Mohon tunggu...
Norpikriadi
Norpikriadi Mohon Tunggu... Guru - Penulis lepas

Hanya seorang yang terus mencari

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kata Hujan tentang Kita

8 September 2021   13:17 Diperbarui: 12 September 2021   10:46 410 19 9
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kata Hujan tentang Kita
alexander pasaric. pexels_photos

Oleh : Norpikriadi

Hingga memasuki September, kemarau tahun ini kadang masih diwarnai hujan. Begitu pun hari ini, Minggu. Sejak pagi sebetulnya cuacanya cukup panas terik hingga ke siang, namun tiba-tiba saja berubah muram dengan mendung sebagai payung. Di kala sore, sang mendung pecah dan jatuh sebagai hujan. 

Perlahan aku membuka pintu depan. Memandang jatuhnya jutaan bilah air langit, menusuki bumi. Menguapkan sisa panas yang tersimpan di aspal jalan. Sementara rintiknya menabir pandangan, tiba-tiba saja sang hujan telah mewujud sebagai seseorang yang bisa kuajak bicara. Ini sebetulnya bukan pertemuan kami yang pertama. Seperti biasa, ia duduk di kursi teras. Spontan pula aku duduk di kursi satunya lagi, dan kami berdua dijaraki seonggok meja kecil.

"Kenapa roman mukamu keliatan risau?" sapa sang hujan terlebih dahulu. "Bukankah biasanya kehadiranku selalu menggembirakanmu, karena dalam keyakinanmu aku adalah rahmatNya?"

"Maaf... Jujur, aku memang lagi risau, tetapi ini..."

"Apa karena aku masih suka menyapa bumimu kendati sudah kemarau?"

Belum tuntas aku klarifikasi si hujan langsung ngegas aja. Aku ketawa. "Ah, kalau itu aku malah suka, karena pada dasarnya aku tak betah dengan pengapnya kemarau. Apalagi di negeri ini, datangnya kemarau seringkali membawa bencana asap. Tak ada alasan aku merisaukanmu. Asal jangan datang dengan energimu yang berlebih saja," kataku kemudian sambil tersenyum.

"Maksudmu berlebih?" Ia menghujamkan tatapan tajam.

"Ya, berlebihlah bila engkau datang bersama badai petir, angin puting beliung, banjir.... Pendeknya yang mendatangkan bencana."

"Ah, apapun itu, jika menyangkut bencana yang berkaitan denganku, jangan salahkan aku dong!" Hujan membela dirinya. "Banjir misalnya. Bagaimana tidak menimpa kalian, jika sesudah terjun dari langit tak ada lagi penampung alami untukku? Hutan di gunung kalian babat tanpa reboisasi. Kalian keruk tambang di situ dengan sepenuh-penuh nafsu. Padahal di situlah 'atap' kalian dulu, tempat aku diserap untuk menggemburkan tanah, menyuburkan segala tumbuhan dan tanaman. Jangan salahkan bila dengan tak adanya semua itu aku dan jutaan kubik kawanku yang terjun dari langit, ketika tiba di bumi langsung meluncur, meluapkan sungai-sungai. Menghantam dahsyat apa dan siapa saja. Sesudah 'atap'-nya kalian lubangi, rawa-rawa di daerah bawah sebagai 'lantai' banyak pula kalian uruk untuk komplek-komplek pemukiman. Jadinya tak punya lagi aku tempat untuk meresapkan diri. Nah, salah siapa bila akumulasi air dariku kemudian merendam kalian? Jadi, jangan salahkan..."

"Sudah... Sudah!" Giliran aku yang memotong sambil mengibaskan tangan. "Kali ini aku tidak mood  membahas tema lingkungan. Sudah jelas itu salah kami, manusia. Cuma engkau jangan pula sebarbar itu menyamaratakan semua orang sebagai biang kerok kerusakan alam. Walau bagaimana orang sepertiku yang justru jumlahnya paling banyak, hanyalah korban. Kebanyakan dari kami adalah manusia lemah yang tak termasuk dalam gelintir orang-orang yang punya kuasa. Kuasa politik dan kuasa duit. Mereka itulah yang menjadi pangkal sebab segala bencana yang kaubeberkan tadi. Sementara kami..., ya kami, hanyalah deretan korban yang tak punya akses untuk ikut menikmati hasilnya," kataku balas membela diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan