Mohon tunggu...
Suprihati
Suprihati Mohon Tunggu... Pembelajar alam

Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Mencecap Budaya Karo di Gereja Inkulturatif Berastagi

29 September 2020   19:00 Diperbarui: 2 Oktober 2020   03:32 392 57 25 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mencecap Budaya Karo di Gereja Inkulturatif Berastagi
Gereja inkulturatif berarsitektura Karo di Berastagi. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Berastagi memiliki kemiripan dengan Bali. Apanya? Sesama dimulai dengan huruf B? Bukan. Sering orang luar lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Begitupan banyak orang lebih mengenal Berastagi dibanding Karo. Yup, Kecamatan Berastagi bagian dari wilayah Kabupaten Karo.

Lansekap Berastagi yang bergunung dan berhawa sejuk menjadi kawasan wisata dan peristirahatan. Nah saat berkunjung ke Berastagi, pandang terpikat dengan bangunan anggun menjulang bernuansa etnik. Pikiran bawah sadar memerintah mulut bersuara, minta tolong balik ya Bang.

Gereja Katolik Inkulturatif Karo, St. Fransiskus Asisi Berastagi, demikian tertulis di plang penanda depan. Berada tepat di tepi jalan besar (raya) lintas Karo - Medan tepatnya di jalan Letjen Djamin Gintings. Setiap pelintas tentu akan melihat kemegahannya.

Penanda gereja inkulturatif Karo di Berastagi. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Penanda gereja inkulturatif Karo di Berastagi. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Rumah ibadah... apakah diizinkan masuk ya? Seseorang yang sedang berada di dekat pintu masuk dengan ramah mengangguk dan memberikan isyarat mengundang.

Mulut hampir ternganga, mata melebar memandang kesatuan bangunan dan alam yang luar biasa apik. Ada bangunan megah berpenanda Rumah Gugung Tirto Mejiho. Berupa rumah panggung, kami juga dipersilakan kalau hendak melongoknya. Penelusuran menunjukkan ini adalah replika rumah adat Batak Karo.

Rumah Gugung di kompleks gereja inkulturatif Karo, Berastagi. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Rumah Gugung di kompleks gereja inkulturatif Karo, Berastagi. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Hamparan luas rumput menghijau rapi dengan aneka bebungaan berada di depan bangunan gereja. Kepala mendongak, mata memicing melebar bergantian mengagumi apiknya arsitektura bangunan gereja. Ketinggian bertingkap-tingkap. Serapan budaya lokal arsitektura Karo.

Penasaran, pastinya setiap ornamen memiliki makna, perpaduan antara budaya dan religi. Memenuhi keramahan undangan petugas, kami menapaki teras gereja. Sambutan tulisan Mejuah-juah. 

Hanya sejenak melongok ke dalam ruang ibadah yang luas hampir tanpa sekat dan berlangit-langit sangat tinggi. Tentunya akan menopang kenyamanan dan kekhusyukan saat beribadah.

ruang ibadah di bangunan alamiah ekologis. (Foto: Dokumentasi pribadi)
ruang ibadah di bangunan alamiah ekologis. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Lanjut menyigi bagian tembok pagar depan. Jalan salib yang setiap perhentiannya disajikan tulisan bahasa daerah. Teringat hal senada di gereja Ganjuran, Bantul dengan arsitektura bangunan Pendapa dan jalan salib dengan panduan aksara Jawa.

Pengejawantahan inkulturatif, budaya religi Katolik yang dipadukan dengan budaya dan tradisi khas Sumatera Utara, khususnya budaya Karo. Bangunan rumah adat Batak Karo menginspirasi arsitektura Gereja St. Fransiskus. Kokoh, artistik, unik.

Narasi bahasa Batak Karo di setiap perhentian jalan salib. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Narasi bahasa Batak Karo di setiap perhentian jalan salib. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Mencari data pendukung, gereja ini diresmikan pada 20 Februari 2005 bertepatan dengan misa agung oleh Mr Pius Dabtubara. Dimensi bangunan gereja inti, memiliki lebar bangunan mencapai 24 meter, panjang sekitar 32 meter dan tinggi 35 meter. Terbayang kan proporsi menjulang tingginya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN