Mohon tunggu...
Putra
Putra Mohon Tunggu... Orang Indonesia, lahir dan besar di Palembang, sekarang di Jakarta

Sejauh yang saya pahami, politik adalah soal kekuasaan, jadi jangan korbankan diri dan kepentingan anda demi kepuasan penguasa tersebut. Penulis lepas yang tertarik dengan isu-isu seputar politik, keamanan, dan luar negeri.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Haruskah Pemerintah Memulangkan WNI dari Irak dan Suriah?

10 Juli 2019   11:10 Diperbarui: 10 Juli 2019   11:24 0 1 1 Mohon Tunggu...
Haruskah Pemerintah Memulangkan WNI dari Irak dan Suriah?
Kondisi kamp pengungsi di Suriah (sumber: BBC Indonesia)

Wacana mengembalikan WNI yang bergabung dengan kelompok teroris di Suriah ke tanah air kembali bergema dan semakin menguat. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengusulkan pembentukan Satuan Tugas yang bertugas memulangkan WNI dari Suriah dan mengaku sudah siap menjadi leading sector dalam Satgas tersebut. Kementerian Luar Negeri sebelumnya telah memberi isyarat lampu hijau bagi pengembalian WNI kombatan/mantan kombatan tersebut.

Lantas, apakah memulangkan WNI yang bergabung dengan kelompok teror di Suriah merupakan langkah yang tepat?

Melansir dari Abc News, sejak tahun 2014 terdapat lebih dari 800 WNI yang terbang ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan kelompok teror, sekitar setengahnya sudah kembali ke Indonesia. Pada 2017 misalnya, BNPT telah memulangkan 17 WNI yang bergabung dengan ISIS, termasuk satu keluarga asal Batam.

Alasan WNI bergabung dengan kelompok teroris di Irak dan Suriah tersebut sangat beragam, diantaranya ada yang tertipu oleh janji manis ISIS (seperti satu keluarga yang berasal dari Batam), kemudian ada yang benar-benar ingin menjadi mujahidin bagi ISIS, serta ada yang ingin berperang bagi Jabhat An-Nusra (Afiliasi Al-Qaeda di Suriah).

Menurut laporan Institute for Policy Analysis of Conflict yang dirilis pada 29 April 2019, sejak kekalahan ISIS di Irak dan Suriah antara 2017-2018, tidak ada WNI dengan pengalaman bertempur yang kembali ke Indonesia.

Beberapa nama pimpinan senior ISIS asal Indonesia sudah meninggal per awal 2019, mereka adalah Bahrumsyah (April 2018), Bahrun Naim (November 2018), dan Faiz alias Abu Walid (Januari 2019). Sedangkan beberapa nama lain, termasuk Munawar Kholil, saat ini sedang ditahan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Selain itu, kecil kemungkinan bagi WNI berkualifikasi sebagai kombatan dari Irak dan Suriah untuk masuk ke Indonesia tanpa terdeteksi, mengingat pemeriksaan pihak imigrasi di Indonesia, Singapura, dan Malaysia relatif ketat.

Sehingga, kebanyakan WNI yang hendak dipulangkan pemerintah dari Irak dan Suriah adalah korban propaganda ISIS, didominasi oleh wanita dan anak-anak.

Pada 28 Maret 2019, BBC Indonesia memberitakan ada puluhan WNI yang di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah Timur. Maryam salah satunya, wanita asal Bandung, Jawa Barat. Ia dan keempat anaknya  ingin pulang ke Indonesia. Dalam pemberitaan lain, ada Dilfansyah Rahmani dan sembilan orang perempuan serta tiga anak-anak di kamp pengungsi Ain Issa di Suriah, mereka mengaku sebagai korban propaganda ISIS.

Atas dasar kemanusiaan dan keyakinan jika manusia adalah makhluk yang penuh dengan kesalahan, maka merupakan langkah yang bijaksana untuk memulangkan 'korban-korban ISIS' tersebut.

Namun, apabila pemerintah hendak mengembalikan mereka, maka diperlukan screening dan pemantauan yang sangat ketat. Sebab tidak menutup kemungkinan mereka masih memiliki bekas-bekas pemikiran untuk melakukan tindakan terorisme. Juga mengingat peran perempuan dan anak-anak dalam tindakan terorisme meningkat akhir-akhir ini. Seperti aksi terorisme di Surabaya dan Medan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2