Mohon tunggu...
Naufal Ikbar
Naufal Ikbar Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Menulis untuk membuka cakrawala pengetahuan baru

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Dear Seleb, Sepak Bola Indonesia Lebih Kejam dari Youtube!

11 Juni 2021   23:23 Diperbarui: 11 Juni 2021   23:37 94 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dear Seleb, Sepak Bola Indonesia Lebih Kejam dari Youtube!
Raffi Ahmad menjadi salah satu selebriti yang terjun ke sepak bola. (Instagram.com/@rans.cilegonfc.official

Belakangan ini, sepak bola Indonesia tengah digegerkan dengan aksi yang dilakukan oleh beberapa selebriti tanah air. Nama-nama seperti Raffi Ahmad, Gading Marten, hingga Atta Halilintar membuat kejutan karena berani dan nekat untuk mengakuisisi klub sepak bola Indonesia. Raffi dengan RANS Cilegon FC, Gading Marten dengan Persikota, dan Atta Halilintar dengan AHHA PS Pati. Kabarnya akan ada artis-artis lain yang mengikuti jejak mereka. 

Langkah yang dilakukan oleh tiga selebriti itu terbilang berani dan nekat karena selama ini sepak bola Indonesia masih jauh untuk menuju industri yang ideal. Sepak bola industri bahkan hingga kini masih menjadi sesuatu yang asing untuk pengelola liga dan sebagian besar klub peserta. Buktinya, pendapat terbesar klub Indonesia hingga saat ini masih berasal dari penjualan tiket saat pertandingan.

Padahal dalam sepak bola industri, klub seharusnya dapat mencari sumber dana lain selain tiket pertandingan. Mengapa hal ini begitu penting? Kita dapat berkaca dengan kondisi industri sepak bola Eropa dalam situasi Pandemi Covid-19 saat ini. Klub-klub di Eropa setidaknya memiliki empat sumber pendapatan utama yakni tiket pertandingan, hak siar, sponsor, dan penjualan merchandise resmi.

Dengan kondisi ideal yang seperti itu, nyatanya klub-klub di Eropa tetap kelimpungan. Bayangkan kondisi yang terjadi di Indonesia. Sudah pasti kondisinya lebih parah. Hal ini bahkan terbukti ketika PSM Makassar dilanda masalah tunggakan gaji.

Selama ini industri sepak bola Indonesia sangat bergantung dengan kehadiran penonton di stadion. Masalahnya tidak semua klub diberkahi dengan ribuan suporter yang fanatik. Hal ini tentu menjadi PR yang besar untuk Raffi Ahmad dan Atta Halilintar. Klub yang mereka akuisisi boleh dibilang tidak memiliki basis massa yang besar.

Gading Marten agak sedikit beruntung. Persikota ketika dahulu berpentas di kasta tertinggi memiliki basis massa yang fanatik. Namun, yang menjadi pertanyaan mampukah Gading mengembalikan euforia itu? Apalagi saat ini Persikota masih terseok-seok di kasta liga paling bawah.

Di satu sisi Gading Marten juga akan menghadapi tantangan yang tidak mudah. Pengelolaan liga Indonesia kasta tertinggi saja masih carut marut, apalagi di kasta yang paling bawah. Jangankan bicara sepak bola industri, memikirkan cara agar tetap eksis saja sudah menjadi tantangan yang berat.

Lalu bagaimana dengan hak siar? Sepak bola Indonesia sebenarnya tidak mengenal hal itu. Liga Indonesia lebih mengenal kata subsidi. Perlu di garisbawahi, subsidi di sini bukan hal yang sama dengan subsidi dari pemerintah kepada rakyat.

Subsidi di liga Indonesia mengacu pada pendapatan klub yang bersumber dari hak siar pertandingan. Namun konsep ini sangat jauh berbeda dengan hak siar di Eropa. Di Eropa hak siar setiap klub jumlahnya berbeda, tergantung seberapa besar nilai yang dihasilkan klub itu bagi si pembeli hak siar.

Sementara itu di Indonesia besaran hak siar dibagi rata untuk semua klub. Artinya klub dengan basis massa yang besar akan menerima jatah hak siar yang sama dengan klub sepi peminat. Sekilas, kebijakan ini tampak adil. Namun untuk menciptakan industri sepak bola yang ideal, hal ini seharusnya tidak dilakukan lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x