Novi Jauhari
Novi Jauhari

Hanya wanita biasa yang ingin berkarya lewat tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku Terbebaskan dari 5 Tahunku yang Kelam

15 Februari 2018   09:35 Diperbarui: 15 Februari 2018   09:57 148 1 0

Denting piano yang mengalun begitu merdu. Membuat ku penasaran ingin mengenal sosok lelaki yang sekarang sedang bermain dengan tuts-tuts piano itu.

Ku perhatikan setiap gerak-geriknya, tubuh & jiwanya seolah menyatu dengan semua tuts & dentingan yang ia hasilkan. Tampan & dewasa sekali. Itulah penilaianku saat ini untuk dirinya. Aku harus bisa mengenalnya lebih jauh.

***

Malam itu adalah malam dimana sahabat ku melangsungkan resepsi pernikahannya. Dan entah siapa yang mereka undang sebagai pemain piano profesional di acara penting mereka ini. Pria yang berhasil membuatku penasaran.

"Hai Win... Apa kabar?" tiba-tiba terdengar suara menyapaku yang sukses membuyarkan lamunanku.

"Oooh... Hai Ngga, kabarku baik. Bagaimana kabarmu?" aku menjawab sapaan Angga, teman kuliahku dulu yang satu kampus denganku maupun sahabatku yang menikah ini.

"Baik... Kamu datang sendirian Win?" pertanyaan Angga merupakan pertanyaan yang rutin aku dapatkan setiap aku menghadiri acara pernikahan, baik acara pernikahan temanku maupun saudaraku.

"Ya aku datang sendirian. Kamu dengan siapa Ngga? Mana pacarmu?" aku bertanya kembali kepada Angga.

"Aku juga sendirian kok Win..." jawab Angga sembari nyengir.

"Oohh..sama donk..." aku tertawa untuk mencairkan suasana.

Hmmm...bagaimana mungkin Angga datang sendirian?? Masa sih dia tidak punya pacar alias jomblo?? Atau mungkin dia punya pacar hanya saja pacarnya saat ini tidak bisa menemani Angga kesini?? Yaa...pasti begitu...karna Angga tidak mungkin jomblo. Angga adalah pria yang baik hati dan rupawan. Tubuhnya tinggi & atletis, kulitnya kuning langsat, rambutnya lurus dengan potongan yang trendy tetapi sangat pas dengannya. Sungguh idaman wanita, jadi tidak mungkin dia jomblo.

"Win...Wina...???" Angga memanggilku sambil melambaikan tangannya di depan muka ku.

"So...sorry Ngga... Kamu ngomong apa Ngga?" aku terkejut sekaligus malu karena ketahuan sedang melamun.

"Mikirin apa siy Win? Kok serius amat sampai nggak sadar aku ajak ngobrol" Angga bertanya heran sambil menatapku.

"Sorry Ngga, bukan hal penting kok. Maaf ya tadi aku nggak denger kamu ngomong apa" aku merasa tidak enak pada Angga.

"Kamu pulang sama siapa Win? Kamu bawa kendaraan sendiri?" Angga bertanya padaku.

"Ooh..nggak Ngga, aku naik taxi aja nanti"

"Aku antar yaa Win, skalian kita ngobrol, sudah lama kita nggak ketemu"

"Hmm...boleh kalau tidak merepotkan" aku meng-iya-kan sambil tersenyum.

"Tentu saja tidak.." Angga membalas senyumku.

***

"Win...kita mampir ke kafe dulu yuk, biar ngobrolnya lebih enak... Mau kan?" Angga mengajakku.

Aku melihat jam di pergelangan tanganku.

"Hmm...okee, tapi jam 10 kita jalan pulang ya..." aku punya waktu 1,5jam untuk mengobrol dengan Angga.

"Siaappp Non..." Angga meledekku.

***

Sudah 1 bulan berlalu dari pertemuanku dengan Angga yang berlanjut menjadi komunikasi setiap hari. Ya...Angga jadi rajin meneleponku, bahkan pertemuan kami pun menjadi lebih intens. Angga sering mengajakku makan siang bareng, makan malam, bahkan menjemputku pulang kerja.

Tetapi aku belum berani mengartikan maksud dari sikap perhatian Angga padaku. Karena rasanya mustahil kalau Angga punya perasaan lebih terhadapku. Sedangkan aku, sepertinya perasaanku terhadap Angga muncul kembali. Dulu aku memang menyukainya saat kuliah. Tetapi setelah lulus dan kami tak pernah bertemu, perasaanku mulai surut dimakan waktu.

***

Hari ini aku mendampingi atasanku akan bertemu klien dari perusahaan tempatku bekerja.

Kami sudah sampai terlebih dulu di kafe yang sudah disepakati. Sekitar 5menit kami menunggu, akhirnya klien kami datang.

Dan betapa terkejut nya aku saat mendongakkan kepala, ada sosok tak asing yang berdiri di hadapanku.

Sosok yang begitu tampan di balut jas & kemeja serta dasi dengan warna serasi dengan jas yang dipakainya.

Oh...Tuhan... Beginikah cara-Mu mempertemukanku kembali dengannya??

Aku berdiri mengikuti atasanku untuk memberi salam & berjabat tangan dengannya.

"Selamat siang Pak... Saya Wina, sekretaris Pak Wilson" aku memperkenalkan diri sambil bersalaman dengannya.

Meeting berjalan lancar dengan didominasi atasanku yang berbicara.

Sedangkan aku, masih tak percaya bisa bertemu kembali dengan si pemain piano yang tampan & berkharisma ini. Dan sekarang aku tahu namanya, Chandra Perwira Negara. Nama yang gagah.

Meeting selesai dan kami pun berpisah. Sangat berat rasanya. Karena aku rasanya ingin sekali mengobrol dengannya bukan karena urusan pekerjaan. Tapi situasi saat ini sangatlah tidak mungkin.

***

Kring...kring... Hp ku berbunyi. Aku lihat nomornya tidak tersimpan di hpku.

"Hallo selamat siang" aku menjawab formal telponku karena sekarang masih jam kerja.

"Hallo Wina, saya Chandra. Maaf apa saya mengganggu waktu kerjamu?" 

Suara nya seperti tak asing. Chandra?? Apa ini Chandra si pemain piano??

"Ooh..tidak, tidak mengganggu. Maaf apakah saya berbicara dengan Pak Chandra Perwira Negara?" aku memastikan kalau aku tidak salah.

"Yaa benar... Kamu mengingat nama lengkapku Wina?" suaranya terdengar seperti sambil tertawa.

"Eh..hmm.. Iya Pak." suaraku pasti terdengar kikuk.

"Ada apa ya Pak? Apakah bapak ada janji dengan Pak Wilson? Atau kami melupakan sesuatu? Saya mohon maaf kalau itu benar terjadi. Saya akan check sebentar jadwal Pak Wilson." aku lumayan panik, takut aku melupakan kalau sampai ternyata kami punya janji untuk bertemu.

"Wina... Bukan seperti itu Wina... Maaf sudah membuat mu khawatir."

Aku menghentikan melihat buku catatanku. Masih menunggu kelanjutan dari ucapan Pak Chandra.

"Wina??"

"Oh..eh.. Iya Pak Chandra"

"Hmm begini Wina... Saya meneleponmu untuk menanyakan, apakah kamu punya waktu malam ini untuk bertemu dengan saya? Saya ingin mengobrol denganmu."

Mengobrol?? Tidak salahkah apa yang aku dengar?? Apakah kami akan mengobrol diluar urusan pekerjaan??

"Wina?? Maaf kalau kamu tidak bisa tidak apa-apa, mungkin lain waktu saja"

"Ma..Maaf Pak... Saya bisa malam ini. Jam berapa & dimana Pak?" aku menjawab sedikit terbata-bata karena masih terkejut.

"Kamu pulang jam berapa Win? Boleh saya jemput kamu di kantor?"

"Boleh Pak... Saya pulang jam 7 hari ini."

"Oke Wina, sampai bertemu nanti ya..."

Percakapan kami berkahir.

Tapi tidak dengan pikiranku yang masih melayang-layang nggak karuan.

Lalu aku teringat dengan Angga. 

Aku harus memberi tahu dia tidak usah menjemputku hari ini.

***

Akhirnya yang ku tunggu-tunggu segera tiba. Jujur aku sangat tak sabar menunggu jam 7. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini. Dan sekarang baru jam setengah 7.

Lebih baik aku sekarang ke toilet untuk berbenah diri.

Aku membasuh mukaku dengan sabun muka agar terlihat lebih fresh, menghilangkan kepenatan pekerjaanku hari ini. Lalu kupoleskan bedak tipis-tipis saja serta lipstik warna soft natural. Aku ingin terlihat natural. Ku semprotkan parfumku ke pergelangan tanganku dan ke leher serta tengkuk ku. 

Baiklah...aku sudah lebih percaya diri sekarang. Jangan sampai aku memberikan kesan yang tidak baik karena aku mengeluarkan bau keringat efek kerja seharian. Aku akan bertemu dengan sosok yang selalu menggelitik pikiranku di malam hari. Bodohnya aku bersedia di jemput langsung pulang kerja. Harusnya tadi aku menolak agar aku sempat pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Aah..sudah terlambat penyesalanku. Aku lihat jam tanganku, tinggal 10menit lagi waktuku untuk menata penampilanku dan juga hatiku yang sekarang nggak karuan rasanya.

Aku berjalan kembali ke meja kerjaku. Aku ambil tas ku dan memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Dan aku beranjak menuju lift untuk turun ke bawah.

Baru saja kakiku melangkah keluar lift, ho ku berbunyi. Pak Chandra yang menelepon.

"Ya hallo Pak..."

"Wina...saya sudah di parkiran. Apa kamu sudah bisa pulang?"

"Ini saya baru keluar lift Pak. Saya menuju parkiran ya Pak"

Saat tiba di parkiran, aku melihat Pak Chandra di dalam mobil fortuner hitam dengan kaca pengemudi dibuka. Sehingga aku bisa langsung menemukannya.

Aku berjalan menghampirinya dengan jantung yang berasa mau lompat dari tempatnya. Bahkan aku merasa sedikit sesak nafas. Aku tarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diriku sendiri.

Pak Chandra keluar dari mobilnya berjalan menuju pintu penumpang saat aku hampir sampai di mobilnya. Dan dia membuka kan pintu untukku.

"Silahkan masuk Wina.." Pak Chandra tersenyum.

Oohh Noo...aku berasa hampir pingsan melihat senyuman nya.

"Makasih Pak" aku membalas senyumnya dan masuk ke dalam mobil.

Pak Chandra berlari kecil kembali ke kursi pengemudi.

"Thanks Wina, kamu sudah menyediakan waktumu untuk pergi dengan saya"

"Sama-sama Pak... Tapi jujur saya masih bingung, ada apa ya Pak. Kok tiba-tiba Pak Chandra mengajak saya bertemu?"

"Saya ingin mengenal kamu lebih dekat Wina" Pak Chandra berkata serius sambil menatapku.

Aku rasa aku akan pingsan sekarang. Atau aku akan terbangun dari mimpi indahku. 

Aku mencubit punggung tanganku. Sakiitt....

Artinya ini bukan mimpi.... Ini kenyataan Wina...

"Oke Wina, kita jalan yaa... Aku mau mengajakmu ke restoran yang pasti kamu suka dengan menu-menu makanannya disana... Saya jamin rasanya enak sekali..." Pak Chandra mulai menjalankan mobilnya.

Ohh Tuhan... Ada apa ini... Mengapa sekarang aku merasa melayang... Apa ini kado dari-Mu Tuhan, jodoh untukku di usiaku yang ke 28tahun?? Aku bahagia sekali Tuhan... Terima kasih Tuhan... Semoga kesendirianku selama 5tahun akan segera berakhir...

Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, sibuk menata jantung yang masih berdegup kencang, sibuk menata hati yang sedang menari kesana kemari...

"Wina...kenapa diam saja?" suara Pak Chandra membuatku tersadar aku sedang duduk di samping nya saat ini.

"Ma...maaf Pak... Masih jauhkah restoran yang bapak maksud?" aku melontarkan pertanyaan yang salah.

"Sebentar lagi kita sampai. Kenapa Wina? Kamu sudah lapar ya?" Pak Chandra tertawa.

Oohh No... Pipiku sekarang pasti sudah memerah seperti pakai blush on. Malu nya aku...

"Naahh...itu restorannya sudah kelihatan."

Pak Chandra memarkirkan mobilnya. Lalu kami turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran mewah dengan harum masakan yang sudah tercium. Membuat perut ku bersorak gembira karena sebentar lagi akan ada makanan lezat yang masuk.

Kami jalan menuju meja yang sudah dipesan Pak Chandra dengan diantar pelayan.

Lalu ku dengar Pak Chandra mengatakan kepada pelayan untuk segera menghidangkan menu pembuka yang sudah dipesan.

Kami duduk berhadapan sekarang. 

"Wina...kamu harus mengontrol dirimu, jangan bikin malu. Biasanya kamu bisa luwes dengan siapa pun. Kenapa sekarang kamu seperti ayam sayur?? Ini kesempatan besar Wina, jangan sia-sia kan." Suara di hatiku memarahiku seperti aku anak kecil.

"Wina... Apa kamu suka restoran ini?" Pak Chandra membuka obrolan.

"Ya.. Saya suka Pak... Nuansa nya romantis dan harum masakannya semerbak..." aku berusaha menjawab dengan tenang.

"Syukurlah kalau kamu suka" Pak Chandra tersenyum.

Senyum yang bisa menyihir semua wanita untuk bertekuk lutut di hadapannya.

"Wina...apa kamu tahu, ini pertemuan kita yang ketiga?"

"Yang ketiga??" aku bertanya heran. Bagaimana bisa yang ketiga?? Harus nya ini yang kedua setelah meeting kemarin.

Apaa...Pak Chandra juga tahu pertemuan kami di resepsi pernikahan sahabatku itu?? Tapi tidak mungkin. Itu bukan pertemuan, karena hanya aku yang melihatnya.

"Ya Wina... Pertemuan pertama kita, saat kamu memakai gaun merah dan kamu sedang  berdiri mematung melihatku yang sedang bermain piano" Pak Chandra kembali menebarkan senyum mematikannya.

"Itu... Waktu itu Bapak juga melihatku???" aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. 

"Yaa Wina... Itulah pertemuan pertama kita... Walau kita belum sempat saling menyapa. Karena kulihat kamu pergi dengan seorang lelaki sebelum acara selesai"

"Oohh...yaa... Saat itu saya bertemu teman kuliah yang sudah lama tidak berjumpa, lalu dia mengantarku pulang." 

"Win, bisakah kamu ubah cara bicaramu? Saat ini kita tidak dalam urusan pekerjaan, jadi tidak perlu terlalu formal" Pak Chandra menatapku tajam.

Matanya...menusuk nusuk jantungku. Tampan sekali lelaki ini... 

"Baik Pak..." aku masih saja kikuk.

Pak Chandra tertawa renyah. "Wina...itu masih formal Wina... Dan satu lagi, jangan panggil aku Pak... Setua itukah penampilanku di mata mu Win?"

"Tidaakk... Bukan begitu Pak... Eh.. Ehm... Maksud saya..." aku bingung melanjutkan ucapanku.

"Panggil aku Chandra, Wina... Tidak usah pake Pak, aku baru berusia 33tahun dan aku belum menikah" Chandra tersenyum hangat.

"Hmm begini Wina... Aku akan menjelaskan sesuatu padamu supaya kamu tidak bingung. Karena sekarang aku tahu kamu masih bingung dengan situasi ini, dan itu membuatmu tegang"

"Lebih tepatnya, aku akan membuka rahasiaku" Chandra berhenti berkata yang membuatku semakin tak mengerti.

"Rahasia?? Maksudnya??"

"Yaa...rahasiaku... Kalau sebenarnya aku sudah mencari tahu tentang dirimu sejak pertemuan pertama kita. Kalau sebenarnya aku sengaja untuk menjadi klien dari perusahaan tempatmu bekerja, yang kebetulan bidang bisnisku masih berkaitan dengan bidang yang di handle Pak Wilson."

Aku terbengong seketika, mematung, diam tak bergerak, tak berkata, tak bernafas.

"Winaa??" Chandra menepuk tanganku dan aku tersadar untuk kembali bernafas.

"Benarkah?? Benarkah semua yang kamu katakan Chandra?" aku melontarkan pertanyaan yang ada di otakku.

"Benar Wina... Kamu boleh tanya pada Hesti sahabatmu." Chandra tersenyum.

"Hesti?? Kalian saling kenal?"

"Aku sepupunya Hesti, Win... Memang masih sepupu jauh. Dan aku mencari tahu tentangmu lewat Hesti. Aku sudah mendengar banyak cerita tentangmu dari Hesti"

Ceritaa?? Apa saja yang sudah Hesti ceritakan tentangku? Bagaimana kalau keburukan-keburukanku juga dia ceritakan?? Dia yang tahu semua tentang diriku. Oohh tidakk... Bisa malu aku.

