Mohon tunggu...
novy kayra
novy kayra Mohon Tunggu... Aspire to inspire

- Penyuluh BNN RI - Master of Arts in Communication Gadjah Mada University

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

New Normal bagi Koruptor

6 Juni 2020   20:21 Diperbarui: 6 Juni 2020   20:11 27 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
New Normal bagi Koruptor
Dok. pribadi

" Kenapa orang mudah jadi koruptor, gampang dituduh koruptor, dan santai didakwa koruptor? Karena sistem. Basically. Ga ada orang yg benar2 jahat atau benar2 baik. Tapi sistem bisa menciptakan orang baik menjadi jahat dan sebaliknya. Pertanyaan pertama, kenapa orang mudah jadi koruptor? 

Karena ini sistem warisan Orde Baru. Konon katanya kenapa Presiden bisa 32 tahun karena DPR bukan setara melainkan bawahan presiden artinya hampir selalu menyetujui apapun permintaan presiden termasuk untuk dipilih lagi. Bahkan ketika presidennya males jd presiden lagi, DPRnya mungkin takut dg presiden baru yg bs merusak "comfort zone" nya. 

Berbeda dengan yang sekarang sistem demokrasi dulu adalah Demokrasi parlemen (bukan rakyat langsung) dan presiden menggunakan hukum n aparat untuk merepresi/mepersekusi "pengkhianat" Baik dari rakyat atau pejabat ( baca : orang2 yg mengancam kelanggengan kekuasaan, termasuk jurnalis yg kritis). 

32 tahun itu bukan waktu yg singkat. Penguasa tanpa sadar telah membentuk KKN menjadi "budaya" bangsa. Karena dicontohkan, dilindungi, dikekalkan, dan disosialisasikan. 

Pertanyaan kedua, kenapa orang gampang dituduh koruptor? Pada dasarnya manusia punya jiwa baik. Tapi kebiasaan melakukan dosa akan menggerus jiwa baik tersebut. Kebiasaan dan linkungan melakukan kejahatan akan membuat seseorang yang awalnya baik berubah sama dengan lingkungannya. 

Ketika seseorang yg berusaha memberi pengaruh kebaikan akan dianggap ancaman oleh lingkungan tersebut. Maka tidak mengherangkan jika orang baik ini akhirnya dikambinghitamkan atau dikorbankan. Dituduh walau melakukan sedikit atau tidak melakukan sama sekali. 

Pertanyaan ketiga, kenapa orang santai didakwa koruptor? Ya karena hukum terhadap koruptor tidak se-jera hukum pd penjahat narkotika dan terorisme. Tidak ada pemiskinan, tidak ada hukum mati, rutan pun eksklusif. Mungkin satu yg membedakan adalah sangsi sosial, yang membuat malu terhadap masyarakat.

 Tapi masyarakat yg macam apa? Apakah masyarakat yg menjunjung tinggi kejujuran? Selama masyarakat lbh menghargai prestasi kebendaan drpd prestasi keperilakuan, masyarakat lbh memuja hasil drpd proses, akan selalu ada individu yg menghalalkan hal haram dan mengharamkan hal halal. 

Dengan adanya reformasi, ganti kabinet berkali-kali dan bencana national corona. Dengan kesadaran bahwa hidup bisa berakhir kapan saja karena terinfeksi corona, Akankah tatanan hidup baru atau new normal berlaku juga pada kasus korupsi? Agar ada efek jera agar tak terulang lagi? 

 Masihkah takut Tuhan jika sangsi hukum dan sosial masih berpihak pada koruptor? Mampukah mengubah sistem old normal dengan new normal bagi koruptor?

 Wallah a'lam. 

*renungan terinspirasi korupsi jiwasraya n kasus2 sebelumnya yg org2nya santuy aja

VIDEO PILIHAN