Nugroho Endepe
Nugroho Endepe Swasta

Port shipping tourism social industrial psychology economics business management etc;

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Kliping 2010, Gelombang "Cruise Ship" ke Surabaya

11 Januari 2019   20:02 Diperbarui: 11 Januari 2019   20:22 219 1 1

Menindaklanjuti kekaguman sebagian besar masyarakat kita terhadap semakin tumbuh kembangnya keindahan Kota Surabaya, tulisan ini dimaksudkan untuk memotivasi kita semakin memajukan Surabaya. Kampung semakin hijau. Trotoar semakin lebar dan nyaman. Demikian juga penataan taman kota yang bagaimanapun perlu kita acungi jempol agar semangat membangun Surabaya makin berkembang.

Memang, di sisi lain pasti ada hal yang belum memuaskan atau bahkan bisa jadi masih mengecewakan. Meski demikian, secara tanggung jawab tanggung renteng, menjadi kewajiban kita bersama berpikir dan bertindak untuk membangun semua sektor demi kemajuan Surabaya.

Senyampang dengan semangat baru atas terpilihnya wali kota Surabaya yang baru, marilah kita menengok potensi besar yang selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini mati suri. Secara beruntun, pada Maret lalu Surabaya kedatangan tamu kapal pesiar MV Albatros.

Kapal pesiar mewah berbendera Jerman itu membawa wisatawan mancanegara dari Jerman, Inggris, Australia, Monako, dan Amerika. Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kebagian sampur dijenguk MV Albatros yang sebenarnya sudah menetapkan rute ke Benoa (Bali), Tanjung Emas (Semarang), dan Tanjung Priok (Jakarta), untuk selanjutnya meneruskan ke Thailand dan Jepang.

Pendekatan yang intensif, tidak hanya company to company (C to C) namun juga government to government (G to G), membuat MV Albatros berpenumpang 884 orang akhirnya didaratkan di Surabaya. Sambutan reog Ponorogo dan welcome party yang menjadi bagian dari protokoler penyambutan MV Albatros, tampaknya, membawa kesan tersendiri bagi para wisatawan sekaligus pengelola Cruise Ship Agent.

Maka, pada April dan awal Juni lalu, pengelola Pelabuhan Tanjung Perak dengan didampingi unsur imigrasi, dinas perhubungan, dinas pariwisata, dan Pemkot Surabaya serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berturut-turut juga menerima tim kapal pesiar dari Miami, Florida, dan Bermuda, Amerika Selatan, untuk penjajakan rencana kunjungan kapal pesiar pasca MV Albatros yang dinilai cukup sukses di Surabaya. Untuk mencapai on schedule, memang perlu planning paling tidak dua tahun sebelumnya. Sehingga, diharapkan pada 2012 akan hadir lagi kapal pesiar ke Surabaya.

Awal Juni lalu, kembali tim Cruise Ship Management, yakni Mr Bruce Krumrine yang adalah vice president shore operations dari Europe & Exotics Princess Cruises yang berkantor di Santa Clarita, California, Amerika Serikat, berkunjung ke Surabaya. Dia juga bermaksud menjadwalkan kapal pesiar di bawah manajemen Princess Cruises untuk memasuki Surabaya paling lambat akhir 2011 atau pertengahan 2012.

Mengapa Mereka Tertarik Surabaya

Barangkali menjadi pertanyaan kita, ada apa di balik kunjungan kapal pesiar nan mewah ke Surabaya? Benarkah itu semata-mata karena Surabaya begitu cantik menawan sehingga mengundang daya tarik para wisatawan? Barangkali jawabannya paling tidak tiga hal.

