Edukasi

Problematika Dakwah Sunan Sendang Duwur

22 Maret 2019   16:03 Diperbarui: 22 Maret 2019   16:29 54 0 0

Penyebaran Islam pada awal perkembangan di Jawa disebut dengan panggilan Sunan. Sunan Sendang Duwur adalah salah satu waliyullah yang berperan sejajar dengan Walisongo dalam penyiaran Islam di Tanah Jawa khususnya di daerah Lamongan. Sunan Sendang Duwur berdakwah secara kutural mengakulturasikan budaya yang mentradisikan di Desa Sendang Duwur dan menginternalisasikan dengan nilai-nilai Islam.

Selain itu Masjid Sendang Duwur yang diarsitekturi oleh Vulnavular Joglo dan berakulturasikan dengan budaya Hindu-Jawa juga merupakan peninggalan dakwah kultur Sunan Sendang Duwur. Peranan dalam dakwah kultural di Desa Sendang Duwur, paciran, Lamongan yang hingga saat ini dakwahnya masih diterapkan dalam kehidupan tradisi dan budaya masyarakat Sendang Duwur.

Sunan Sendang Duwur lahir pada tahun 1442 Saka / 1520 Masehi di Desa Sedayu Lawas, Kecamatan brondong, Lamongan. Sunan Sendang Duwur memiliki nama asli "RADEN NOER RAHMAT" beliau memiliki keturuan Bagdad-Jawa Timur. Ayahnya bernama Syeh Abdul Qahar Bin Abdul Malik seorang Ulama di Negeri Bagdad, Ibundanya Dewi Sukarsih putra dari Tumenggung Djojosasmitro. Semenjak ayahnya meninggal dalam peperangan melawan Indro Suwarno Raja Kerajaan Sambas, Raden Noer Rahmat dan Ibundanya pindah dari Sedayu Lawas menuju ke Dukuh Tunon.

Dukuh Tunon, sebuah hutan yang lebat dengan pepohonan yang akan dijadikan tempat tinngal Raden Noer Rahmat dan ibundanya. Raden Noer Rahmat juga membuka lahan pertanian serta perkebunan pohon. Sehingga hutan Tunon menjadi daerah yang subur dan diberi nama Kampung Suto dan Kampung Lebak yang berada dikawasan Desa Sendang Duwur, Desa ini mendatangkan kemakmuran dan kedamaian bagi penduduk yang tinggal di daerah tersebut.

Nama Raden Noer Rahmat semakin hari semakin terkenal, karena ilmunya, kepandaian dalam menguasai keilmuan dan kesaktinnya sampai terdengar ke Sunan Drajat. Sehingga Sunan Drajat datang mengunjungi Raden Noer Rahmat untuk membuktikan sendiri tentang berita-berita yang didengar. Ketika tiba di Desa Dukuh Tunon, Sunan Derajat merasa kehausan dan berjumpa dengan Raden Noer Rahmat. Setelah Sunan Drajat meminta izin dari pemilik pohon, beliau memilih pohon siwalan yang besar dan banyak buahnya, lalu ditepuk tiga kali, buah siwalannya berjatuhan semua.

Melihat kejadian itu Raden Noer Rahmat mengingatkan Sunan Drajat bahwa cara seperti itu akan menjadikan buah yang belum masak akan mati. Kemudian Raden Noer Rahmat mengusanya tiga kali, dengan izin Allah pohon siwalan yang melengkung ke hadapan Sunan Drajat, manyaksikan karamah yang dimiliki oleh Raden Noer Rahmat, Sunan Drajat kagum terhadap kesaktian Raden Noer Rahmat dan langsung diberi gelar "SUNAN SENDANG DUWUR" dan tempat pertemuan mereka berdua diberi nama Tanah Semenggah, karena ketika melihat kesaktian Raden Noer Rahmat, nafas Sunan Drajat terengah-engah. Setelah pertemuan itu hubungan keduanya semakin akrab.

Setelah beliau mendapat gelar dari Sunan Drajat, Raden Noer Rahmat diperintah oleh Sunan Drajat untuk mendirikan masjid ddan pergi ke Mantingin Jepara, Jawa Barat untuk menemui mbok Randa Mantingin (Nyai Ratu Kalinyamat) untuk membeli masjid miliknya. Mbok Randa menolak masjidnya untuk dibeli, tetapi  Sunan Sendang harus memindahkan sendiri masjid tersebut ke tempatnya tanpa bantuan orang lain.

Mengetahui hal tersebut Sunan Sendang bertirakat dan berdo'a kepada Allah supaya bisa mempunyai masjid sebagai pusat penyiaran islam didesanya. Akhirnya setelah 40 hari berdo'a kepada Allah, beliau memperoleh pentunjuk. Ia menghentakan kaki tiga kali ketanah, kemudian masjid itu pindah sendirinya ke Desa Sendang tempatnya berada diatas bukit Anitumon. Keberadaan masjid yang muncul secara tiba-tiba itu diberi nama Masjid Tiban Sendang Duwor. Sunan Senang duwur pertamakalinya menyiarkan agama islam dengan membiasaakan wirid, berjam'ah, membaca sholawat Nabi.

Selain itu Sunan Sendang Duwur juga tetap menjaga tradisi masyarakat yang gemar memberikan persembhaan ke tempat-tempat keramat, meletakkan sesaji di lereng-lereng gunung, membakar kemenyan di dekat pohon besar. Untuk menyikapi ini semua, Sunan Sendang Duwur menpunyai metode untuk menuntun warga Sendang mengenal tetang adanya Allah "TUT WURI HANDAYANI LAN  TUT WURI HANGISENI" beliau tidak melakukan pelarangan, melainkan mengarahkan adat istiadat mereka kepada agama tauhid dan memberinya warna dan  nilai islam secara perlahan.