Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu...

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Capcaisin

1 Oktober 2018   07:33 Diperbarui: 3 Oktober 2018   15:50 0 6 5 Mohon Tunggu...
Cerpen | Capcaisin
Sumber ilustrasi: Pixabay

Di atap gedung itulah, segala kisah mereka bermula, lalu berakhir tanpa kata bahagia. Berita duka tentang kepergian ibu Aura. Momen yang melemparkan Aura jauh, jauh sekali dari Cakra.

Tidak merasa perlu menyampaikan alasan, Aura bersikap seolah-olah tak pernah mengenal Cakra.

Selama berbulan-bulan, hanya ada lara di antara mereka berdua. Cakra sempat mengira, Aura membutuhkan kepastian. Tapi, lamaran demi lamaran hanya bersambut dengan penolakan demi penolakan. Cakra mengobati nyeri hatinya dengan bermangkuk-mangkuk sambal buatan Aura yang ia pesan dari Mak Surti.

Untuk satu piring nasi putih dan tempe goreng saja, Cakra membutuhkan tujuh sendok makan sambal terasi. Siapa saja yang melihatnya bisa menebak, hidup Cakra lebih menyakitkan dari sekadar panasnya lidah dan rasa perih di organ-organ pencernaan.

Lelah menghapus Aura, Cakra memutuskan pergi. Berupaya menanggalkan ingatan di bandara.

Ya, sia-sia belaka. Tiga tahun berselang, Cakra masih saja menjadi tokoh dalam mimpi buruk yang kelewat nyata. Sejak menjalankan tugas sebagai abdi negara di Makassar, tidak ada lagi sambal dalam hidupnya. Ada yang hilang. Ada yang kopong dan hampa. 

Dia tidak ingin menerima capcaisin dari sambal lain, atau dari cabai lain. Cakra hanya menginginkan sambal buatan Aura, dari kebun cabai yang dirawat oleh Aura.

Cakra mengambang di tengah-tengah samudera dongeng yang terlalu fana. Mengada-ada, menurut istilah Andre. Sebagai satu-satunya kawan yang mengetahui sepotong cerita tentang Aura, Andre bahkan menganggap Cakra sudah gila. Katanya, cinta bertransformasi menjadi parasit yang memangsa logika.

Semakin parah, Cakra melihat kabar pernikahan Aura pada linimasa Mak Surti. Marah, khawatir, tidak rela, cemburu, merasa dikhianati, entah apa lagi gelombang hitam yang berkecamuk di benak Cakra.

Pada pesawat, kereta, bis, dan becak, Cakra melemparkan perasaannya yang penuh luka menganga. Raga Cakra kalap mengikuti kehendak instingnya yang meliar. Kembali ke kota yang menjanjikan kekecewaan.

Tiba di sana, Cakra seperti memasuki lorong waktu. Tidak ada waktu untuk nostalgia, kaki Cakra melangkah tergesa-gesa. Berkali-kali, ia hampir tersungkur, tersandung bebatuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
KONTEN MENARIK LAINNYA
x