Mohon tunggu...
Norberth Javario
Norberth Javario Mohon Tunggu... Konsultan - Pengelana Ilmu

Menulis bukan untuk mengumpulkan pujian, menjadi inspirasi, menyenangkan atau malah membuat jengkel orang, tetapi semata demi Menata Pikiran

Selanjutnya

Tutup

Bola

Deja Vu Southgate

25 Juli 2021   16:45 Diperbarui: 26 Juli 2021   20:02 102 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Deja Vu Southgate
Sumber: Screenshoot dari handphone

Setelah Andreas Moller tuntas menunaikan tugasnya sebagai eksekutor penalti keenam, sang kapten Jerman itu berlari ke arah tribun penonton Inggris, menghadap dengan angkuhnya, memamerkan salam kemenangan dengan berkacak pinggang. Tak ada yang lebih menyakitkan bagi para pendukung Inggris selain momen tsb. Meski demikian, cerita Moller tenggelam oleh sorotan negatif pada satu sosok dari Inggris yakni Gareth Southgate.

Kisah tsb terjadi di  Wembley - stadion kebanggaan Inggris - pada semifinal Euro 1996 kala Inggris bertindak sebagai tuan rumah. Laga mesti ditentukan dengan adu penalti setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal dan babak tambahan. Saat babak tos-tosan itu, Gareth Southgate menjadi satu-satunya penendang yang gagal. Euforia besar dari fans The Three Lions terhadap timnya lenyap, musnah seiring dengan momen di mana Moller berlari berkacak pinggang dengan gayanya. Football Coming Home hanya menjadi nyanyian sunyi belaka. Nada-nadanya tak lagi merdu di telinga. Ia seolah menjadi lagu pengganggu tidur. Kenyataan yang dihadapi tuan rumah tak seindah fantasi. Kegagalan penalti Southgate itu terus meneror dirinya, dan butuh waktu bertahun-tahun menghapus trauma dari memori kelam itu. Kegagalan tsb seolah membuat dirinya jatuh terpuruk. Ia menjadi pesakitan yang memupus harapan tinggi jutaan pendukung Inggris.

Dua puluh lima tahun kemudian, Gareth Southgate berdiri di tempat yang sama, pada stadion yang sama tetapi dengan peran berbeda. Ia kini menjadi orang nomor satu dalam jajaran kepelatihan Inggris. Di tangannya-lah digantungkan harapan seperti dua puluh lima tahun lalu, Inggris dengan pemain-pemain terbaiknya mampu menguasai benua biru, menjuarai Piala Eropa 2020.

Tak seperti kisah seperempat abad silam, kali ini Inggris mampu membalas sakit hati pada Jerman. Tim Panzer dibantai dua gol tanpa balas di babak 16 besar. Dan tak seperti kisah yang lalu itu juga di mana langkahnya terhenti di semifinal, kali ini Inggris dengan barisan pemain mudanya melenggang mulus ke final. Lawannya adalah Azzuri Italia asuhan Roberto Mancini.

Segalanya berjalan mulus bagi Inggris di awal pertandingan. Guna menguasai laga, Southgate menumpuk pemain di lini tengah dengan menerapkan formasi 3-4-2-1. Italia tak siap. Rasanya tak percaya jika gol Inggris datang dari umpan silang jauh pemain sayap kanan yang tak terkawal ke sayap kiri yang juga tak terkawal sehingga punya ruang untuk membuat tendangan voli menaklukkan Donarumma.

Selanjutnya Inggris melambatkan tempo guna mengontrol pertandingan. Tak banyak yang bisa dilakukan Italia. Namun Roberto Mancini membuat Italia benar-benar berubah di babak kedua. Sesuatu yang normal jika dalam posisi ketinggalan, formasi diatur untuk menyerang. Sesuatu yang normal pula jika kemudian Italia lebih banyak menguasai bola dan ciptakan peluang sampai akhirnya mendapat gol balasan penyama kedudukan. Mancini memerintahkan bek sayapnya untuk maju jauh ke depan saat bola dikuasai timnya. 

Sebagai gantinya, Veratti berdiri sangat dalam tepat di depan duo bek sentralnya guna mengalirkan bola sebagai awal serangan. Taktik ini manjur membuat Italia leluasa menguasai bola.

Secara umum pertandingan berjalan dengan agak membosankan. Tak ada jual beli serangan. Kedua tim nampak berhati-hati dan mengutamakan pertahanan. Agak aneh juga melihat duo bek raksasa Italia sarat pengalaman, Bonucci dan Chielini, harus mendapatkan kartu kuning karena ulah dua pemain muda nan mungil inggris, Sterling dan Saka. 

Sterling sendiri tampil ibarat Dewi Persik dengan goyangan-goyangan mautnya yang cukup merepotkan bek lawan. Di pihak lawan, Chiesa seolah menjadi hantu bagi pertahanan Inggris. Perubahan posisinya ke kiri menciptakan lebih banyak ruang. 

Beruntung bagi Inggris, hantu bernama Chiesa itu cedera. Keberuntungan bukan hanya milik Inggris. Kartu kuning yang diterima Jorginho juga bisa dibilang keberuntungan. Melihat terjangannya ke Kalvin Phillips yang begitu keras, sudah seharusnya wasit mencabut kartu merah. Nasib baik buat Italia.

Dan, trauma itu datang lagi di saat perpanjangan waktu pun situasi tetap imbang. Disebut trauma karena dalam ajang penalti ini, Inggris  lebih banyak sialnya. Namun, kenyataan saat ini menghendaki demikian. Show must go on. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN