Mohon tunggu...
Novelin Silalahi
Novelin Silalahi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis

Mahasiswa Pascasarjana, Analisis Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia. Alumni Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung. Saat ini sedang aktif sebagai Bendahara Umum Pengurus Pusat GMKI

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perdagangan Perempuan dan Anak

18 November 2021   01:49 Diperbarui: 18 November 2021   01:56 281
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kemajuan zaman yang terjadi saat ini seakan tidak ada batasnya lagi, semua dapat diakses, semua dapat dijangkau, semua dapat diketahui dengan mudah dan semua dapat dilakukan dengan hebat. Kemajuan ini tidak hanya berdampak positif, namun juga berdampak negatif.

Salah satu bentuk kejahatan di tengah kemajuan zaman yakni human trafficking atau yang biasa kita dengar dengan perdagangan manusia. Kejahatan ini sudah semakin merajalela, tidak hanya terjadi di dalam satu daerah ke daerah lain dalam satu negara, namun juga menembus batas negara. Perdagangan yang sifatnya tidak hanya diperjualbelikan di dalam negara, namun sampai  menembus batas negara.

Perlunya pemberantasan mafia atau induk sumber atas kejahatan ini, kita juga perlu memberantas faktor penyebab kejahatan ini, kejahatan ini biasanya terjadi pada masyarakat yang kurang mampu, atau bisa disebut faktor yang paling besar yakni kemiskinan. 

Korbannya adalah mereka yang terpinggirkan, terkhusus perempuan dan anak, persoalan kemiskinan mendorong orang untuk melakukan apapun yang dapat menyelamatkan hidupnya dan keluarganya. Faktor lainnya yakni minimnya tingkat pendidikan, faktor uang dan pengangguran.

Perdagangan Perempuan dan Anak yakni salah satu kejahatan yang termasuk ke dalam tindak pindana. Jual beli perempuan dan anak ini sudah lama terjadi, khususnya di Indonesia. 

Ada banyak pola yang terjadi, dimulai dari penjaringan penyaluran tenaga kerja yang berkedok distribusi tenaga kerja, pengangkatan anak, dan membantu perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

Sasaran mereka bukan wilayah perkotaan, melainkan anak anak dari kampung, anak muda yang baru lulus sekolah menengah atas, atau anak anak muda yang tidak bisa melanjutkan perkuliahan, yang orang tuanya memiliki pendidikan rendah seperti petani, nelayan, dan lainnya.

Modusnya, mereka direkrut dengan janji bekerja, diberi uang untuk orang tuanya, gaji yang fantastic dan cukup besar, dan di bawa keluar dari kampungnya menuju ke luar kota, dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial. Kasus ini besar terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Segala prosesnya begitu mudah, dimulai dengan proses administrasi yang mudah, semua mereka yang urus, termasuk pemalsuan dokumen. Lembaga mereka ini tidak legal. Sebelum berangkat disampaikan bahwa akan diberikan kursus, seperti pelatihan masak. Sebelum keberangkatan juga mereka akan menandatangani kontrak.

Yang dikirim bekerja keluar, banyak sekali kasusnya sampai tidak Kembali. Pun kembali dengan peti mayat. Ada juga yang lari bersembunyi ke tempat tempat yang mereka pikir aman, seperti hutan. 

Sebagian besar dari kasus ini juga memiliki peluang untuk terkena penyakit HIV/AIDS. Penyaluran berkedok distribusi tenaga kerja ini kebanyakan diproses ke Malaysia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun