nsuprihati
nsuprihati

Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

"Nggege Mangsa" dan Pentingnya Pengendalian Diri dalam Hidup

11 Januari 2018   09:46 Diperbarui: 11 Januari 2018   19:04 998 8 4
"Nggege Mangsa" dan Pentingnya Pengendalian Diri dalam Hidup
Nggege mangsa hanya akan membawa kecemasan (dok pri)

Quote yang tertera di kalender meja menampakkan pesan 'Keserakahan merengkuh hari esok menjadi hari ini hanya akan membawa kecemasan'. Teringat akan nasihat para sesepuh 'Aja nggege mangsa' alias jangan mendahului waktu. Nggege mangsa hanya akan membawa kecemasan yang menjauhkan diri dari rasa tentram.

Belajar tidak nggege mangsa dari buah chesnut

Pembelajaran alam tentang pantangan nggege mangsa dari kebun, bisa dilihat dari buah chesnut atau buah Sarangan, buah berangan (Malaysia), kuri (Jepang). Buah tanaman yang termasuk genus/marga Castane atau Castanopsis dan terpengaruh dari Bahasa Belanda, biasa juga disebut sebagai buah kastanya.  Buahnya berupa cupak (buah berkulit duri tajam) yang berperan sebagai penjaga, saat buah masih muda duri tajamnya bisa melukai tangan. Duri tajam tersebut seolah isyarat, jangan dekati aku, belum waktunya aku dipanen.

Kemudian memecah setelah tua dan biji berserakan di bawah pohon kita tinggal mengumpulkannya. Penyelenggaraan Illahi yang sungguh indah, betapa setiap titah diajarkan untuk bersabar tidak nggege mangsa, biarkan buah dan biji berproses secara alami setelah siap disantap dia memberikan dirinya secara mudah. Biji dengan kandungan gizinya yang kaya protein nabati dan lemak tak jenuh menjadi sarana kemakmuran bersama. Biji yang memecah sebagian melenting ke tempat yang tak terjangkau oleh pengumpul dan secara alami akan tumbuh menjadi tanaman muda, pengaturan populasi agar tidak punah.

Nggege Mangsa dan Pengendalian Diri

Nggege mangsa keserakahan merengkuh hari esok menjadi hari ini erat berkaitan dengan pengendalian diri. Keterburuan yang melupakan kapasitas diri. Nasihat untuk tetap mengenakan pengendalian diri dalam mencapai maksud ataupun cita-cita tertentu. Tanpa pengendalian diri, rasa nggege mangsa ini rawan dengan tergelincir pada keinginan untuk menghalalkan segala cara. Pengendalian diri membuat orang menghargai proses bukan hanya terfokus pada pencapaian tujuan. Keterburuan membuat jiwa dan tubuh merespon dengan tergopoh, rasa tidak tenang alias kemrungsung, hanya akan membawa kecemasan yang berlebih.

Nggege Mangsa dan Relasi Sosial

Setiap kita tercipta sebagai makluk sosial, terikat dalam relasi sosial secara harmoni. Nggege mangsa merengkuh hari esok menjadi hari ini, menyegerakan pencapaian tujuan pribadi berpotensi menabrak pakem relasi sosial. Bermula dari sedikit senggol sana-sini, memupuk rasa permisif tidak apalah sedikit melukai kawan dan berpeluang kehilangan kepekaan rasa empati sosial. Kata nggege mangsa berkonotasi negatif dengan jalan pintas, melanggar ketentuan normatif, memunculkan bibit kecemburuan sosial.

Pernyataan nggege mangsa tidak hanya milik individu perseorangan, bisa saja menjadi rasa komunitas ataupun kelompok/golongan. Sinergi rasa ini menghasilkan energi gejolak yang lebih tinggi sambil menggelinding terjadi benturan antar individu dengan daya ungkit kecemasan yang lebih tinggi.Terganggunya relasi sosial yang tidak hanya membawa kecemasan pribadi namun merambah menjadi kecemasan sosial.

Nggege Mangsa dan Relasi dengan Alam

Belajar dari buah chesnut, sikap tidak nggege mangsa mendapat dukungan positif dari alam. Pohon melontarkan bijinya secara alamiah dan manusia tinggal mengumpulkan biji masak siap olah saja. Ketidakserakahan dikawal secara alami dengan biji terpelanting ke tempat tersembunyi dan akan tumbuh menjadi tumbuhan baru untuk menjamin keberlanjutan penyediaan pangan.  

Rasa nggege mangsa, keserakahan merengkuh hari esok menjadi hari ini, berpotensi merusak relasi dengan alam. Pencapaian tujuan dengan eksploitasi sumber daya alam melebihi daya dukung alam. Terganggunya relasi dengan alam mengundang kecemasan ekologis yang berdampak lokal hingga global.

Nggege Mangsa dan Relasi dengan Pencipta

Sebagai pribadi setiap kita selain terikat dalam relasi sosial, relasi dengan alam juga ada dalam relasi dengan Sang Pencipta. Pernyataan eksistensi diri, sebagai bagian titah bersama dengan sesama dan alam akan tunduk pada penataan sang Pencipta. Merancang mangsa dengan kekuatan pribadi meniadakan izin Pencipta. 

Falsafah mbudidaya linambaran nyenyuwun marang Gusti, berupaya menggapai cita berlandaskan permohonan kepada Tuhan, wujud pernyataan manusia yang terikat dalam relasi dengan Pencipta. Nggege mangsa keserakahan merengkuh hari esok menjadi hari ini, mulai mengusik relasi dengan Pencipta, melahirkan kecemasan krisis identitas, menumbuhkan benih prasangka buruk pada penyelenggaraan Illahi.

Pengingat untuk tidak nggege mangsa, keserakahan merengkuh hari esok menjadi hari ini, berkenaan dengan etika dan filsafat manusia. Nggege mangsa yang mengait pada setiap aspek kehidupan semisal proses penyembuhan dari sakit, keberhasilan studi, kenaikan pangkat maupun jabatan. Melekat dengan sikap hidup yaitu pengendalian diri dan pernyataan jati diri sebagai individu, relasi sosial, relasi alam dan relasi dengan Pencipta. Sebuah pengingat bahwa 'Keserakahan merengkuh hari esok menjadi hari ini hanya akan membawa kecemasan'. Selamat berproses.

Bagian dari pengingat diri. Salatiga, 11 Januari 2018 (tidak berhasil menyematkan huruf e taling, e pada nggege dibaca seperti e pada kata sate)