Wahab Naira Sairun
Wahab Naira Sairun mahasiswa

Barcelonista| Banda Ely | Boyfulan Sio

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mengapa Kanker Paru dan Payudara Tertinggi di Indonesia?

25 Agustus 2015   12:02 Diperbarui: 25 Agustus 2015   12:02 7366 9 10

[caption caption=" Kanker (Arrahmah.com)"][/caption]

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama bagi manusia di seluruh penjuru dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh kanker, dengan spesifikasi kanker paru, hati, perut, kolorektal, dan kanker payudara adalah penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya (INFODATIN, 2014). Penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel ini dapat menyebabkan pembelahan sel melebihi batas normal. Akibat yang ditimbulkan dalam pembelahan sel adalah menyerang jaringan biologis di dekatnya, dan dapat bermigrasi ke jaringan tubuh melalui sirkulasi darah.

Di seluruh dunia, kanker menjadi penyakit yang memberikan masalah besar kepada manusia. 12,5 persen kematian yang terjadi disebabkan oleh kanker. Di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, menjadi wilayah yang didominasi oleh penyakit kanker dengan memberikan persentase melebihi 50 persen pada manusia.

Berdasarkan data profil mortalitas Kanker (Cancer Mortality Profile) yang dirilis oleh (WHO 2014) menyebutkan, angka kematian yang disebabkan oleh kanker di Indonesia mencapai 195.300 orang dengan prevalensi kematian terbanyak pada laki-laki sebanyak 103,100 orang dan perempuan mencapai 92,200 orang. Kematian pada laki-laki di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit ini terdiri dari beberapa jenis kanker yang memberikan kontribusi besar terhadap profil mortalitas kanker (Cancer Mortality Profile): kanker tracea, broncus, lung (21,8%); liver (12,3%); Colorectum (10,2%); prostate (8,9%); mouth and oropharynx (7,5%); Other (39,3%). Sedangkan jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan Indonesia berdasarkan Profil Mortalitas Kanker terdiri dari: kanker payudara (21,4%); cevix uteri (10,3%); tracea, broncus, lung (9,1%); Colorectum (8,5%); Ovary (7,6%); Other (43,1%).

[caption caption="Data Profil Mortalitas Kanker Indonesia (WHO)"]

[/caption]

Sedangkan menurut data GLOBOCAN (IARC) yang dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperlihatkan, estimasi persentase kasus baru dan kematian akibat kanker pada tahun 2012, yaitu kanker paru pada laki-laki untuk kasus baru mencapai 34,2 persen dan kematian mencapai 30,0 persen. Sedangkan pada perempuan, kanker payudara menjadi sumbangsih terbesar terhadap kasus baru dan kematian yang mencapai 43,3 persen dan 12,9 persen.

Dengan melihat data yang dihimpun oleh WHO dan GLOBOCAN (IARC), menempatkan kanker paru pada laki-laki dan kanker payudara pada perempuan sebagai jenis penyakit kanker tertinggi di Indonesia. Hal ini terindikasi akibat kurangnya pola hidup sehat oleh penderita kanker, khususnya pada kanker paru dan payudara.

Kanker Payudara

Kanker payudara menjadi jenis kanker yang sangat menakutkan bagi perempuan Indonesia. Kanker payudara cenderung berdampak pada wanita yang memasuki usia senja di atas 50 tahun. Terdapat 8 sampai 10 kasus kanker payudara terjadi pada wanita di usia ini.

Ada beberapa faktor pemicu munculnya kanker payudara pada wanita. Selain disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan, kebiasaan gaya hidup sehari-hari menjadi momok munculnya kanker payudara (Fokus bahasan saya hanya pada faktor gaya hidup).

Perempuan dan gaya hidup tak bisa dilepaspisahkan dalam kehidupan perempuan. Alih-alih memuaskan hasrat untuk terlihat tampil beda dalam berpenampilan, dengan lekuk tubuh, menonjolkan dan memperbesar payudara sehingga tampak seksi, malah berakibat fatal pada kesehatan. Salah satu penyebab munculnya kanker payudara dalam tinjauan gaya hidup cenderung disebabkan oleh keinginan memperbesar payudara. Memperbesar payudara seakan menjadi tren perempuan masa kini (maaf meskipun tidak semua perempuan melakukan hal ini).

Bukannya tak mensyukuri nikmat Tuhan, bermacam cara dilakukan untuk dapat memperbesar payudara. Metode yang umum digunakan adalah implan payudara. Implan payudara menjadi metode yang paling direkomendasikan oleh perempuan saat ini. Fatalnya, perempuan seperti tak menghiraukan implikasi dari metode implan payudara tersebut. Kanker payudara yang disebabkan oleh implan payudara, disampaikan oleh seorang peneliti asal Kanada yang dilaporkan dalam BMJ (British Medical Journal) (May, 2013). Menurutnya, wanita yang menggunakan implan payudara berisiko terkena kanker payudara lebih tinggi daripada wanita yang tidak menggunakan. Risiko wanita yang meninggal akibat implan payudara, 38 persen lebih tinggi daripada wanita yang tidak menggunakan.

Kelebihan berat badan (obesitas) menjadi masalah serius pada wanita. Pola hidup dan pola konsumsi makanan yang tidak teratur, menjadi bagian dari penyebab peningkatan obesitas. Peningkatan berat badan disebabkan oleh hormon estrogen sehingga menjadi pemicu munculnya kanker payudara. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Linda Anggrowati dan diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat mengungkapkan “Jumlah hormon estrogen di dalam tubuh yang berlebihan disebabkan oleh timbunan lemak yang kemudian berpengaruh terhadap proses politerasi jaringan payudara”.

Faktor lain yang menjadi pemicu munculnya kanker payudara bagi wanita adalah alkohol. Wanita yang mengonsumsi alkohol dapat menyebabkan kanker payudara. Penelitian yang dilakukan oleh Steven J Bowlin dkk., yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology melaporkan, bahwa 25 persen kanker payudara pada wanita berusia 20 sampai 79 tahun diakibatkan oleh konsumsi alkohol.

Kanker Paru

Kanker paru-paru dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Namun, prevalensi antara laki-laki yang terkena kanker paru-paru lebih tinggi dibandingkan perempuan. Menurut data yang dirilis WHO tahun 2014 memperlihatkan, munculnya kanker (Cancer Incidence) pada laki-laki Indonesia untuk jenis kanker paru-paru mencapai 25,322 orang dengan profil mortalitas sebesar 21,8 persen/103,100 orang, dan pada wanita tiga kali lebih sedikit, sebesar 9,374 orang dengan profil mortalitas mencapai 9,1 persen/92,200 orang.

Rokok menjadi penyebab utama kanker paru-paru. Baik perokok aktif maupun perokok pasif semuanya cenderung terkena kanker paru-paru. Dikutip dari sumber ini menyebutkan 80-90 persen kasus kanker paru-paru adalah merokok. Sehingga perokok aktif merupakan kelompok yang paling berisiko terkena kanker paru-paru. Asap rokok yang diisap mengandung lebih dari 50 zat-zat pemicu kanker yang akan memberi dampak secara langsung terhadap jaringan paru-paru. Kanker yang timbul akibat merokok dapat disembuhkan. Namun, apabila akumulasi dan paparan asap rokok berlangsung terus-menerus menyebabkan kerusakan pada jaringan paru-paru sehingga sel-sel dalam paru-paru bereaksi secara tidak normal hingga akhirnya muncul sel kanker.

Indonesia merupakan negara dengan tingkat konsumsi rokok terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Setidaknya konsumsi rokok Indonesia mencapai 225 miliar batang per tahun dan meningkat menjadi 302 miliar batang per tahun pada tahun 2013.

Seperti dikutip beritasatu Konsumen rokok di Indonesia mencapai 46,16 persen. Dengan perokok aktif laki-laki dan perempuan naik 35 persen pada tahun 2012 atau berkisar 61,4 juta perokok pada 2013.

Dengan melihat data di atas, terjadi peningkatan prevalensi konsumsi rokok setiap tahunnya, sehingga turut berkontribusi terhadap meningkatnya kanker paru-paru yang berimbas pada kematian.

Solusi Pencegahan Kanker

Kanker, bukannya tidak dapat disembuhkan atau dicegah. Karena kanker umumnya merupakan penyakit yang disebabkan oleh melakukan gaya hidup, maka upaya preventif mengurangi atau menjauhkan diri dari bahaya kanker adalah menjaga pola gaya hidup sehat. WHO menyatakan, 34 persen kanker dapat dicegah. Terjadinya kanker, idealnya dapat dicegah dengan tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, menjaga pola hidup yang sehat, mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat dsb.

Semoga Bermanfaat

Sumber lain:

World Health Organization-Cancer Country Profile. 2014

INFODATIN, Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2014.

Lindra Anggrowati. 2013. Faktro Risiko Kanker Payudara. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 121-126