Pertama, benar bahwa Surabaya tidak mungkin dikunjungi bila tanpa ada objek wisata andalan. Dari percakapan dengan tim kapal pesiar MV Albatros dan manajemen Princess Cruises, Surabaya adalah kota tua yang diharapkan masih menyimpan objek menarik peninggalan kolonial Belanda atau zaman Perang Dunia II. Tidaklah mengherankan, mereka kagum ketika diundang lunch di House of Sampoerna sekaligus menengok museum Cigarettes dan terkesan ketika dinner di Hotel Majapahit yang tetap mempertahankan arsitektur Eropa

Tunjungan Plaza, Monumen Pahlawan, dan yang berjarak agak jauh Gunung Bromo menjadi beberapa objek yang dipertimbangkan untuk dikunjungi ulang. Memang tidak semua penumpang turun dari kapal pesiar untuk kota-kota. Namun, antusiasme mereka layak kita jadikan cambuk untuk memingkatkan servis kita ke depan terkait dengan kapal pesiar. Penumpang yang ke Bromo bahkan rela ditinggal MV Albatros ketika itu untuk selanjutnya meneruskan via jalan darat ke Tanjung Emas, Semarang, tempat MV Albatros bersandar pasca dari Tanjung Perak, Surabaya.

Kedua, mereka juga sangat tertarik dengan Indoensia secara umum, dan khususnya ke Surabaya, untuk melihat langsung kehidupan dan alam lingkungan yang relatif lebih natural dan penuh eksotika. "Wonderful island and very nice people...", adalah sebagian komentar penumpang kapal pesiar dan tim manajemennya. Bali sebagai pulau wisata dapat dikatakan sudah populer dan sangat familier bagi wisatawan. Namun, mereka menginginkan untuk eksplorasi lagi pulau atau kota lain yang menarik dan penuh keunikan.

Ketiga, pada dasarnya juga disadari derasnya keinginan kapal pesiar untuk mampir ke Surabaya adalah makin membaiknya bisnis Cruise Ships pada sekitar 3-5 tahun terakhir. Objek wisata yang lazimnya dikunjungi di kawasan Amerika Selatan semacam Karibia ataupun Perairan Mediterania di Eropa bisa jadi semakin mendekati titik jenuh sehingga destinasi dialihkan ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Bila memang kita mampu memoles Surabaya semakin cantik lagi, diharapkan Surabaya menjadi bagian tetap dari rute kapal pesiar dunia.

Meningkatkan Ikon Wisata Surabaya, Karapan Sapi Kenjeran

Sebenarnya, para wisatawan diharapkan dapat melihat Karapan sapi (bull race) yang asli di Madura. Namun, mengingat keterbatasan waktu, wisatawan maupun tim manajemen yang datang belakangan akhirnya disuguhi karapan sapi di kompleks wisata Kenjeran.

"Mengapa sapinya kecil-kecil?" ujar sebagian di antara mereka. Kami menjelaskan bahwa memang itu adalah simulasi. Untuk karapan yang sebenarnya, sapinya sangat besar dan ganas-ganas. Tampaknya, mereka puas, namun penasaran dengan karapan yang sebenarnya. Maka, ke depan bila memang jadwal kedatangan kapal pesiar telah dipublikasikan, tidak ada salahnya menghadirkan karapan sapi yang lebih "serius".

Selain itu, tampaknya, tim manajemen kapal pesiar sangat ingin menjumpai hal yang khas di daerah yang dikunjungi. Mereka sangat berhasrat untuk melihat komodo sehingga sering bercerita bahwa sangat disayangkan dermaga khusus kapal pesiar tidak tersedia. Bukankah tidak ada salahnya bila Kebun Binatang Surabaya bekerja sama dengan agen-agen kapal pesiar untuk menonton komodo di Surabaya? Tentu itu perlu dipertimbangkan sehingga kelak kapal pesiar semakin intensif berkunjung ke Surabaya.

Dengan semangat berbenah Surabaya, kita berharap perekonomian semakin membaik dengan kedatangan kapal-kapal pesiar di Surabaya. Secara teoretis, bila 1.000 penumpang cruise ship membelanjakan uangnya di Surabaya masing-masing USD 1.000, multiplier effect-nya (dampak berganda) adalah adanya transaksi ekonomi sebesar USD 1 juta atau sekitar Rp 9 miliar dengan asumsi kurs Rp 9.000. Itu hanya satu kali datang. Jika berkali-kali, semakin menggeliatlah sektor wisata kita yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian rakyat. Semoga. (*/c6/mik)

Oleh Nugroho Dwi Priyohadi, Alumnus World Maritime University, Swedia, pemerhati pariwisata

jawapos.co.id | blog