Mohon tunggu...
Nour Payapo
Nour Payapo Mohon Tunggu... Harmony

Hanya fikiran Universal dapat menjawab masalah - masalah yang mengancam ketentraman dan kedamaian dunia. Universal itu tidak akan bertolak belakang dengan bagian Universal lainnya, apapaun tingkat masalahnya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Setop Kampanye Radikalisme

2 November 2019   04:51 Diperbarui: 2 November 2019   06:01 22 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setop Kampanye Radikalisme
Pingibaran Sang Merah Putih, http://m.idrisiyyah.or.id/

 Radikalisme itu keniscayaan. Faham yang menginginkan sebuah perubahan dengan cara-cara radikal. Hal ini sangat penting untuk dipahami, sebab kita tidak bisa mengukur, dimana batas radikal dengan moderat. Bagaimana kita mengetahui seseorang itu moderat jika tidak ada unsur radikal. Atau bagaimana kita mengukur tinggi jika tidak ada rendah, bagaimana mengukur panjang jika tidak ada pendek.  

Sebab itulah, banyak yang kini sadar bahwa kampanye radikalisme hanya bagian untuk membentuk Islamphobia, dan sayangnya ini tidak dipahami komprehensif oleh umat Islam sendiri. Radikalisme di dalam Islam adalah keniscayaan, begitupun moderatisme terus menerus ada. Semua agama-agama memiliki unsur radikalisme. Seseorang dapat saja berubah menjadi sangat radikal jika Ia dalam posisi tertekan. Maka pemahaman terhadap radikalisme Islam, harus dipahami dengan bijak terutama oleh pemerintah di Indonesia.  

Jika lebih jeli, unsur paling radikal di dunia adalah Tentara. Karena mereka didik untuk membunuh kemudian dipersenjatai. Jika di medan pertempuran, Anda tidak membunuh, maka Anda akan dibunuh. Perang di Timor, Papua, Maluku, Sulawesi, Aceh dan beberapa tempat di Indonesia dengan jumlah korban ratusan ribu orang, apakah ini bukan radikalisme. Karena tentara dilegalkan, ditugaskan untuk melindungi NKRI, maka semua unsur radikalisme yang menciderai kemanusiaan seperti dilegalkan. Padahal tentara juga membunuh, menghilangkan nyawa manusia.

Mari kita hitung jumlah korban dari perang di tahun terakhir. Aksi tentara di semua negara yang membunuh begitu banyak musuhnya (manusia), jauh lebih besar dari Islamphobia (radikalisme Islam) yang terus menerus dikampanyekan, dan dianggab berbahaya. Radikalisme itu sunnatullah, radikalisme Islam itu niscaya, karena sebagian pemeluk Islam berlandaskan kepada tafsiran-tafsiran kitab sucinya merasa berkewajiban melindungi Islam. Hanya saja, kini Islam bukan negara yang melegalkan adanya tentara sebagai bagian pertahanan.

Islam memiliki tentara, pada saat kekhalifahan Islam masih eksis, Islam hampir menguasai setengah Eropa. Hingga kekhalifahan terakhir Turky Utsmani 1924, Islam adalah sebuah negara. Kemudian kekhalifahan Islam pecah atau dipecah menjadi negara-negara kecil. Jika negara-negara Islam itu awalnya dikuasai seorang gubernur, kini wilayah-wilayah itu dimekarkan menjadi negara-negara yang dikuasai seorang presiden. Timur Tengah, Afrika, Asia, Eropa yang awalnya berada dalam satu pemerintahan (multi nasional), kini terpecah-pecah.  

Pecahnya kekhalifahan Islam menimbulkan perdebatan antara bagian-bagian Islam yang menginginkan kekhalifahan bangkit lagi, versus unsur Islam yang tidak berkeinginan Kekhalifahan Islam bangkit. Perdebatan ini merupakan hal yang lumrah. Hal ini biasa. Begitupun jika Islam memiliki bagian yang berfaham radikal, kami kira ini juga wajar saja, karena Islam pernah menjadi superpower. Begitupun jika Amerika, Eropa dan sekutunya tidak menginginkan Islam bangkit sebagai sebuah negara multinasional, ini juga hal yang wajar saja. Masing-masing punya kepentingan yang berbeda-beda.

Terpenting yang harus dipahami, historisasi agama-agama memberi informasi bahwa, Kristen juga memiliki bagian radikalisme. Tanpa pikiran radikalisme, Kristen tidak akan dapat mengerahkan pasukan dalam perang salib. Tentara terbentuk, dan kini tentara-tentara itu ada dalam ratusan negara yang berfikir untuk melindungi negaranya. Kebetulan saja, Islam memiliki pengalaman sebagai negara multinasional, sehingga spirit itu yang melahirkan keinginan untuk membangkitkan khilafah. Hal ini biasa saja. Islam juga pasti memiliki tentara, yang rela mati untuk Islam, sebagaimana tentara Indonesia atau tentara Amerika rela mati untuk negaranya. 

Dari pemahaman singkat ini, sepertinya presiden Jokowi saatnya berhenti bicara radikalisme Islam. Buang-buang biaya dan energi. Apalagi jadi program pokok pada beberapa kementerian untuk menghentikan radikalisme. Pikirkan saja keseimbangan dalam berbangsa dan bernegara. Jika radikalisme adalah hitam, dan moderatisme adalah putih, bagaimana menghapus hitam dari putih?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x