Gayahidup

Penguasa Jalan Raya

16 Januari 2018   16:49 Diperbarui: 16 Januari 2018   16:58 467 0 0

Suatu kali saya pernah berjalan dari terminal laladon sampai balik ke asrama Sylvapinus bersama teman saya sebut saja namanya kabel. Bagi kalian yang belum tahu daerah bogor dan IPB jarak antara terminal laladon sampai ke asrama (saya lihat di aplikasi ojek onlne) itu sekitar 7,2km.  Bukan karena tidak ada uang atau atau apa, motivasi ingin berjalan kaki adalah ingin. Tak ada sebab khusus ataupun lainnya, ketika terpikirkan ingin berjalan lalu kami sepakat 'ya mari kita lakukan', hanya begitu. Menghiraukan pertimbangan bahwa nanti ada rapat lpj asrama dari jam 9-12 malam tanpa menakar energi kami yang telah digunakan dari pagi hingga petang ini untuk acara observasi burung di  Suaka Margasatwa.

7,2 km tak seberapa jauh sebenarnya, bergantung pikiran menaggapinya bagaimana, bahkan dalam praktiknya kami berjalan sejauh itu  tak terasa jauhnya. Tipsnya adalah mengobrol, jangan beri kesempatan otak mengeluh sekalipun kaki jenuh asam laktat. Malahan ketika capek di perjalanan bukan capek fisik yang kami dapati, tetapi capek hati. lho kok jadi bawa bawa perasaaan?

Beberapa kali ketika kami berjalan, sering kami dikagetkan dengan klakson dibelakang, dan sering pula kendara motor mendahului kami mepet sampai hampir menyerempet , meskipun kami telah berjalan dipucuk dipingiran. Jalanan adalah milik kendaraan bermotor,trotoar sempit bahkan tidak ada, pengendara tidak menghargai pejalan kaki. Singkatnya  jalanan tidak ramah terhadap pejalan kaki. Saya tidak dihargai jadinya capek hati.

Aturan jika ada 3 pihak dalam pemakaian jalan raya; Mobil/kendaraan besar, sepeda motor dan pejalan kaki. Loh? Tunggu, pejalan kaki memakai jalan raya?  Ya tentu! Lha trotoar untuk berjualan dan parkir kendaraan bermotor, jangan salahkan kami jalan di jalan raya.  kembali lagi, aturan ketika ada pejalan kaki, sepeda motor, dan kendaraan besar di jalan raya maka seharusnya sepeda motor harus mengalah kepada pejalan kaki, dan kendaraan besar mengalah terhadap sepeda motor dan pejalan kaki. 

Dengan kata lain pejalan kaki adalah pemenangnya. Pemenang jalanan harusnya pejalan kaki, atau dengan istilah lain 'sang penguasa' .  Kendaraan bermotor wajib punten punten terhadap pejalan kaki dan memberi keleluasaan bagi mereka berjalan dengan tenang. Tetapi yang terjadi malahan pengendara motor dengan lihai suka menyelap nyelip diamtara kendaraan lainnya  juga jalanan bagi pejalan kaki sekalipun. Pokoknya cepet sampai tujuan

Terlintas begitu saja pikiran saya tiba tiba terpelanting mundur dari dunia yang semakin cepat ini. Rasanya dulu ketika zamannya belum ada hp, akses jalan raya,  ataupun kendaraan bermotor , ketika masih banyak orang berjalan kaki untuk pergi kesuatu tempat, dunia berputar tak sekencang sekarang, sehingga manusia yang berada didalamnya seakan berpergian tanpa ketergesaan.