Mohon tunggu...
novy kayra
novy kayra Mohon Tunggu... Aspire to inspire

- Penyuluh BNN RI - Master of Arts in Communication Gadjah Mada University

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Sumbangsih Milenial Dipertanyakan, Pelecut Atau Penghinaan?

29 Oktober 2020   21:06 Diperbarui: 29 Oktober 2020   21:16 82 5 0 Mohon Tunggu...

Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini cukup menarik karena diperingati ditengah pandemic covid-19 dan ramenya Omnibus Law. Semakin meriah ketika ibu Megawati menyinggung apa sumbangsih milenial selama ini bagi bangsa apa hanya bisa demo saja dan merusak fasilitas negara? Emang duit elo? Apa dengan kata lain milenial tidak memberikan sumbangsih apapun? Lalu sebaiknya bagaimana reaksi milenial?

Siapa Saja Milenial Indonesia dan Sumbangsihnya?

Generasi milienial saat ini merupakan generasi pada rentang usia 20-40 tahun atau kelahiran 1980-2000. Berdasarkan data yang di-release oleh BPS pada tahun 2017 lalu, Keberadaan generasi milenial saat ini menempati komposisi terbesar di Indonesia yaitu  jumlah  generasi milenial mencapai sekitar 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total penduduk Indonesia. Proporsi tersebut lebih besar dari proporsi generasi sebelumnya seperti generasi X yang (25,74 persen) maupun generasi baby boom+veteran (11,27 persen). Demikian juga dengan jumlah generasi Z  baru mencapai sekitar 29,23 persen. Melihat persentase diatas setidaknya perekonomian dan tampuk kepemimpinan bangsa Indonesia 10-20 tahun ke depan ada pada bahu milenial sebelum dipindahtangankan pada generasi dibawahnya yaitu generasi Z yang saat ini masih dibawah usia 20 tahun.

Namun apa benar generasi milenial hanyalah generasi micin dan generasi rebahan? Bisa jadi benar, bisa jadi juga salah. Genarasi milenial usia 20-30 tahun memang sedang berada dalam masa penentuan jati diri atau life quarter crisis. Usia-usia segini adalah usia mahasiswa, mencari kerja, pindah-pindah kerja atau gonta-ganti bisnis dan memulai pekerjaan/ bisnis mapan. Walau tidak sedikit dari mereka sudah layak untuk dibanggakan prestasinya. Bagi milenial usia 30-40 tahun bisa dikatakan sudah Nampak sumbangsihnya. Bahkan kalau mau dihitung hampir semua pendiri perusahaan start up besar berasal dari generasi milenial. Tidak terkecuali mas menteri Nadiem yang sekarang duduk di pemerintahan. Apa itu tidak bisa dihitung sebagai sumbangsih?

Baiklah, jika mengacu sumbangsih secara materialisme, dua pertiga angkatan kerja saat ini adalah berasal dari generasi milenial. Dengan jumlah sekian bisa dikatakan yang terbanyak diantara generasi yang lain. Tak hanya itu, sebagian generasi ini juga bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merupakan pahlawan devisa negara, dimana devisa negara Indonesia salah satu terbanyak juga dari buruh migran. Apa itu bukan sumbangsih? Tidak hanya itu, saat ini peningkatan investasi domestik di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Surat Berharga Negara (SBN) juga didominasi oleh generasi milenial. Mungkin masih banyak lagi  sumbangsih milenial yang datanya luput dari perhatian saya.

Jangan Sampai Jadi Milenial Gagal dan Durhaka

Pidato ibu Megawati yang menyalahkan milenial atas perusakan fasilitas negara nyatanya telah dibuktikan oleh fakta CC TV yang viral bahwa pelaku kerusuhan bukan bagian dari mahasiswa dan buruh yang unjuk rasa. Hal inipun juga dibuktikan oleh TNI saat razia dimana perusuh dan mahasiswa harus buka baju. Dari razia ini TNI membuktikan bahwa perusuh adalah tatoan, sedangkan tidak mungkin mahasiswa diperbolehkan menggunakan tato. Sehingga kesimpulannya pemakai tato adalah preman. Apakah dengan demikian preman bukan milenial? Preman juga milenial, namun mereka milenial gagal.

Hal yang perlu dikoreksi adalah penggunaan majas Totem Pro Parte (sebagian untuk kesuluruhan) adalah hal kurang etis karena akan menimbulkan stereotype. Preman mungkin bagian milenial, tapi bukan berarti semua milenial adalah preman/ perusak fasilitas negara. Seandainya juga milenial melakukan pembuktian terbalik, apa sumbangsih generasi baby boomer dan generasi X untuk Indonesia setelah 75 tahun merdeka? Mewariskan banyak hutang luar negeri? kasus HAM yang tidak teradili, kerugian negara karena korupsi? Atau Kerusakan lingkungan dan entah apa lagi? Tapi apa itu perlu? Bagaimanapun, generasi X dan generasi baby boomer adalah orang tua kita dan kakek-nenek kita yang mengukir jiwa-raga dan budaya kita sehingga kita bisa menjadi seperti ini. Jangan sampai kita menjadi generasi durhaka karena berusaha membalas sakit hati dengan perlakukan serupa orang lain terhadap kita.

Sumbangsih yang Masih Minimal, Mari Jadikan Lecutan 

Milenial memang bukan generasi sempurna, seperti yang saya sebutkan diatas terdapat generasi milennial gagal yang menggantungkan hidupnya dari perusakan dan provokasi. Namun pastikan saja itu bukan kita, dan ada baiknya kita belajar juga dari kegagalan generasi kita sebelumnya dan berusaha memperbaiki. Karena bagaimanapun milenial merupakan generasi yang cukup matang secara nalar dan secara fisik cukup berenergi untuk meneruskan cita-cita bangsa.

Sebagai informasi, untuk menjadi sebuah negara maju, Indonesia perlu setidak 14% pengusaha untuk memutar roda perekonomian padahal saat ini baru 3%. Meskipun 3%, ini meningkat lebih pesat dari 10 tahun yang lalu yaitu hanya sekitar 1,5%. Hal ini tentu perlu ditopang juga oleh kebijakan pemerintah baik legislatif dan eksekutif yang membentuk regulasi ramah terhadap produktivitas negeri ini. Jangan sampai juga mengulang kesalahan sejarah program Bentengnya Perdana Menteri Syahrir pada zaman generasi baby boomer yang gagal membuat Indonesia menumbuhkan banyak pengusaha.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN