Mohon tunggu...
novy kayra
novy kayra Mohon Tunggu... Aspire to inspire

- Penyuluh BNN RI - Master of Arts in Communication Gadjah Mada University

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Belajar Adab

27 Februari 2020   15:37 Diperbarui: 27 Februari 2020   15:32 103 0 0 Mohon Tunggu...

Terdapat kutipan ulama masa lalu yaitu "Pelajari dulu adab, baru ilmu. " Apa urgensi dari wiseword ini? Banyak. Coba saya urai. Kenapa orang Indonesia masih suka buang sampah sembarangan termasuk di dlm bioskop pdhl sudah pernah sekolah bahkan kuliah? Kenapa kemacetan di Jakarta itu konyol banget? 

Udah tau jalur busway tp digunakan kendaraan umum n pribadi dilawan arah lagi? Kalau ketemu bus di tengah2 kan tidak bisa gerak? Atau kemarin sempet kontroversi kepala lembaga tertentu yang bilang bahwa agama musuh Pancasila? atau ibu2 yg ngaku orang tua njambak embak2 di commuter line? Atau banyaknya siswa yang kurang ajar pada gurunya karena guru takut dipenjarakan? Ada apa dengan orang-orang ini? apa yg salah?

Sudah bagus menteri muda kita Mas Nadiem yang baru mereformasi pendidikan bahwa yg menentukan masa depan bukan ujian tertulis yg disama ratakan. Atau kuliah itu seperti berenang kita hanya diajari satu gaya dalam kolam renang padahal  kita dimasa depan praktek nya dilautan. Sudah bagus anak SD sekarang diajari coding untuk bekal bekerja masa depan yg lbh konkrit sesuai era 4.0 ato 5.0. 

Namun saya merasa masih ada yang kurang. Program dari mas mentri klo dalam filsafat masih sebatas aksiologi,tapi belum menjamah pada epistemologi dan ontologi. Apa itu? Ya tadi, masih sebatas ilmu lebih tepatnya ilmu terapan bukan ilmu hikmah kebijaksanaan atau karakter atau tepatnya adab yg perlu dimiliki oleh insan-insan Indonesia. 

Lalu bagaimana agar adab ini bisa menjadi budaya di Indonesia? Yang bisa buang sampah pada tempatnya, tidak memakai jalan dan ngomong seenaknya, tidak melakukan tindak perundungan, termasuk tidak korupsi? Mungkin tawaran ini tidak optimal untuk menghilangkan perangai buruk berjamaah ini secara total tapi setidaknya ada usaha untuk meminimalkan.

Saya akan memberikan contoh negara Jepang. Jepang pada tahun 1900an terkenal bengis di berbagai negara jajahannya. Tapi kesininya selain jadi negara maju, ternyata Jepang punya budaya yang luar biasa sopan dan bersihnya padahal ga menganut agama tertentu. Ternyata ini masalah sistem pendidikan. Siswa sebelum usia 10 tahun tidak diwajibkan menghafal atau pandai berhitung spt di sekolah2 kita. Krn pendidikan mereka fokus pada adab. 

Mengajari tentang tanggung jawab termasuk membersihkan kamar mandi adalah tugas para siswa bukan pesuruh. Tolong menolong pada teman, sopan santun pada orang tua, menyayangi yang lebih muda, tidak menertawakan orang yang berbuat kesalahan, dsb. Budaya Jepang terasa kalau kita kesana lalu tersesat mereka akan senang menolong serta jika terjadi banjir yang airnya tentu berbeda dengan keadaan jakarta yang berwarna coklat, melaiinkan banjirnya bening seperti warna air kolam renang.

Ya, saya berharap pendidikan adab penting diterapkan sejak dini agar jadi budaya smp dewasa. Kalaupun sudah ada program semacam ini, sebaiknya ditekankan lg penyusunan kurikulumnya. Dimana dalam belajar disekolah dan dalam kehidupan kita lebih menghargai proses daripada hasil. Lebih memilih menjadi pedagang yg jujur n sukses daripada PNS dan Polri tapi  hasil menyuap. 

Walau CPNS sudah transparanmasih banyak yang tertipu ratusan juta krn suap artinya ada yg salah dg mental orang2 ini. Ya, keadaan krg kondusif harus kita ubah dengan pendidikan adab.Untuk penerapan di lapangan mungkin masih perlu riset lagi. Tapi paling tidak ini bisa dipertimbangkan agar orang-orang brutalyang suka nabrak aturan atau hak orang tidak makin bringas dijalanan.
Wallahu a'lam.

VIDEO PILIHAN