Mohon tunggu...
Nurmitra Sari Purba
Nurmitra Sari Purba Mohon Tunggu... Statistician

Menulis untuk mencerdaskan diri sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pendidikan sebagai Kunci Penguatan Peran Perempuan

22 Juni 2020   22:50 Diperbarui: 1 Agustus 2020   19:27 50 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan sebagai Kunci Penguatan Peran Perempuan
Sumber gambar: unsplash.com

Ternyata dibanding laki-laki, menurut data dari BPS, lebih banyak perempuan yang pendidikannya berakhir di Perguruan Tinggi. Terlepas dari fakta tersebut sebenarnya saya merasa bahwa hal itu diakibatkan oleh tuntutan dunia pekerjaan. Perempuan gigih untuk kuliah demi mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi. 

Namun, sekarang kita lihat banyak lulusan perguruan tinggi tapi menganggur. Pasti akan muncul pertanyaan, buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi tapi akhirnya nganggur? Sia-sia bapak banting tulang untuk nguliahin kamu, nak!.  Belum lagi, kalau sudah menikah kemungkinan akan berhenti kerja juga.

Sumber data: Badan Pusat Statistik
Sumber data: Badan Pusat Statistik

Kesimpulannya, perempuan gak usah kuliah.

Benarkah seperti itu cara berpikirnya?

Dari zaman dahulu, perempuan cenderung dianggap sebelah mata oleh kebanyakan orang. Banyak anggapan perempuan tidak perlu menyandang gelar pendidikan yang terlalu tinggi. Di sisi lain, perempuan sering menjadi korban kekerasan maupun pelecehan seksual. Untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, maka pada tahun 1975 PBB menetapkan tanggal 8 Maret sebagai hari perempuan internasional.

Berbicara mengenai perempuan yang sering dipandang sebelah mata, lantas bagaimana agar perannya tidak disepelekan orang lain? Pendidikan adalah jawabanya. Meskipun pada kenyataanya, tidak sedikit para orang tua yang menyepelekan pendidikan bagi anak perempuannya. Dan seperti yang saya singgung di awal, buat apa sekolah tinggi-tinggi, ngabisin biaya, ujung-ujungnya paling balik ke dapur sama ngurus anak. Terkadang ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan tersebut juga terjadi pada perempuan itu sendiri.

Mindset tersebut salah besar, kenapa? Karena, perempuan adalah orang yang paling berpengaruh untuk membangun generasi berikutnya, dalam berkeluarga perempuan pun dituntut untuk bisa dalam segala hal. Memberikan pendidikan yang layak untuk perempuan bukan untuk melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu atau untuk menyaingi laki-laki, namun untuk membangun generasi yang handal, berpikiran luas dan kreatif yang pada intinya untuk membantu menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Penyair ternama Hafiz Ibrah berkata dalam syairnya: 

“Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. 

Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya, jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya. Dari syair ini dapat kita tangkap bahwa perempuan, yang nantinya akan menjadi seorang ibu, merupakan sekolah pertama pada setiap generasi baru yang lahir, generasi yang akan menjadi pemimpin bagi bangsa. Pelaksanaan pendidikan tanpa melibatkan kaum perempuan sama saja dengan melanggengkan kebodohan bagi generasi selanjutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x