun 2015 telah dilakukan Atlantic Stakeholder Platform Conference dari Masyarakat Eropa (Europe Commission) yang merekomendasikan untuk ditumbuhkembangkan konsepsi smart port tersebut.

Pada tanggal 26 September 2018 yang baru lalu, berlangsung diskusi kelompok terarah (FGD) antar para pelaku usaha di lingkungan pelabuhan Banjarmasin. Forum yang diprakarsai Insan Lintas Maritim Club (ILMC) Banjarmasin tersebut mengangkat tema "Sistem pelayanan Secara Online di lingkungan Pelabuhan Banjarmasin".

Tema tersebut sangat menarik di tengah maraknya digitalisasi industry 4.0 yang mewabah di mana-mana. Salah satu cirinya adalah serba on line dan data digital sebagai pengganti data manual sehingga teknologi komputer dan internet adalah vital.

Pada saat yang sama, dunia kemaritiman juga dikembangkan adanya konsep smart port, yang kurang lebih sama dengan upaya digitalisasi layanan operasional berbasis internet. Siapkah Pelabuhan Banjarmasin dan pemangku kepentingan melaksanakan tuntutan teknologi ini? Bagaimana tantangan ke depan dan alternative solusi yang bias ditawarkan?

Akurasi Data

Smart port pada dasarnya pelabuhan cerdas yang ditopang teknologi digital sehingga efisiensi tinggi, kompetitif, bernilai tambah bagi masyarakat sekitar, otomatisasi di segala bidang, dan pada akhirnya pelabuhan akan meningkatkan aspek ramah lingkungan, standar keselamatan dan keamanan yang semakin baik, serta produktivitas meningkat. Jika pada tahun 2018 ini Banjarmasin melakukan upaya system on line untuk layanan operasional, maka pada tahun 2015 telah dilakukan Atlantic Stakeholder Platform Conference dari Masyarakat Eropa (Europe Commission) yang merekomendasikan untuk ditumbuhkembangkan konsepsi smart port tersebut.

Dengan kata lain, upaya pemangku kepentingan pelabuhan Banjarmasin untuk system online layak diapresiasi. Meski demikian, ada tantangan nyata terkait akurasi data dengan penjelasan sebagai berikut;

Pertama, hendaknya data terintegrasi lintas instansi, termasuk dari swasta, semestinya dijamin akurat sehingga lebih terjamin terhadap validitas data operasional. Sebagai contoh, data di bill of lading atau daftar muatan kapal, semua perlu divalidasi sehingga volume dan jenis barang sesuai dengan yang ada di lapangan. Indonesia memang dipercaya semakin baik dari sisi tata kelola pemerintahan (good corporate governance), namun di lapangan tetap perlu saling kroscek untuk meningkatkan akurasi data. Jika layanan on line hanya menggantungkan data yang dientry oleh petugas lapangan dari mitra, proses verifikasi tetap diperlukan sehingga kesesuaian data antara dokumen dengan lapangan akan semakin baik.

Kedua, kesadaran untuk objektif terhadap data masih perlu untuk secara terus menerus diupayakan. Sebagai contoh, komponen pentarifan untuk komoditas peti kemas sudah berjalan lama objektif dan sangat baik. Namun untuk barang curah dan kargo umum (general cargo), kiranya perlu untuk selalu ditingkatkan proses kroscek data barang. Jika data barang dientry seketika by online, sementara dokumen fisik belum teruji validitasnya, maka ini menjadi tantangan nyata karena risiko terjadi selisih antara data entry on line dengan data lapangan.

Ketiga, system online menuju upaya realisasi konsep smart port memang masih memerlukan cek dan kroscek. Pada satu sisi layanan on line diyakini akan mengurangi perjumpaan fisik orang, yang berpotensi adanya konflik kepentingan. Namun data entry pada layanan on line, masih memerlukan verifikasi, yang bila diterapkan formula 24/7, atau 24 jam 7 hari kerja selama seminggu non stop, maka dapat dibayangkan jika data dientry jam 2300 layanan diminta jam 0200 sementara data yang dientry masih harus proses verifikasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x