Mohon tunggu...
Dr. Nugroho SBM  MSi
Dr. Nugroho SBM MSi Mohon Tunggu... Dosen - Saya suka menulis apa saja

Saya Pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Semarang

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Median vs SMRC, Anies vs Ganjar

27 April 2020   21:33 Diperbarui: 27 April 2020   21:31 233
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemerintahan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Kompas TV baru-baru ini menayangkan hasil survai dan sekaligus mewancarai yang melakukan survai dari dua lembagaa survai yaitu SMRC dan Mediansoal siapa kepala daerah yang dianggap cepat tanggap dan kebijakannya tepat dalam menangani pandemi Covid19. Hasilnya berbeda jauh.

Median menetapkan Anies di posisi nomer 1, sementara SMRC menetapkan Ganjar Pranowo di posisi nomer 1. Bagi yang mengkritisi Anies tentu ini hasil yang mengejutkan mengingat banyak kritik yang justru ditujukan pada Anies soal penanganan Covid19 di DKI Jakarata yang dianggap belum maksimal, dari indikator makin meningkatnya jumlah penderita, pemberian bantuan sosial yang salah sasaran, hingga dirusaknya rumah warga yang melaporkan  soal adanya jemaat masjid yang masih beribadat di mesjid meskipun sudah ada kebijakan PSSB yang sudah berjalan 2 minggu.

Tapi seebenarnya soal hasil survai apapun hasilnya memang bisa sangat bertentangan antaraa lembaga survai yang satu dengan lembaga survai yang lain. Tidak hanya dalam hal penanganan Covid19 saja tetapi juga dalam hal lain, misal yang masih kita ingat adalah soal siapa pemenang pilpres ataupun pilkada. Mengapa hasil lembaga riset bisa berbeda-beda?

Pertama, dalam hal pengambilan sampel. Semua survai yang dilakukan oleh lembaga survai pasti didasarkan pada sampel. Sampel adalah sebagian atau contoh dari keseluruhan populasi. 

Tidak mungkin lembaga survai melakukan survai yang diambil adalah populasi atau keseluruhan responden. Nah di sini lah salah satu sumber perbedaan itu. Jika sampel yang diambil berbeda maka ada kemungkinan hasilnya berbeda.

Kedua, masih persoalan sampel. Ada lembaga sampel yang memang mengambil sampel secara benar sehingga pendapat sampel mewakili pendapat populasi. Tetapi ada lembaga survai yang pengambilan sampelnya salah sehingga sebenarnya tidak mewakili pendapat populasi. 

Kesalahan di sini bisa karena tidak sengaja maksudnya karena kesalahan metodologi. Tetapi bisa juga kesalahan itu disengaja karena ingin mengarahkan hasil survai kepada kehendak si penyelenggara survai, bisa karena hal itu atas dasar "pesanan" atau yang membiayai survai.

Ketiga, kredibilitas lembaga survai yang menyelenggarakan survai. Hasil survai yang bisa dipercaya tentu diselenggarakan oleh lembaga survai yang bisa dipercaya (kredibel). 

Asosiasi Lembaga Survai Indonesia yang diketuai Prof Hamdi Muluk sudah mengeluarkan sertifikasi tentang lembaga survai yang kredibel. Jadi kalau mau menilai hasil survai, lihatlah lembaga survai itu apakah sudah tersertifikasi atau belum. 

Cara lain melihat kredibilitas lembaga survai adalah melihat rekam jejaknya dari berbagai survai yang dilakukan. 

Setahu penulis Median pernah meleset dalam memprediksi dua peristiwa yaitu pertama ketika mengatakan bahwa selisih suara antara Jokowi-Maaruf dengan Prabowo-Sandi di Pilpres lalu hanya 9 persen ansementara lembaga survai lain mendekati kenyataan memprediksi selisih suara itu sekitar 20 persenan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun