Dahrun Usman
Dahrun Usman Essais, Cerpenis dan Kolomnis

Manuisa sederhana yang punya niat, usaha dan kemauan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Cerpen | The Mafiadin

14 Agustus 2017   10:00 Diperbarui: 14 Agustus 2017   10:12 175 0 0

Semua warga desa gempar dengan kabar penangkapan Adin oleh aparat pada malam Jum'at. Semua terkejut dan bertanya-tanya, apa gerangan tindakan subversive yang dilakukan Adin sehingga dua gelang besi mengunci kedua lengannya. Ayahnya sendiri Saridin yang tinggal di desa sebelah juga terkejut bukan kepalang ketika di SMS oleh kerabatnya. "Mafiadin ditangkap aparat jam 03.00 malam". Mata Saridin berulang-ulang membaca SMS tersebut karena dia tidak percaya anak semata wayangnya yang sehari-hari berprofesi sebagai guru ngaji dan modin desa bisa ditangkap aparat. Tidak mungkin Mafiadin adalah gembong teroris ataupun ISIS, justeru selama ini dia ikut berdakwah supaya jama'ah tidak percaya dan terbujuk masuk menjadi anggota teroris ataupun ISIS.

"Adin ditangkap aparat dengan tuduhan subversive terhadap keamanan dan ketenangan warga desa!," celetuk salah seorang warga. Kemudian seorang warga lain menimpalinya,"Ya. Kemarin saya dengar dari tetangga yang jadi aparat, kalau Adin sekarang sedang di kantor karena memprovokasi para jama'ah supaya tidak mau menerima raskin!. Dalam sebuah ceramah di sebuah acara tahlilan warga beberapa kali suara Adin meninggi,"Raskin itu ngenyek! Raskin itu bagian dari demokrasi terselubung! Raskin tidak revolusioner! Oleh karena itu saudara-saudaraku, jual saja raskin itu pada bangsa lain! Kita tidak butuh. "Dewe ki bongso sugih! Ojo njaluk koyo wong kere!.

Bahkan dalam acara-acara pengajian di masjid, musholla dan acara selamatan rumah warga desa, Adin juga seringkali dituduh memobilisasi para warga dengan mengajak; kembali pada demokrasi thiwul,ekonomi ganyong,dan sosialisme sugih. Sebenarnya sudah banyak warga desa yang mengingatkan Mafiadin agar hati-hati dengan ceramahnya, sebab banyak intel yang masuk ke desa akhir-akhir ini akibat gaya dakwah Mafiadin. Apalagi nama dia sendiri dianggap warga sudah merupakan personifikasi dari perilaku menyimpang; Mafia! Dan Din! Kalau diartikan jamak oleh masyarakat awam menjadi "mafia agama"!. Kalau diplesetkan menjadi si penjual ayat-aat untuk keuntungan pribadi. Ketika kondisi  negara sedang dikepung oleh krisis kepercayaan akibat harga beras naik drastis sementara stok menipis dan mafia beras dituduh sebagai biang keladinya, maka penangkapan Mafiadin menemukan momentumnya.

Banyak intel yang menyamar sebagai jama'ah kemudian ikut pengajian Mafiadin di masjid, acara tahlilan, syukuran dan ketika jaga malam di pos kamling. Sekarang nama dan ketenaran Mafiadin sudah me-ndesa, bahkan mungkin kalau boleh akan disejajarkan dengan mafiaso besar dunia macam Pablo Escobar gembong narkotika Kartel Bogota dari Columbia. Untuk nama yang terakhir ini memang Mafiadin hafal betul sepak terjangnya di dunia bisnis narkotika dunia. Walaupun kalau sedang membicarakannya, kata terakhir yang keluar dari mulutnya; keparat!

