nsuprihati
nsuprihati

Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Filosofi Kopi dalam Selembar Batik Gemawang

15 Juli 2017   20:12 Diperbarui: 15 Juli 2017   20:14 775 1 0
Filosofi Kopi dalam Selembar Batik Gemawang
Filosofi Kopi dalam Selembar Batik Gemawang (dok pri)

Menikmati selembar batik selalu menghadirkan aneka rasa. Melihat ceceg demi ceceg yang ditorehkan pembatik dengan canting dan aroma lilin malam, menegaskan makna batik (mbaka satitik, mbaka sathithik), setitik demi setitik juga sedikit demi sedikit, menghargai suatu proses bukan hanya hasil yang bersifat instant.

Mampir sejenak di Kopi Banaran di ruas jalan raya Semarang-Yogya antara Ambarawa dan Magelang, pengunjung dapat menikmati etalase batik cantik lengkap dengan mbakyu pembatiknya. Batik Gemawang adalah batik yang dihasilkan oleh komunitas perajin batik yang bernaung di bawah panji Nyi Ageng Pandanaran di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Salah satu ciri khas batik Gemawang adalah pola kopi, selembar batik yang mengangkat potensi lokal daerah setempat.

Batik Gemawang motif daun kopi

Batik Gemawang motif daun kopi (dok pri)
Batik Gemawang motif daun kopi (dok pri)

Daun adalah bagian tanaman yang bertugas melakukan fotosintesis, ibaratnya dapur yang memasak bahan mentah menjadi makanan yang siap didistribusikan ke aneka bagian tanaman yang lain. Daun kopi yang melakukan tugasnya dengan mendukung munculnya bunga kopi yang akhirnya menjadi buah dan biji kopi yang bernilai tinggi.

Daun kopi selalu mengungkit rasa trenyuh syukur di hati saya. Saat berkunjung ke Sumatera Barat salah satu kuliner yang sayang kalau tidak dicoba adalah Aia Kawa, minuman yang diseduh dari daun kopi yang dilayukan, memiliki aroma yang khas apalagi disajikan dalam mangkuk bathok alias tempurung kelapa. Konon dulu kala, hasil panen kopi harus disetorkan kepada pemerintah Belanda dan Urang Minang sang empunya hasil bumi sementara harus puas menikmati minuman dari daun kopi. Kearifan lokal Urang Minang memaknai khasiat kesehatan dari seduhan daun kopi membuat minuman ini tetap lestari hingga kini. Begitupun kebun kopi Banaran di daerah Gemawang, kalau pengunjung ke museum kopi di belakang resto akan mendapati produk Dakobar (Daun Kopi Banaran) hasil fermentasi daun kopi lengkap dengan fakta nutrisinya.

Perajin batik Gemawang tidak melupakan peran daun kopi. Meski bukan hasil utama daun kopi, jasa daun kopi diingatnya dan menjadi motif batik yang segar. Pengingat daun kopi yang berbagi nutrisi gizi dalam kehidupan.

Batik Gemawang motif kembang kopi

Batik Gemawang motif kembang kopi (dok pri)
Batik Gemawang motif kembang kopi (dok pri)

'Kembang kopi arane.....' 'blanggrng' (bunga kopi disebut blanggreng) demikian kenangan pelajaran bahasa daerah Jawa yang kami dapat saat SD. Salah satu kekhasan bahasa daerah Jawa adalah sebutan berbeda untuk nama bunga setiap jenis tanaman.

Bunga kopi berwarna putih bersih dengan aroma yang sangat harum. Musim kopi berbunga adalah salah satu saat yang sangat menyenangkan bagi warga sekitar perkebunan kopi. Angin menghantarkan keharuman bunga kopi yang khas hingga ratusan meter dari hamparan. Sayangnya musim berbunga sangat singkat, segera bunga kopi layu dan gugur dan meninggalkan bakal buah yang nantinya menghasilkan biji kopi.

Perajin batik Gemawang mendokumentasikan kembang kopi menjadi salah satu varian motif batik kopi. Setiap penikmat batik Gemawang motif kembang kopi diingatkan bahwa masa mekar tidaklah lama, membagikan keharuman wangi kembang kopi adalah dharma tanaman kopi dan saat kembang kopi gugur saatnya meninggalkan bakal buah. Setiap kita bebas menafsir analoginya dalam kehidupan.

Batik Gemawang motif biji kopi

Batik Gemawang motif biji kopi
Batik Gemawang motif biji kopi

Biji kopi adalah bagian tanaman yang bernilai ekonomi paling tinggi. Perjalanan panjang dilalui oleh biji kopi untuk mempersembahkan bubuk kopi yang dirindu penikmatnya. Mulai dari proses pengelupasan basah, pengelupasan kering hingga harus rela masuk ke dalam sistem pencernakan musang alias luwak. [bukankah harga kopi luwak begitu tinggi] Sang biji harus melalui proses disangrai hingga dikuliti cangkangnya. Panas dan tekanan tinggi dilewati demi menghasilkan bubuk kopi.

Belum selesai, untuk menguji keharuman aroma kopi sang bubuk harus rela diseduh air panas. Konon semakin panas air seduhan semakin wangi aroma kopinya. Tak heran salah satu filosofi kopi adalah semakin menguar keharumannya oleh siraman air panas. Pribadi kopi adalah pribadi yang tahan tekanan, yang mewangi oleh aneka ujian tekanan dan panas.

Perajin batik Gemawang melukiskan filosofi biji kopi ini dalam salah satu motif batik yang dikerjakan. Sambil menorehkan cantingnya pembatik melukiskan harapannya akan penghargaan penikmat batik atas kerja keras dan proses panjang menghasilkan selembar batik tulis. Lantunan doa yang sama kiranya keharuman kopi menguar dari pribadi pemakainya. Kearifan lokal pengungkit wisata dalam selembar batik.

Filosofi Kopi dalam Selembar Batik Gemawang, Anda berminat mencicipnya. Salam harum kopi

 Salatiga, 15 Juli 2017