Nugroho Endepe
Nugroho Endepe Swasta

Port shipping tourism social industrial psychology economics business management etc;

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

"Bottle Neck" di Bidang Logistik

28 Januari 2019   19:47 Diperbarui: 29 Januari 2019   09:03 130 0 0

Fenomena leher botol disebabkan, antara lain, pemeriksaan dokumen yang berkepanjangan. Hal tersebut diduga menjadi pemicu biaya tinggi karena efek domino. Misalnya, denda atas keterlambatan jadwal kapal (demurrage kapal). Akibatnya, dokumen lama barang lama dibongkar. Lalu, pemilik barang didenda pemilik kapal. Armada truk pun mengantre lebih lama.

Pada area tertentu, rendahnya kualitas infrastruktur (access road) juga memicu fenomena leher botol. Hal tersebut menimbulkan biaya tinggi. Traffic jam (kemacetan) menimbulkan kelambatan barang masuk pabrik. Truk juga mudah rusak karena jalan rusak. Ada tambahan biaya onderdil dan reparasi truk. Itu termasuk fuel consumption.Truk macet, tapi tetap ada konsumsi BBM. Biaya-biaya tersebut akan dibebankan kepada end user. Akibatnya, harga barang menjadi tinggi.

Pada Juli lalu, harian ini secara beruntun mengedepankan warta soal fenomena bottle neck (leher botol) dalam dunia logistik Surabaya. Misalnya, berita berjudul Bea Cukai Lambat, Ratusan Kontainer Tertahan, Importer Rugi Besar (Jawa Pos, 22/7). Bea Cukai perketat izin keluar barang yang berdampak pada beban biaya yang ditanggung para importer makin tinggi. Itu disebabkan pengeluaran SPPB (surat perintah pengeluaran barang) makan waktu yang lebih lama daripada biasanya (Jawa Pos, 9/7).

Tulisan ini tidak bermaksud mencari kambing hitam soal peningkatan kesulitan importer maupun eksporter yang disebabkan makin intensifnya pemeriksaan dokumen ekspor impor. Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk mengidentifikasi fenomena sumbatan leher botol yang memengaruhi kelancaran barang (flow of cargo) di pelabuhan. Hal tersebut akan berdampak pada naiknya harga barang komoditas di Surabaya.

Apalagi, sebentar lagi akan terjadi peak season (musim puncak) arus barang. Yakni, pada Ramadan dan Idul Fitri. Bila tidak mewaspadai tempat-tempat sumbatan leher botol, end user (konsumen akhir alias masyarakat luas) akan dirugikan. Mereka harus menanggung biaya tinggi karena flow of cargo tersumbat.

Surabaya sedang menghadapi ancaman bottle neck. Pengelola Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ketamuan dua orang yang terkait dengan logistik Indonesia, khususnya Surabaya, pada 22 Juli lalu.

Mereka adalah Senior Trade Economist dari Trade, Finance, and Private Sector Development World Bank Jakarta Office Henry Sandee dan warga negara Jepang yang merupakan konsultan Bank Dunia, Takiko Koyama. Mereka mengilustrasikan betapa komoditas Indonesia di pasar dunia sejatinya sangat baik dan murah. Bank Dunia belum lama melakukan survei perbandingan barang komoditas dari Indonesia, Tiongkok, India, dan Vietnam yang ditinjau dari kualitas dan harga.

Hasilnya, 62 di antara 100 responden perusahaan dunia menyatakan bahwa Indonesia memiliki barang yang berkualitas dan berharga kompetitif (baca: murah). Dengan kata lain, komoditas Indonesia sangat bersaing untuk berkompetisi di pasar luar negeri. Sayang, saat barang sampai di tangan pengguna akhir, harga barang tersebut menjadi mahal. Ketika diidentifikasi, penyebabnya berasal dari tingginya biaya logistik Indonesia.

