Mohon tunggu...
Nugraha Wasistha
Nugraha Wasistha Mohon Tunggu... Penulis - Penulis lepas

Penggemar bacaan dan tontonan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Smaradahana Sang Gajah Mada

14 Juni 2021   11:52 Diperbarui: 24 Juni 2021   02:30 767
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar dikutip dari Game Civilization 5/www.kompas.com

Hayam Wuruk bisa memaklumi. Siapa yang tidak ingin mengambil tahta Majapahit? Yang sepeninggal Jayanegara hanya menyisakan seorang keturunan perempuan? Secantik apapun ibunya, tetaplah lebih banyak yang mengincar kekuasaan di belakangnya.

Dan budaya kala itu menganggap gadis dua puluh lima tahun adalah perawan tua. Sebuah sebutan yang nista. Lelaki manapun akan merasa tidak nyaman menikahi perempuan yang demikian. Bisa jadi mereka akan menyingkirkan ibunya setelah mendapatkan tahta.

"Aku memilih Cakradhara justru karena kebeliaannya. Dia masih murni. Belum mengenal kekuasaan. Bahkan belum tertarik pada perempuan. Kami senasib. Aku terpaksa menikah untuk memulihkan nama baik, sementara dia terpaksa karena keinginan orang tuanya."

Hayam Wuruk tercenung mendengarnya. Heran mendapati arah pembicaraan ini. Dia hanya ingin mendengar masalah batin ibundanya. Tapi yang bersangkutan malah bicara berputar-putar. Apa hubungan semua itu dengan......

Tiba-tiba Sang Maharaja terkejab. Sesuatu yang dikatakan ibunya kembali melintas. Membuatnya berpikir keras. Ada yang kedengaran mustahil di sana. Dan itu baru disadarinya sekarang.

"Maafkan hamba, Ibunda," tanya Hayam Wuruk dengan hati-hati. "Tapi hamba rasa Ibunda baru membuat kesalahan. Tidak mungkin ayahanda mendampingi ibunda hanya selama empat tahun. Karena hamba masih bisa bertemu dengannya saat hamba berusia tujuh tahun. Itu mustahil, kecuali......."

Hayam Wuruk terdiam. Kesadaran berbaur kekagetan memancar di sorot matanya.

Tunggadewi memandangnya. Seutas senyum yang lelah tersungging. "Sepertinya kau sudah menyadari sekarang. Memang demikianlah, Anakku. Sesungguhnya Cakradhara bukanlah ayahmu. Engkau sudah berjalan di dunia saat dia menikahiku. Dia mengetahui dan tidak berkeberatan..."

Dengan suara gemetar, Hayam Wuruk memberanikan diri bertanya, "Jadi...jadi siapa sebenarnya ayahku, Ibunda?"

"Apakah kau benar-benar tidak bisa menjawabnya, Anakku?"

Tidak perlu. Ya, Hayam Wuruk menyadari hal itu. Tidak perlu seorang begawan untuk menemukan jawabannya. Semua petunjuk sudah terdengar dan terpampang di hadapannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun