Mohon tunggu...
Norman Meoko
Norman Meoko Mohon Tunggu... Lainnya - Penulis

Menulis Tiada Akhir...

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Ketika Media Cetak Tergagap-gagap

26 Juli 2021   08:17 Diperbarui: 26 Juli 2021   16:29 310 18 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Media Cetak Tergagap-gagap
Diakui atau tidak perkembangan media online atau dotcom telah mengubah cara kerja di media arus utama (Photo by Digital Buggu from Pexels)

ZAMAN cepat berubah gais. Siapa yang tak mampu beradaptasi maka siap-siap hengkang dari gelanggang.

Agaknya itu juga yang terjadi di dunia media. Banyak - maaf - jurnalis yang gagal maning ketika tiba-tiba harus bermain di areal media online. Mereka terseok-seok ketika konvergensi media diterapkan. Newsroom menjadi barang baru yang harus dilakukan.

Diakui atau tidak perkembangan media online atau dotcom telah mengubah cara kerja di media arus utama. Padahal dalam perkembangan awalnya konvergensi media online baru terjadi di Indonesia pada 1995-1997 ketika sejumlah media cetak mulai berlaga di media online seperti Republika Online, Kompas.com, Tempointeraktif dan Mediaindonesia.com

Ketika itu masih hanya berupa copy dari versi cetak (shovelware). Lalu tidak dikembangkan sebagai unit bisnis, belum ada business model yang dirancang menghasilkan keuntungan dan lebih digunakan sebagai simbol prestise atau up to date.

Baru kemudian pada 1998-2003 dotcom booming. 

Saat itu baru ada Detik.com, Satunet.com dan Astaga.com. Di era ini dotcom benar-benar meraja. Persaingan menjadi ketat. Dotcom dianggap sebagai unit business untuk mendulang rupiah demi rupiah. Lalu model business menjadi andalan dan didominasi media non mainstream cetak.

Baru pada 2004 dan seterusnya bermunculan dotcom-dotcom lainnya. Ibarat jamur di musim hujan. Muncul Vivanews, Liputan6.com. Bejibun pokoknya. Belum dotcom yang kontennya lebih spesifik misalnya berita-berita sepak bola. 

Wah banyak deh! Di era ini, media mainstream mulai serius mengembangkan konvergensi, persaingan kian ketat, unit bisnis sejajar dengan cetak, model business bervariasi dan mulai berlaku kepemilikan silang. Dotcom mulai menjadi mesin uang bagi pengelola media.

Masalahnya sekarang bagaimana proses jurnalis cetak beralih ke media online? Apa tantangan jurnalistik cetak ketika bermain di dotcom?

Tidak semudah membalikan telapak tangan. Senior saya Bang Isson Khairul mengambil contoh bagaimana tergagapnya jurnalis The New York Time ketika dipaksa bermain pada media dotcom.

Apa yang dikatakan senior saya itu memang benar. Tak mudah bagi teman-teman yang selama ini berlaga di medan pertempuran cetak banting stir ke media online.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x