Penerapan formula 24/7, (24 jam setiap hari dan tujuh hari setiap minggu untuk layanan publik) akan mengurangi fenomena sumbatan leher botol yang disebabkan lamanya antrean pemeriksaan dokumen. Di Jepang, pengguna jasa pada hari libur (Sabtu dan Minggu) akan mendapatkan diskon. Sebab, mereka meluangkan waktu untuk mengurangi jam kesibukan pada hari-hari utama (prime time) dan meningkatkan kelancaran transaksi maupun flow of cargo.

Fenomena leher botol disebabkan, antara lain, pemeriksaan dokumen yang berkepanjangan. Hal tersebut diduga menjadi pemicu biaya tinggi karena efek domino. Misalnya, denda atas keterlambatan jadwal kapal (demurrage kapal). Akibatnya, dokumen lama barang lama dibongkar. Lalu, pemilik barang didenda pemilik kapal. Armada truk pun mengantre lebih lama.

Pada area tertentu, rendahnya kualitas infrastruktur (access road) juga memicu fenomena leher botol. Hal tersebut menimbulkan biaya tinggi. Traffic jam (kemacetan) menimbulkan kelambatan barang masuk pabrik. Truk juga mudah rusak karena jalan rusak. Ada tambahan biaya onderdil dan reparasi truk. Itu termasuk fuel consumption.Truk macet, tapi tetap ada konsumsi BBM. Biaya-biaya tersebut akan dibebankan kepada end user. Akibatnya, harga barang menjadi tinggi.

Pada prinsipnya, kajian akademis terhadap konsepsi terminal operator (TO) yang akan memengaruhi harga barang logistik adalah sejumlah aktivitas kunci flow of cargo.

Alur barang dipengaruhi kelancaran empat aktivitas utama. Yakni, ship operation (operasi kapal/pelayaran), quay transfer operation (membongkar barang dari kapal ke atas truk), warehousing/storage operation (membongkar barang dari truk ke gudang penyimpanan sementara), dan gate operation (pemeriksaan terakhir barang sebelum barang meluncur ke pengguna akhir, termasuk kualitas infrastruktur jalan yang memengaruhi kelancaran di gate operation).

Dua gerakan intinya adalah gerakan barang secara fisik dan gerakan dokumen. Gerakan barang akan dipengaruhi kekuatan alat bongkar muat, trucking/transportation, kualitas operator dan SDM, kualitas infrastruktur jalan maupun lapangan penumpukan, desain rencana bongkar muat, dan pelaksanaan fisik lainnya. Semuanya bergantung pada gerakan dokumen.

Dengan kata lain, semua aktivitas fisik tidak akan dapat dilaksanakan kalau barang secara administratif masih dianggap bermasalah (pengurusan dokumen tersendat-sendat). Bila dokumen terjebak pada sumbatan leher botol, fisik barang tidak akan bergerak. Masa tunggu tuntasnya dokumen akan memengaruhi tuntasnya gerakan fisik barang. Itu berarti biaya.

Kita berharap, dari waktu ke waktu, perbaikan untuk meminimalkan fenomena bottle neck akan terus dilakukan semua instansi. Selain itu, diperlukan kesadaran, komitmen dan integritas bersama. Hal tersebut juga berdampak pada masalah pencitraan. Semoga, komoditas Indonesia yang sementara ini divonis dan dicitrakan memiliki biaya logistik tinggi dapat segera dibenahi.

Kejadian yang menimpa importer Surabaya bukanlah realitas tunggal. Masih banyak pekerjaan rumah yang memerlukan komitmen bersama untuk memperbaiki terus-menerus. Semoga, fenomena sumbatan leher botol akan makin kecil dan menghilang, lalu diganti derasnya arus barang yang makin lancar, aman, dan memenuhi prinsip-prinsip ketepatan waktu (just in time). Semoga. (*/c12/mik)

*) Alumnus World Maritime University, Swedia; bekerja di Pelindo III

www.jawapos.com

http://www.sunan-ampel.ac.id

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2