"Chandra...boleh aku tahu apa saja yang sudah kamu tahu dari Hesti?" aku bertanya berhati-hati.

"Semuanya Wina... Semua tentangmu... Dan kamu tahu, Hesti mendukungku untuk lebih mengenalmu" Chandra berkata sambil memegang lembut punggung tanganku.

"Kenapa Hesti tidak memberi tahuku?" aku terheran dengan tangan yang mematung, kubiarkan tangannya masih menempel di atas tanganku. 

"Aku yang memintanya... Karena aku mau mengenalmu langsung Wina, aku mau kamu juga mengenalku secara langsung"

"Tapi Chandra... Bagaimana bisa... Ehm maksudku, apalah aku dibanding dirimu... Tak ada yang istimewa di diriku. Sedangkan kamu, semua yang ada di dirimu istimewa."

"Tidak Wina...  Kamu adalah wanita yang istimewa... Kamu berhasil menarik hati & pikiranku untuk terus membawamu dalam keseharianku. Dan aku ingin itu bukan hanya bayangmu. Aku ingin kita benar-benar saling mengenal."

Aku masih tak percaya semua ini terjadi. Rasanya mustahil... Seorang lelaki sempurna mau mempunyai hubungan lebih dengan wanita biasa sepertiku.

"Wina...aku tidak memaksamu untuk segera menjalin hubungan denganku. Tapi aku berharap, kamu mau membuka hatimu untukku. Cobalah untuk mengenalku lebih dalam. Sampai kamu merasa yakin padaku, yakin aku bisa menjadi pendamping hidupmu."

What?? Apa ini yang disebut dilamar?? Bagaimana bisa secepat ini??? Aku memang menyukainya, tapii...

"Chandra... Jujur aku memang menyukaimu... Aku terpesona melihatmu dari awal pertemuan kita. Tapi... Aku butuh waktu Chandra... Mungkin kamu sudah mendengar dari Hesti cerita tentangku dulu... Dan itu membuatku belum bisa..."

"Wina...aku akan mengobati lukamu. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Dan yang perlu kamu tahu, aku serius Wina. Aku tidak main-main dengan mu." Chandra memotong perkataanku. Matanya, mimik mukanya terlihat sangat serius.

Angga...bagaimana dengan Angga?? Aku tiba-tiba teringat dirinya.

***

Sejak pertemuanku malam itu dengan Chandra, dia semakin sering membuatku terkejut dengan kejutan-kejutan darinya. Ternyata Chandra pria yang sangat romantis & dewasa.

Bunga & cokelat yang tiba-tiba ada di meja kerjaku. Makan siang yang dikirim secara tiba-tiba. Rekaman lagu-lagu romantis yang dimainkan dengan piano yang dikirim ke hp ku di malam hari untuk pengantar tidurku.

Dan masih banyak sekali tingkahnya yang memanjakan hatiku.

Sebenarnya aku sudah mulai mencintainya... Tetapi sosok Angga masih menjadi kegalauanku.

Angga juga tampan, baik & perhatian. Walau memang secara kematangan karakter dia masih kalah dengan Chandra. Tapi... Angga bisa membuatku nyaman bercerita tentang apa saja padanya. 

Mengapa mereka hadir bersamaan di hidupku? Mengapa mereka bersamaan  memberi warna-warni di kehidupanku yang tadinya abu-abu.

***

Tak terasa sudah 6bulan kehidupanku di isi oleh Angga & Chandra. Dan aku tidak bisa terus menggantung kedua nya.

Akan lebih menyakitkan jika semakin lama tidak ada keputusan dariku.

Apalagi Angga akhirnya juga melamarku satu bulan yang lalu.

Baiklah... Aku sudah putuskan.

***

Aku membuat janji bertemu dengan Chandra malam ini.

Aku memintanya tidak usah menjemputku dan langsung bertemu di kafe dekat kantorku.

Aku datang lebih awal dari waktu yang disepakati. Dan sekarang aku sedang duduk menunggunya dengan ditemani secangkir cokelat hangat.

"Wina...kamu lama menunggu? Maaf tadi aku terjebak macet." tiba-tiba Chandra sudah duduk di hadapanku.

"Oh..tidak Chandra. Aku yang sengaja datang lebih awal tadi" aku tersenyum menenangkan nya.