Walaupun berlum pernah "mesantren" di Italia, Mafiadin juga sangat mengenal daerah Sisilia di selatan negara Coloseum dan menara Pisa tersebut sebagai ekosistemnya mafia besar di Eropa. Sehingga sangat wajar kalau beberapa aparat menganggap bahwa Mafiadin adalah salah satu anggota bawah tanah sindikat mafia internasional. Bahkan pihak berwajib bergerak cepat untuk menelusuri transaksi keuangan Mafiadin, karena dicurigai banyak menerima transfer uang dari luar negeri atas upaya perdagangan illegal. Padahal menurut pihak yang tidak mau disebut namanya, Mafiadin tidak pernah memiliki nomor rekening bank dimanapun. Termasuk saat ini, Mafiadin dituduh menjadi salah satu mafia beras di desanya oleh aparat. Penolakan terhadap raskin adalah penghinaan terhadap kosntitusi, apalagi dia memobilisasi warga desa untuk menolak raskin.

Sementara itu, tersebar isu kalau seluruh hasil panen warga dibeli oleh Mafiadin dengan harga yang lebih tinggi daripada harga tengkulak, bahkan sebagian warga desa yang tercekik hutang pada lintah darat menjual padinya dengan sistem ijonkepada Mafiadin. Dari bisikan seorang manolpadi dan anak buah bandar beras di desa yang tidak senang pada Mafiadin, akhirnya beberapa intel termakan isu tersebut bahkan tersebar luas juga kalau Mafiadin banyak mempunyai lumbung padi di belakang rumahnya. Bahkan banyak tuduhan dari cukong dan bandar beras yang tidak senang kepadanya, Mafiadin mendirikan masjid dan pesantren dari uang haram. Dia Kyai Kartel! Dia Kyai Kapitalis! Dia Kyai Mafia! Teriak beberapa cukong dan bandar beras di desa.

Harga beras mahal di desa ini akibat sabotase Mafiadin, ganyang Mafiadin! Begitu tulis sebuah spanduk yang terpampang di atas perempatan jalan desa.

Tetapi sebagian aparat dan intel justeru berkeyakinan kalau Mafiadin adalah mafia kelas teri, maling kelas nyamuk, bromocorak kelas kampung atau bahkan kecu alasyang difitnah suka meresahkan warga desa. Sementara sebagian aparat dan intel lain justeru menilai kalau Mafiadin justeru seorang Zoro atau Si Pitung yang menjadi "pahlawan" bagi warga di desa yang sering diperas oleh kaum rente, cukong dan bandar beras kelas kakap yang merambah ke seluruh desa.

Akhirnya aparat dan intel terbelah keyakinannya. Sebab Mafiadin memang orang yang sangat unik, bahaya dan aneh, tetapi sangat gampang kalau mau ditangkap. Sebab dia tidak pernah bersembunyi, tidak punya senjata dan nyaris tidak ada pengawal sama sekali selain jama'ahnya. Bahkan sebagian aparat mencurigai ada gembong mafia sesungguhnya yang selama ini memainkan harga dan memeras warga dan dilindungi oleh kekuatan yang tidak diketahui oleh siapapun.

Di ruang aparat. Beberapa warga yang dijadikan sebagai saksi saat diintrogasi mengaku tidak tahu menahu soal sepak terjang Mafiadin. Warga desa memang sering menjual padi dengan sistem ijon ke Mafiadin tetapi dengan harga yang lebih tinggi daripada harga bandar beras/cukong dan oleh Mafiadin disimpan di lumbung padi belakang rumahnya.

Kebiasaan unik Mafiadin di desa adalah padi-padi yang dibeli dari warga dengan harga tinggi kemudian digiling pada saat musim paceklik tiba, berasnya dijual dengan harga yang sangat murah kepada warga desa. "Jadi tidak mungkin Adin adalah seorang mafia beras di desa ini Pak!,"jawab salah seorang warga ditanya oleh aparat di kantor. "Jangan bohong kamu!,"tanya balik aparat. "Demi Tuhan Pak! Kalau Adin seorang mafia beras, tembak saja saya sekarang!. Para saksi bersikeras bahwa Adin bukanlah seorang mafia beras.

