Mohon tunggu...
Nol Deforestasi
Nol Deforestasi Mohon Tunggu... profil
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Nusantara Hijau

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?

16 Mei 2019   16:02 Diperbarui: 16 Mei 2019   16:30 0 0 1 Mohon Tunggu...
Kemunduran Pertanian, Saatnya Ganti Mentan?
ilustrasi. Pixabay/Pertanianku.com

Senin, 6 Mei 2019, tepat hari pertama bulan Ramadan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan I 2019 sebesar 5,07%.  Angka tersebut secara year on year (YoY) lebih bagus ketimbang catatan kuartal I 2018 sebesar 5,06%, termasuk pada periode yang sama tahun 2017 yang berada dia angka 5,01%.

Ditilik berdasarkan lapangan usaha, sektor industri, perdagangan, dan pertanian masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tiga bulan pertama tahun ini.

Sebagai negara agraris, sektor utama yang perlu kita cermati adalah pertumbuhan sektor pertanian yang memiliki jumlah angkatan kerja terbesar, berkisar 30% dari jumlah total angkatan kerja nasional. Data BPS menunjukkan ternyata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor pertanian hanya sebesar 1,81% YoY. Tentunya angka itu sangat jauh dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Kontribusi sektor pertanian terhadap total PDB nasional tercatat sebesar 12,65%.

Padahal sektor pertanian pada kuartal I 2018 masih bisa tumbuh sebesar 3,34% YoY. Ironisnya, pertumbuhan tahun ini tercatat sebagai pertumbuhan PDB sektor pertanian terendah setidaknya sejak kuartal I 2017.

Bahkan pada tiga bulan pertama 2019, pertumbuhan PDB tanaman pangan bahkan terkoreksi hingga 5,94% YoY. Artinya produksi tanaman pangan, yang utamanya masih disumbang oleh beras, jauh lebih sedikit sepanjang triwulan pertama 2019 dibanding tahun sebelumnya.

Dalam penjelasannya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, perlambatan tersebut terjadi karena adanya pergeseran masa panen padi. Ia bilang pada tahun 2018 puncak masa panen padi terjadi di sekitar bulan Maret, sehingga masuk dalam perhitungan PDB triwulan I.

Sementara itu, tahun ini puncak masa panen padi jatuh di sekitar bulan April. Pergeseran tersebut membuat pertumbuhan PDB tanaman pangan kuartal I 2019 mengalami koreksi cukup dalam.

Namun, alasan tersebut bukanlah satu-satunya alasan mengapa terjadi koreksi pertumbuhan PDB tanaman pangan. Data BPS menunjukkan pada periode yang sama tahun sebelumnya PDB tanaman pangan Indonesia juga terkoreksi hingga 3,42% YoY.

Di sektor tanaman hortikultura, meskipun tumbuh hingga 6,18% YoY pada kuartal I 2019, sejatinya mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya. Karena pada kuartal yang sama tahun lalu, sektor ini bisa tumbuh 7,02% YoY. Demikian pula dengan tanaman perkebunan dimana hanya mampu tumbuh 3,33% YoY pada kuartal I 2019, melambat ketimbang kuartal I 2018 yang tumbuh hingga 7,19% YoY.

Hal ini berarti ada sebab lain menyebabkan pertumbuhan PDB di sektor pertanian jauh melambat dibanding tahun sebelumnya. Sayang Suhariyanto enggan menjelaskan lebih jauh perihal tersebut.

Ekspor Pertanian Ikut Loyo

ilustrasi ekspor. merdeka.com
ilustrasi ekspor. merdeka.com
Tidak hanya PDB pertanian yang mengalami koreksi, ekspor pertanian pada April 2019 juga loyo. Data BPS menunjukkan, pada April 2019 ekspor pertanian tercatat sebesar US$0,25 miliar atau US$250 juta. Pencapaian tersebut terkoreksi sebesar 6,74% secara Month on Month (MoM) atau berbanding Maret 2019 yang tercatat mencapai US$0,27 miliar alias US$270 juta.

Untuk perbandingan YoY, nilai ekspor sektor pertanian periode Januari-April 2019 terpantau menurun tajam sebesar 15,88% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menanggapi angka-angka tersebut, Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang Sugiharto tidak setuju jika sektor pertanian dijadikan kambing hitam atas melempemnya pertumbuhan PDB nasional triwulan I 2019. Ia berdalih, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi secara YoY jelas-jelas positif, yakni 1,81%.

Pihaknya menyayangkan melihat kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan PDB hanya dilihat dari PDB sub sektor tanaman pangan. Padahal, sektor lainnya tumbuh lebih besar salah satunya sektor peternakan mampu tumbuh 7,95% YoY atau lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 3,94% YoY.

Kementan boleh saja berdalih demikian. Tapi data juga berbicara. Sektor tanaman pangan setidaknya dalam dua tahun terakhir terkontraksi cukup dalam, 5,94% YoY pada kuartal I 2019 dan 3,42% YoY pada kuartal I 2018. Kepala BPS sendiri sudah menyatakan sebabnya ada faktor lain yang menyebakan kontraksi dalam tersebut, bukan sekedar pergeseran masa panen padi.  


Pertanian Salah Satu Sektor Paling Mundur

locita.co
locita.co
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai pada periode rezim Kabinet Kerja 2014-2019 sektor produktif di Indonesia dapat dikatakan menurun terus. Ketersediaan pangan menjadi terus menerus dilanda masalah.

Sebagai negara agraris seharusnya Indonesia mampu mengatasi masalah pangan dengan baik. Namun, yang terjadi justru kemunduran. Ia menilai Kabinet Kerja sangat lemah di titik koordinasi.

"Pangan dalam arti luas mengalami kemunduran, baik dari efektivitas dan efisiensi. Jangan hanya bicara besaran importasi pangan, tetapi kesejahteraan petani ini sangat menjauh. Pertanian menjadi salah satu sektor yang paling mundur," ujar Enny.

Enny mengatakan, Menteri Pertanian ke depan harus memberikan insentif ekonomi kepada petani. Sehingga, petani bisa tumbuh dan sejahtera. "Jelas saja, masyarakat semakin enggan jadi petani. Jangankan masalah prestise, insentif ekonomi saja tidak ada. Kalau sektor pertanian ditingggalkan, lalu masyarakat Indonesia mau makan apa?"


Acuan:
Pertumbuhan Ekonomi Loyo Gara-gara Pertanian Pangan Negatif
BPS: Pertanian Dongkrak Pertumbuhan PDB Kuartal I 2019
Petani Curhat, Tak Diperhatikan Menteri Pertanian soal SDM

VIDEO PILIHAN