Mohon tunggu...
Suprihati
Suprihati Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar alam penyuka cagar

Penyuka kajian lingkungan dan budaya. Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Kartini Kompasianer Kontekstual Keren

10 April 2021   10:50 Diperbarui: 10 April 2021   12:11 385
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrani Kartini Kompasianer (sumber gambar dari Kompasiana.com)

Menjiwai semangat Kartini bukan sebatas seremoni. Kontekstualisasi Kartini upaya menghidupi perjuangannya. Kartini melakoni pembelajaran daring. Sosok yang bertindak lokal berpikir global. Eh beliau juga Kompasianer kontekstual keren. Ini ceritanya.

Kartini melakoni pembelajaran daring

Kartini kelahiran Jepara 21 April 1879, sungguh bocah perempuan dan perempuan muda yang luar biasa pada zamannya. Memiliki pancaran naluri rasa ingin tahu yang meluap. Kepo istilah kekiniannya.

Pendidikan formal ditempuhnya hingga usia 12 tahun, sebelum memasuki masa pingitan. Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Kesetaraan saat ini senada usia lulus Sekolah Dasar (SD). Apakah kemampuan Kartini terpatok oleh capaian pembelajaran usia tingkat SD? Kapabilitas menabrak batas pendidikan formal.

Rasa ingin tahu yang tidak semua mampu ditampung di hati dan pikirannya. Memenuhi membuat nyesek jiwanya, overthinking mungkin kini sebutannya. Namun beliau tidak berhenti pada galau.

Keingin tahuan, rasa prihatin yang mencoba dicari celah jalan keluarnya. Beliau mencari jawaban melalui bertanya jawab. Membaca aneka sumber pengetahuan. Hingga aktif berkomunikasi bersuratan. Tidak selalu direspon positif pertanyaan dan gagasan beliau. Tidak menyerah kala dighosting pastinya.

Masa pingitan adalah masa sekolah Kartini secara mandiri. Tanpa tatap muka pendampingan oleh guru. Kartini memperkaya batin dengan mencari dan menikmati sumber belajar tatap muka. Nah kan Kartini menjalani masa pendidikan model 'daring' pada zamannya.

Bukan masalah daring dari sisi teknologi. Pembelajaran daring dari sisi filosofi mandiri siswa aktif belajar. Menjadikan aneka sumber belajar sebagai patron gurunya. Buku, majalah, koran hingga korespondensi adalah sarana belajar mandiri.

Bertindak responsif tidak melulu reaktif. Berperilaku sesuai budaya zamannya melalui interaksi sesama perempuan. Apabila muncul sebutan feminis tergantung pelabelan kita. Perempuan sebagai media beliau berkarya. Kerangka besarnya memanusiakan manusia seutuhnya.

Memanfaatkan teknologi informasi komunikasi (TIK) pada zamannya. Bukan hanya mengandalkan budaya dengar tutur. Merambah ke area baca tulis. Surat kabar, majalah hingga bersurat lokal, nasional hingga internasional. Padanannya kini, beliau tidak asing dengan surel (email), buku elektronik (ebook), pun siniar (podcast).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun