Mohon tunggu...
noor johan
noor johan Mohon Tunggu... Jurnalis - Foto Pak Harto

pemerhati sejarah

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Bapak Pembangunan dan Pahlawan Nasional

15 Januari 2022   08:18 Diperbarui: 15 Januari 2022   08:22 169 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Tahanan Politik Menjadi Pahlawan Nasional

Datang berita dari Zurich, Swiss,  Sutan Syahrir yang terkena stroke di dalam tahanan dan dijinkan berobat ke Swiss, meninggal dunia pada 9 April 1966.  

Syahrir bersama antara lain Mochtar Lubis, Anak Agung Gde Agung, Prawoto Mangkusasmito, EZ Muttaqiem, KH Isa Anshary, Mohammad Natsir, Syafrudin Prawiranegara ditahan sejak Januari 1962 dengan sangkaan anti persatuan dan kesatuan. Namun dua nama terakhir ditambah dengan tuduhan terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).                                                                                                   

Mengetahui kematian Syahrir, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres no 76 tahun 1966, menetapkan Sutan Syahrir menjadi Pahlawan Nasional. Sutan Syahrir menjadi Pahlawan Nasional dalam saat meninggal dalam status  sebagai tahanan politik.

Pada masa penjajahan kolonial Belanda, Bung Syahrir dan Bung Hatta diasingkan ke Boven Digul dan Banda Neire selama lebih dari enam tahun, sedangkan Bung Karno diasingkan ke Ende dan Bengkulu. 

Ketiga Bapak Bangsa ini lebih memilih penjara dan tempat pengasingan demi memerdekakan Bangsa-nya. Padahal sebagai intelektual berpendidikan tinggi, gaji besar dan hidup mewah sangat mudah mereka dapatkan jika mau berkolaborasi dengan kekuasaan, namun mereka memilh "oposisi".                        

Dan sejatinya hanya tiga Bapak Bangsa ini yang layak dipanggil "Bung" seperti ditulis oleh Chairil Anwar dalam puisi "Antara Kerawang Bekasi". "Menjaga Bung Karno---Menjaga Bung Hatta---Menjaga Bung Syahrir." 

Jika Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden yang pertama maka Bung Syahrir adalah Perdana Menteri  Indonesia yang pertama.

Sejak 14 November 1945,  Sutan Syahrir menahkhodai Republik Indonesia sebagai Perdana Menteri. UUD 1945 yang mengatur sistem pemerintahan Presidensial, berubah menjadi Parlementer. Pada waktu wartawan bertanya kepada Bung Karno, apakah ia secara politik sudah dipatahkan oleh Bung Syahrir? Bung Karno menjawab; "Ibarat rotan, saya tidak patah, hanya melengkung."  Begitu piawai Bapak Bangsa membuat metafor.

Perdana Menteri  Sutan Syahrir menjalankan politik diplomasi berunding dengan Belanda, namun  langkah politik ini mendapat penolakan dari sebagian politisi dan sebagian militer.                                                                                                     

Ketua Persatuan Perjungan, Tan Malaka, tegas menolak  politik yang dilakukan Perdana Menteri Sutan Syahrir. Kelompok ini menghendaki kedaulatan penuh seluruh Indonesia, tidak hanya Jawa dan Madura seperti perundingan yang dilakukan Syahrir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan