Mohon tunggu...
Novel Abdul Gofur
Novel Abdul Gofur Mohon Tunggu... Konsultan di Bidang Kepemerintahan yang sudah pengalaman di sektor / isu pembangunan berkelanjutan selama 20 tahun

Lahir di Jakarta 28 Maret 1975 dan menempuh pendidikan S1 di UI Jurusan Adm Negara (FISIP) 2000, dan S2 di Makati, Phillipine, Asian Institute of Management (AIM), jurusan Development Management, 2005. Bekerja di sektor kepemerintahan untuk pembangunan berkelanjutan.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Tidak Pedulinya terhadap Sampah, Telah Menjadikan Sungai Citarum Sungai Terkotor di Dunia

11 Februari 2020   15:19 Diperbarui: 11 Februari 2020   16:13 80 0 0 Mohon Tunggu...

Tidak Pedulinya Terhadap Sampah, Telah Menjadikan Sungai Citarum Sungai Terkotor di Dunia

Begitu amat mengejutkan untuk para peserta pertemuan/seminar "Clean Water, Sustainable Water: Changing Behaviour to Improve Quality of Life" di @america, Jum'at 21 September 2018 lalu ketika diketahui bahwa Sungai Citarum merupakan sungai yang terkotor se-dunia (2017).

Seminar ini terlaksana atas inisiatif APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) dan YSEALI yang difasilitasi oleh @america, dihadiri oleh kalangan mahasiswa/pelajar, penggerak lingkungan, pemerintah, swasta dan juga peserta dari unsur LSM/Lembaga Swadaya Masyarakat, khususnya yang berkecimpung didunia lingkungan.

Fakta tentang Sungai Citarum menjadi yang paling kotor di dunia ini disampaikan oleh Deputy Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, yang menjadi salah satu pembicara di acara tersebut. Namun demikian, saat ini perbaikan-perbaikan untuk Sungai Citarum untuk menjadi bersih kembali - bebas dari sampah dan limbah - telah banyak dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Hasilnya lumayan bagus (lihat photo-photo dibawah ini), dan upaya ini terus dilakukan oleh para pemangku kepentingan lainnya hingga 2024. Setidak-tidaknya ini merupakan amanat Jokowi untuk tujuh tahun kedepan (dari 2017) kalau wilayah hulu dan hilir Sungai Citarum harus bebas sampah dan limbah, serta perbaikan wilayah kelola hulu.

Sungai Citaturum yang tahun lalu menyabet gelar menjadi sungai terkotor didunia disebakan berbagai masalah. Baik itu masalah yang terjadi karena buruknya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) / watershed management sehingga menyebabkan kerusakan parah di wilayah hulu, maupun karena ulah buruknya perilaku penduduk yang menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem Sungai Citarum di wilayah hilir.

Walaupun belum ada angka kerugian yang pasti akibat kerusakan Sungai Citarum ini, tentunya penulis yakin bahwa kerugian material dan non-material akibat rusaknya ekosistem Sungai Citarum sangatlah besar apabila dirupiahkan.

Intervensi untuk menyelesaikan masalah ini telah dilakukan oleh Pemerintahan Provinsi Jawa Barat (Jabar) selama ini, khususnya di masa Rezim Aher-DeMiz. Namum demikian, upaya baik yang dilakukan rezim ini belum membuahkan hasil yang optimal - bersihnya Sungai Citarum dari sampah dan limbah.

Sehingga, pada tahun 2017 Pemerintah Pusat, yang diwakili oleh Kementerian Koordinator Maritim mengambil alih urusan / kewenangan pengelolaan Sungai Citarum ini untuk bebas dari sampah dan limbah serta perbaikan di DAS.

Kemenko Kemaritiman bahkan membawahi beberapa kementerian terkait, juga TNI dan Polri, Provinsi Jabar, serta kabupaten dan kota di Provinsi Jabar, untuk melaksanakan tugas yang sama sekali tidak ringan ini.

Pelbagai penyebab kerusakan sungai, salah satunya diakibatkan karena sungai menjadi lahan untuk land-based waste oleh para penduduk (baik secara langsung maupun tidak langsung) yang ini banyak terjadi di wilayah hilir sungai. Artinya, sungai (termasuk kali-kali, selokan atau drainase) menjadi tempat sampah, sekali lagi SUNGAI MENJADI TEMPAT SAMPAH . Land-based waste merupakan sampah hasil rumah tangga dan sampah dari non rumah tangga (pabrik, took-toko, perkantoran, dll) }.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN