nsuprihati
nsuprihati

Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Hijau Artikel Utama

Pabrik Pupuk di Lahan Petani, Mengapa Tidak?

1 Maret 2018   21:07 Diperbarui: 4 Maret 2018   18:52 1852 17 12
Pabrik Pupuk di Lahan Petani, Mengapa Tidak?
Pabrik Pupuk di Lahan Petani, Mengapa Tidak? (dok pri)

Pabrik pupuk di lahan petani? Mungkinkah? Bukankah selama ini petani menjadi pelanggan pabrik pupuk, menerima formula jadi dan tetiba menjadi owneralias pemilik sekaligus manajer pabrik pupuk sendiri. Pabrik-nya pun sungguh berada di lahan petani.  Mari simak paparan berikut ini.

Petani dan Pupuk

Ketergantungan petani akan input pupuk dalam kegiatan usaha taninya semakin terasa. Tuntunan peningkatan produktivitas, kontinyuitas produk menyebabkan meningkatnya intensitas penggunaan lahan dan pengurasan hara dari dalam tanah. Tanpa penambahan input pupuk yang memadai pada gilirannya akan terjadi kemunduran kesuburan tanah.

Begitu banyak sumber pupuk penyedia hara alami yang berada di sekitar lahan petani. Mengacu prinsip LEISA Low External Input for Sustainable Agriculture, input eksternal rendah untuk pertanian berkelanjutan, kita bisa memaksimalkan peran input internal sesuai dengan karakteristik khas daerah setempat. Ya, semacam pabrik pupuk di lahan petani. Berikut adalah aneka model pabrik pupuk di lahan petani.

1. Azolla di sawah petani

Azolla, pabrik pupuk di sawah (sumber: agri farming)
Azolla, pabrik pupuk di sawah (sumber: agri farming)

Azolla pinata alias paku air tawar, berwarna kehijauan mengapung di persawahan. Tumbuhan ini bersimbiosis dengan mikroorganisme bakteri Anabaena azollae yang mampu memfiksasi nitrogen dari udara bebas. Prinsip ini diadopsi oleh pabrik pupuk nitrogen. Jumlah hara yang disumbangkan oleh kerjasama A. azollae dan A. pinata ke dalam tanah sawah lumayan banyak dan mengurangi penggunaan pupuk pabrikan. Dari beberapa telaah, kemampuan Azolla menyumbang pupuk hingga mendekati sepertiga kebutuhan pupuk.

Saat para petani menginjak-injak paku air tawar ini dan memasukkannya ke dalam tanah, beliau sedang memanen hasil pabrik pupuk nitrogen. Beliau menjadi pemilik dan manajer pabrik pupuk nitrogen di lahannya sendiri, pabrik pupuk tanpa membayar pajak dan menggaji pegawai cukup menjaga hubungan baik-baik saja dengan Azolla si paku air tawar. Kalau petani menyebutnya memakai pupuk hayati, bukan saja karena pabrik pupuk-nya berada di sawah ibu Hayati, namun juga melibatkan peran mikroorganisme alias biofertilizer.

2. Jerami di sawah petani

Tumpukan jerami eksotik ala Desa Andong, Boyolali (dok pri)
Tumpukan jerami eksotik ala Desa Andong, Boyolali (dok pri)
Saat panen padi adalah masa yang menggembirakan. Sebagian petani menumpukkan jerami dan menyusunnya menjadi semacam piramid eksotik di beberapa titik sawah, seperti yang saya lihat di Desa Andong, Kabupaten Boyolali. Beberapa bahkan menambahkan mikroba perombak jerami sehingga lebih cepat terurai menjadi pupuk kompos. Panenan kompos ini menjadi pupuk pada penanaman berikutnya yang disusul dengan tumpukan jerami baru lagi.

Para petani sungguh arif, beliau menerapkan prinsip mengambil dan mengembalikan ke dalam bumi. Hasil analisis menunjukkan bahwa jerami padi ini kaya akan unsur Kalium. Dengan menumpuk, membusukkan dan kemudian mengembalikan kompos jerami ke dalam tanah para petani sedang memanen hasil pabrik pupuk kalium.  di sawahnya sendiri.  Beliau menjadi pemilik dan manajer pabrik pupuk kalium di lahannya sendiri, kalau ditanya merek dagangnya apa? Jawabnya, rasah utang rasah mbayar, tidak usah berhutang, tidak perlu membayar.

3. Pangkasan Tithonia diversifolia dan lahan sayur

Paitan - T. diversifolia (dok pri)
Paitan - T. diversifolia (dok pri)

Lain lagi dengan model petani sayuran. Beliau bisa menggunakan pangkasan tanaman Tithonia diversifolia, alias the tree marigold, Mexican tournesol, Mexican sunflower, Japanese sunflower  atau paitan yang banyak tumbuh di pagar pembatas lahan ataupun pinggiran tebing sungai. Tanaman yang termasuk perdu gulma ini memiliki perakaran dalam dan menyebar sehingga sering digunakan sebagai penguat tebing. Lah pangkasannya yang berdasarkan analisis cukup kaya akan beberapa unsur hara semisal K bisa digunakan untuk pupuk tanaman sayuran. Model ini banyak dikembangkan di Kenya Afrika dan India.

Penamaan unik oleh masyarakat desa Tlogolele, kecamatan Selo di lereng G. Merapi, mereka menyebutnya crobo (bahasa jawa, artinya ceroboh). Kami suka mengambil sari pembelajarannya, lah kalau tanaman T. diversifolia eh si crobo saja tidak ceroboh menjaga bumi, mengapa kita yang suka ceroboh memelihara kelestarian bumi? Saat petani membenamkan pangkasan T. difersifolia ke lahannya, beliau juga sedang memanen hasil pabrik pupuk lokal merk 'crobo yang tidak ceroboh'.

4. Budidaya lorong penyedia bahan organik

Alley cropping - budidaya lorong (sumber: National Farmers Union)
Alley cropping - budidaya lorong (sumber: National Farmers Union)

Ada lagi model budidaya lorong atau alley cropping. Penanaman dilakukan diantara jajaran pagar tanaman. Tanaman pagar yang digunakan biasanya yang cepat tumbuh dan tahan pangkas, semisal tanaman Gliricidae atau gamal alias ganyang mati alang-alang. Tanaman yang diusahakan bisa beraneka mulai dari tanaman pangan jagung dan kacang-kacangan hinga tanaman sayuran. Secara berkala petani memangkas pagar tanaman dan hasil pangkasannya untuk memupuk tanaman yang diusahakan.

Hijauan pangkasan ini menambah kesuburan tanah semisal, gliricidae kaya dengan unsur nitrogen sehingga dapat mengurangi penggunaan input dari luar. Kalau ada pepatah pagar makan tanaman, ini malah sebaliknya, pagar menjadi pabrik pupuk di lahan petani. 'Menggunakan pupuk cap apa, Pak? 'Ini pupuk cap pagar' demikian seloroh petani.

Berdasarkan empat contoh dalam paparan di atas, terlihat bahwa petani memiliki kemampuan menyediakan sendiri pupuk yang dibutuhkannya, entah mencukupi seluruh kebutuhan atau setidaknya mengurangi sebagian kebutuhan. Penerapan prinsip LEISA yang bersendikan muatan lokal. Pabrik pupuk di lahan petani, mengapa tidak?


Catatan: artikel penyemangat bagi para teruna kebun yang sedang bersama belajar menulis di kompasiana.