Mohon tunggu...
Asis Nojeng
Asis Nojeng Mohon Tunggu... Onthelis

Selalu Riang

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana

Puasa, Ajang Memetamorfosis Diri

21 Mei 2019   15:55 Diperbarui: 21 Mei 2019   16:16 0 0 0 Mohon Tunggu...
Puasa, Ajang Memetamorfosis Diri
brilio.net

Mampukah Puasa mengubah diri kita?Ramadan dihadirkan oleh Allah Swt.,sebagai ajang bermuhasabah atau mengintrospeksi diri. Sejatinya, memang ramadan menjadi tempat merenung yang tepat, menjadi bulan untuk mengoreksi diri bukan malah ramadan sebagai tempat untuk menyiksa diri sebab setelah ramadan yang kita dapatkan Mampukah Puasa mengubah diri kita?Ramadan dihadirkan oleh Allah Swt.,sebagai ajang muhasabah atau mengintrospeksi diri. Sejatinya, memang ramadan menjadi tempat merenung yang tepat, menjadi bulan untuk mengoreksi diri bukan malah ramadan sebagai tempat untuk menyiksa diri sebab setelah ramadan yang kita dapatkan hanyalah haus dan lapar saja. Puasa kita tak mengandung pahala.

Ternyata, bukan hanya manusia yang berpuasa, tapi ada beberapa binatang yang juga berpuasa. Tentu binatang yang berpuasa bukan dengan tanpa alasan.

Binatang yang pertama yakni ayam. Binatang yang hampir setiap hari kita konsumsi dagingnya dan mudah kita dapatkan di pasar-pasar tradisional ini kita kenal dengan perkembang biakannya melalui bertelur. Saat ayam ingin menghasilkan keturunan, maka ayam akan mengerami telurnya selama 21 hari atau 3 pekan. Masa mengerami telurnya itu, ayam berpuasa agar suhu tubuhnya tetap stabil. Saat mengeram, ayam tidak kemana-mana, mengabaikan apa yang terjadi di dunia luar hingga telurnya  haus dan lapar saja. Puasa kita tak mengandung pahala.

Ternyata, bukan hanya manusia yang berpuasa, tapi ada beberapa binatang yang juga berpuasa. Tentu binatang yang berpuasa bukan dengan tanpa alasan.

Binatang yang pertama yakni ayam. Binatang yang hampir setiap hari kita konsumsi dagingnya dan mudah kita dapatkan di pasar-pasar tradisional ini kita kenal dengan perkembang biakannya melalui bertelur. Saat ayam ingin menghasilkan keturunan, maka ayam akan mengerami telurnya selama 21 hari atau 3 pekan. Masa mengerami telurnya itu, ayam berpuasa agar suhu tubuhnya tetap stabil. Saat mengeram, ayam tidak kemana-mana, mengabaikan apa yang terjadi di dunia luar hingga telurnya menetas. Tapi, apakah setelah berpuasa ada perubahan karakter bagi ayam? Jawabannya tidak, ayam tetaplah ayam, sifat-sifat kebinatangan yang dimiliki oleh binatang tetap melekat pada ayam.

Binatang yang berpuasa kedua adalah ular. Untuk melangsungkan kehidupannya, maka ular akan mengganti kulit. Ular mengganti kulit empat atau delapan kali dalam setahun, saat mengganti kulit itu ular akan berpuasa untuk membantu proses penggantian kulitnya. Tapi, apakah setelah berpuasa ular berubah menjadi binatang yang tidak rakus? Tidak, setelah berpuasa, ular tetaplah memiliki sifat ular yang rakus dan mematikan.

Binatang berikutnya yang juga berpuasa yakni ulat. Sebelum bermetarmorfosis, ulat adalah binatang perusak, binatang yang menjijikkan, saking menjijikkannya setiap ada orang yang melihatnya akan membunuh atau menghalaunya. Saat ulat ingin melakukan metamorfosis menjadi kepompong dan kupu-kupu, ulat akan membungkus dirinya, berpuasa selama ia dalam kepompong. Ketika proses metarmorfosisnya berhasil, keluarlah ia dari kepompong menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang indah. 

Sebelum berpuasa ulat berjalan dari daun yang satu ke daun yang lain, setelah berpuasa ulat terbang, dan hinggap dari yang satu ke daun yang lain. Sebelum berpuasa ulat, merusak daun tapi setelah berpuasa ulat membantu cikal bakal buah. Sebelum berpuasa, ulat adalah binatang yang menjijikkan tapi setelah berpuasa dan menjelma menjadi kupu-kupu maka ia menjadi binatang yang sangat di senangi. Bahkan kehadirannya membuktikan bahwa betapa hebatnya Allah dalam menciptakan makhluknya.

Setelah berpuasa, ulat mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik. Ulat mampu keluar dari pertapaannya yang mendalam dan menjadi sesuatu yang indah.

Apakah manusia setelah keluar dari pertapaannya akan menjadi manusia seutuhnya? Ataukah masih sama dengan sebelum ia melakukan perenungan yang mendalam? Ataukah memang manusia hanya sekadar berpuasa?

Nah, apakah setelah berpuasa kita masih tetap seperti ayam dan ular ataukah puasa mampu menggembleng kita agar menjadi ulat yang bermetamorfosis menjadi sebuah kupu-kupu?