Mohon tunggu...
Dr. Nugroho SBM  MSi
Dr. Nugroho SBM MSi Mohon Tunggu... Dosen - Saya suka menulis apa saja

Saya Pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Sungai Kering

29 Juli 2021   13:09 Diperbarui: 29 Juli 2021   13:49 68 17 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sungai Kering
sumber gambar: jawapos.com

Dulu di desa itu musim kemarau tak mempengaruhi sungai di sebelah rumah sang lelaki. Sungai itu tetap mengalir tanpa henti. Airnya bening dan ikan wader serta udang terlihat berlari-lari. Airnya juga biasa dipakai untuk mandi dan mencuci. Pun pula sebagai salah satu sumber irigasi.

Tapi kini air sungai itu jika kemarau mengering dan hanya tinggal batu-batu kali. Memang masih bermanfaat, batu kali dipecah-pecah untuk patung dan bahan bangunan yang juga mendatangkaan rejeki. Tapi tak bisa menutupi biaya hidup sehari-hari.

Tapi lebih banyak rugi. Pemandangan jadi gersang sekali. Tanaman banyak yang mati, terutama padi.

Matinya aatanman padi berarti matinya sumber rejeki bagi sebagian besar penduduk yang petani. Dewi sri pun kelihatannya tak berkenan di hati. Dari Kahyangan ia  sebenarnya akan mencurahkan emosi. Tapi tak bisa karena taka ada teknologi.

Mengapa sungai itu kering, bisa ditelusuri. Banyak pohon di ujung bukit di desa itu yang ditebangi. Karena akan dibangun indutri. Janjinya pabrik itu akan menyerap banyak penduduk desa untuk bekerja sehingga katanya akan menghidupi.

Tapi sampai pabrik itu dibangun janji tak ditepati. Semua dikerjakan oleh sedikit orang dari luar dan oleh mesin industri.

Alhasil sungai kering, tanaman padi mati, dan penduduk desa itu kurang gizi sembari menanti janji sang pemilik industri yang tak kunjung direalisasi.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x