Tetapi aparat tidak mau kehilangan pamornya, dalam pandangan hukum sekecil apapun pelanggaran yang dilakukan Adin dianggap sebagai tindakan subversive dan anti kemapanan. Para saksi dipersilahkan pergi meninggalkan kantor, sementara Adin masih meringkuk menjadi pesakitan di sebuah sel dekat dengan lorong menuju toilet. Wajahnya dingin, gestur dan gerakan tubuhnya sangat tenang, sebesar dan sekuat apapun ancaman subversive yang dialamatkan padanya tidak seberat ancaman Tuhan diakherat nanti. Dan itu yang diyakini oleh Adin.

Waktu terus berlalu. Nasib Adin yang masih menjadi pesakitan di sel aparat dengan tuduhan sebagai mafia beras mulai terkikis oleh siklus angin desa yang selalu berganti. Kini musim tanam padi telah berganti menjadi musim paceklik. Hampir semua warga desa sudah tidak punya lagi cadangan padi di lumbungnya, hukum ekonomi pendauduk desa adalah; besar pasak daripada tiang; maklum semua kebutuhan keluarga sumbernya dari padi. Bayar pajak jual padi. Bayar sekolah anak jual padi. Memenuhi kebutuhan sehari-hari juga jual padi. Akhirnya ketika musim tanam padi selesai dan menunggu panen hujan tidak turun sama sekali sehingga singgahlah kemarau panjang, akibatnya padi puso; gagal panen merambah seluruh desa.

Alhasil harga padi yang tinggi diikuti oleh harga beras yang membumbung tinggi juga. Warga desa menjerit tidak berdaya. Rentenir bergentayangan setiap hari ke luar masuk desa. Mereka mengeruk keuntungan dari penderitaan warga desa yang terjepit oleh kebutuhan hidup; memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk keuntungan maksimal. Itulah prinsip ekonomi kaum rente yang kian canggih di zaman sekarang ini. Sementara nasib petani kecil di desa tidak pernah canggih-canggih dari zaman orla, orba maupun reformasi.

Dalam kondisi seperti ini, akhirnya warga sangat merindukan sekali kehadiran Adin. Tahun-tahun sebelumnya kalau musim paceklik tiba. Keluarga besar Mafiadin menggiling semua padinya di lumbung kemudian berasnya dijual murah kepada warga desa; bukan oprasi pasar seperti sekarang ini namanya. Warga menyebutnya; Krubukan Murah! Tetapi musim paceklik sekarang tidak ada lagi kegiatan itu. Penyebabnya satu. Adin alias Mafiadin sampai sekarang masih ditangkap aparat dengan tuduhan subversive! Dan melanggar kebijakan negara.

Warga berontak tetapi tidak berdaya sama sekali. Kian hari hidup warga desa kian berat. Sementara kaum rente semakin kuat mencekik leher ekonomi warga desa. Kabar tentang kesalahan Adin sebagai mafia besar juga tidak pernah terungkap. Belakangan justeru tersebar isu kalau Adin adalah seorang mafia agama! Dia menjual ayat untuk kepentingan pribadi. Dia menjual agama untuk membangun rumah! Bahkan dia menjual ummat untuk kepentingan politik agar dia dipilih menjadi kepala desa tahun depan!

Nasib Adin alias Mafiadin semakin terpuruk. Belum lagi delik pasal yang menjeratnya sebagai seorang mafia beras dan melakukan subversive terungkap. Kini dia dihadapkan pada satu pasal lagi yaitu menjual ayat dan ummat. Sementara mafia beras sesungguhnya yang menjadi sumber malapetaka warga desa sampai saat ini tidak pernah tersentuh oleh siapapun termasuk aparat. Dan entah di mana dia berada.

Dari pinggiran desa terdengar sayup-sayup lagu dangdut yang diputar warga;Yang benar dipenjara/yang salah tertawa/sungguh mata dunia memang tak sempurna/oooooh begitulah dunia/

 

Cilame, Maret 2015.

  • Dewe ki bongso sugih! Ojo njaluk koyo wong kere(Kita ini bangsa kaya. Jangan meminta seperti orang miskin).
  • Manol(pedagan beras keliling)
  • Kecu alas(pembuat onar/perampok kelas kampung)
  • Krubukan murah(jual beli beras dengan murah)
  • Ngenyek(menghina)
  • Sugih(kaya)
  • Ganyong(sejenis umbi-umbian)