N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Freelance writer

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Daun Bawang dan Cinta yang Kurang Akal

10 Oktober 2018   18:34 Diperbarui: 11 Oktober 2018   22:47 2757 10 3
Cerpen | Daun Bawang dan Cinta yang Kurang Akal
Sumber: Pixabay

Menurutmu, apakah manusia dan daun bawang bisa saling jatuh cinta?

Aku menitipkan pertanyaan pada sepasang kaki yang kokoh, beralaskan sandal gunung, dan sedikit dikotori lumpur. Di sana, aku sematkan pula rasa yang terlalu janggal untuk bersuara.

Sudah dua minggu, aku dan dia berdampingan, namun terpisah oleh sekat kayu lapuk di Pasar Kinanti. Dia di kios buah-buahan, dan aku di kios sayuran. Hanya melalui celah berdimensi 30 sentimeter kali 15 sentimeter yang sejajar dengan pergelangan kaki, aku dapat mengetahui ada siapa saja di kios sebelah.

"Mak, Pak Engkos punya pegawai baru?" Aku bertanya pada Emak, ketika melihat sepasang kaki asing berseliweran di kios 11B.

"Oh, bukan pegawai. Itu anak sulung Pak Engkos dari Tasik. Baru datang bantu-bantu."

"Oh, Kang Rinaldi yang pernah Pak Engkos ceritain?"

"Iya, kamu belum ketemu? Kemarin dia ke sini, kenalan. Mungkin pas kamu lagi ke toilet. Ke sana, gih."

Aku menggeleng. Penasaran, sekaligus takut. Ada debar aneh ketika melihat kakinya yang cokelat muda. Lantas, bagaimana jika melihat wajahnya? Apakah aku akan pingsan saking tampannya? Atau, justru kecewa karena hidungnya berlubang tiga, misanya?

"Ganteng tidak, Mak?" Aku bertanya usil, namun diniatkan sepenuh hati.

"Hah?" Emak tertawa keras, mengacungkan jempol. "Hensem pisan!"

Aku bengong mengartikan reaksi Emak, ikut tertawa malu-malu. Biarlah. Aku lebih baik tidak tahu. Percikan rasa penasaran justru menghidupi hari-hariku yang mati bosan menjaga setumpuk sayuran. Setidaknya, aku jadi punya bahan baru untuk menggosip bersama wortel, kentang, dan kacang panjang.

Ssst, tapi ini rahasia, lho!

Hingga kini, orang-orang tidak ada yang sadar, bahwa aku sebenarnya jelmaan daun bawang. Wujud asliku hijau dan segar. Buktinya, aku punya aroma yang menyeruak. Semerbak yang membuat Emak marah-marah jika aku tidak mandi pagi.

Aneh, ya?

Aku sering melihat Emak memasukkan potongan daun bawang ke dalam sop ayam, telur dadar, dan nasi goreng. Katanya, agar terasa nikmat dan berbau harum. Lalu, kenapa aku disuruh mandi?

"Salahmu sendiri, memaksa menjadi manusia. Mereka itu suka sekali meributkan dan memperebutkan perkara yang fana-fana." Seikat daun bawang malah mengomeliku ketika aku curhat tentang malas mandi dengan sabun batangan yang berbau seperti kuburan. Bunga tujuh rupa.

"Memangnya, kamu tidak ingin kembali menjadi daun bawang?" Sebongkah kentang dalam keranjang bertanya.

Aku hanya diam, memikirkan segala kemungkinan. Tumpukan sayuran ini memang suka asal bicara. Tidak punya otak saja merasa pintar. Mana mungkin aku kembali jadi daun bawang. Keputusan ini sudah final.

Begini, lho. Masalahnya, aku selalu keliru menjatuhkan cinta. Aku tidak pernah jatuh cinta pada daun bawang, brokoli, atau kentang. Aku hanya tertarik pada manusia. 

Tapi, mana mungkin kan, manusia jatuh cinta pada daun bawang? Untuk itulah aku harus jadi manusia juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4