"Ada apa Wina... Kenapa kamu tidak mau aku jemput? Apa kamu marah padaku?" Chandra terlihat cemas.

"Tidak apa-apa Chandra... Aku hanya ingin menenangkan diriku sebentar sebelum bertemu denganmu disini" 

"Baiklah... Lalu apa yang ingin kamu bicarakan Win?" 

Aku menarik nafas dalam-dalam. Sudah tiba waktu ku untuk memutuskan. Aku harus menyampaikan ini pada Chandra. Aku tak tahan tersiksa semakin lama menghadapi perasaanku sendiri.

"Chandra... Aku... Aku sudah memutuskan..."

Aku kembali menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku.

"Chandra... Apa kau yakin untuk menjadikanku pendamping hidupmu?"

Apa iniii... Omonganku jadi ga nyambung akibat jantungku yang tak henti-hentinya deg-degan.

"Wina...sudah berulang kali kamu menanyakan pertanyaan yang sama. Dan tentu saja jawaban dariku pun tetap sama. Wina...aku sudah yakin dari awal aku mengenalmu. Dan aku semakin yakin setelah aku benar-benar mengenalmu lebih dalam. Apa kamu masih meragukan aku Wina?" Chandra terlihat sedih karena berpikir aku meragukannya.

"Maaf Chandra...bukan maksudku meragukanmu. Sungguh... Ini hanya keegoisanku, karena jujur aku masih trauma Chandra. Aku merasa takut ini hanya ilusi, takut ini hanya harapan palsu, takut kalau kamu akan pergi meninggalkanku Chandra. Aku... Aku mulai mencintaimu Chandra... Sungguh aku bahagia dengan semua yang sudah kamu lakukan untukku. Dan aku takut, kebahagiaan ini akan pergi meninggalkanku." akhirnya aku bisa mengutarakan semua isi hatiku pada Chandra.

"Wina sayang..." Chandra menggenggam kedua tanganku.

"Aku mengerti akan semua yang kamu rasakan, akan semua yang kamu takutkan... Maka dari itu, aku tidak pernah memaksamu untuk segera menerimaku jadi pendamping hidupmu. Aku mau kamu yakin akan diriku yang tidak akan meninggalkanmu sampai maut yang memisahkan kita Wina. Aku akan bersabar menunggumu Wina..." Chandra berkata dengan keyakinan yang sekarang sudah bisa meyakinkanku. 

Yaa... Semua yang dikatakan Chandra memang benar. Dia tidak pernah memaksaku. Tidak pernah terburu-buru meminta jawabanku. 

"Terima kasih Chandra... Kamu pria yang sangat baik. Kamu begitu sempurna di mataku Chandra. Dan sekarang aku sudah yakin.  Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu Chandra..." tak terasa air mataku mengalir deras. Aku merasa lega... Lega akhirnya aku berani mengambil keputusan besar dalam hidupku.

"Winaaa..." Chandra berteriak dan langsung berdiri untuk memelukku erat sekali. 

Aku melihat kebahagiaan yang luar biasa pada Chandra. Dan aku semakin yakin, Chandra adalah pilihanku yang tepat. 

Oohh Tuhan...betapa beruntungnya aku...

"Chandra...tolong lepaskan... Semua orang melihat ke arah kita Chandra..." aku memohon pada Chandra sambil menahan malu yang luar biasa karena orang-orang memperhatikan kami...

"Tidak Wina... Biar mereka tahu aku sangat bahagia... Akhirnya kamu jadi milikku seutuhnya... Terima kasih Wina... Aku akan selalu membahagiakanmu... Terima kasih Wina..."

"Chandra... Aku yang berterima kasih padamu karena kamu sudah berhasil mengobati luka lamaku. Luka yang mengurungku selama 5 tahun. Dan kini kamu membebaskanku Chandra..."

Lalu aku teringat pada Angga, dan tugasku belum selesai... Aku masih harus bertemu Angga...

***

Keesokan harinya aku menemui Angga. Dan aku menyampaikan keputusanku.

Angga terlihat sangat sedih & kecewa. Tapi syukurlah Angga berbesar hati & tetap mau berteman denganku. Aku akan selalu mendoakan Angga segera mendapatkan pendamping hidup yang baik.

Terima kasih Tuhan... Rencana-Mu sangat indah... Dan aku merasa sangat beruntung bisa mempunyai suami seperti Chandra...