Mohon tunggu...
Asis Nojeng
Asis Nojeng Mohon Tunggu... Aktor

Selalu Riang

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Memaknai me- dan di- Sebelum, Sedang, dan Setelah Berpuasa

20 Mei 2019   06:34 Diperbarui: 20 Mei 2019   09:51 0 0 3 Mohon Tunggu...
Memaknai me- dan di- Sebelum, Sedang, dan Setelah Berpuasa
sumber: tribunnews.com

Puasa mengajarkan kita untuk menjadi manusia seutuhnya.Dalam penciptaan kita sebagai manusia, hadir di tengah-tengah masyarakat adalah sebuah keharusan. Sebenarnya, manusia harus lebih banyak me- daripada di-, sebab hal inilah yang akan menyebabkan lupanya manusia terhadap kodratnya sebagai makhlus sosial yang tentu amat sangat membutuhkan bantuan orang lain  untuk melangsungkan kehidupannya.

Seorang mampu memperbanyak me- sebagai ejawantah dari penghambaan kita terhadap pencipta. Pun sebaliknya, manusia harus mampu menepis di-, menjauhkannya dari kehidupan kita. Mari kita lihat beberapa contoh, seperti apa me- dan di- yang tentu mampu mengubah beberapa sisi dalam kehidupan kita.

Memberi dan diberi, ini merupakan perintah dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam tentang betapa pentingnya dan betapa mulianya tangan di atas daripada tangan di bawah. Memang kedengarannya sepeleh, tapi apabila kita mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan kita, maka ini merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan kemuliaan dalam hidup (di dunian dan akhirat).

Contoh berikutnya yakni; menyayangi dan disayangi. Menyayangi adalah bentuk keikhlasan yang tiada terkira, kita menghibakan segala yang kita miliki lalu kita persembahkan kepada seseorang atau sesuatu yang kita sayang, bukankah wujud seperti tanpa pamrih? Ataukah memang amat sangat betul, jika ingin disayangi maka terlebih dahulu Anda harus menyayangi.

Memang benar apa yang dikatakan oleh ulama dan ustadz, jika engkau tidak memiliki sesuatu maka jangan berharap memberikan sesuatu kepada orang lain. Bagaimana bisa orang memberikan hati yang lapang jika memang seseorang itu tidak memiliki hati yang lapang? Apakah orang bisa mencintai jika tidak ada cinta dalam hatinya?

Memang, me- dan di- sering kita anggap hal yang kecil saja, jadi kita abaikan.
Seperti halnya dalam bahasa Makassar.

Bahasa Makassar memiliki beberapa variasi partikel diantaranya pertikel -ko dan -kik. Contoh dalam penggunaan kata dimanako dan dimanakik? Kita sering mengatakan, "ah biarlah saya mengatakan dimanako, kan dia lebih muda dari saya". Kata dimanako kurang enak diterima oleh lawan tutur kita meskipun lawan tutur kita lebih muda. 

Apakah ada jaminan jika orang yang lebih muda dari kita akan lebih mulia di sisi pencipta? Tentu tidak kan? Olehnya itu, jangan pernah mengabaikan hal-hal kecil yang akan berdampak besar. 

Kata dimanako? meskipun kedengarannya biasa-biasa saja, tapi ketika kita ujarkan atau tuturkan kepada yang lebih tua dari si penutur maka akan dianggap kurang sopan, kurang penghargaannya. Saya memberi contoh kata yang berdialek bahasa Makassar karena (maaf) saya orang Makassar. Hihi

Oleh karena itu, apabila kita berbuat atau menuturkan sesuatu yang memang itu bersumber dari hati kita yang paling dalam, maka yakinlah perkataan itu akan sampai pula ke dalam hati penerimanya.

Saya jadi teringat apa yang disampaikan oleh mantan Walikota Makassar yakni bapak Ilham Arief Sirajuddin yang mengatakan "sesuatu yang dari hati akan sampai ke hati" atau pada kutipan lain beliau mengatakan "sebab tanpa teman kita bukan siapa-siapa". 

Tak dapat dipungkiri, dalam perjalanan manusia banyak berinteraksi dengan orang lain, tentu dalam perjalanan kehidupan kita, dalam interaksi itu ada saja perlakuan dan perkataan yang sering melukai hati dan perasaan lawan interaksi kita, siap atau tidak siap kita telah menanggung dosa karena telah melukai hati.

Kesalahan kecil yang sering kita abaikan efeknya jika dibiarkan maka akan (pelan tapi pasti) membunuh qalbu kita yang nantinya akan bermuara pada hilangnya hak kita sebagai mahkluk Allah yang membutuhkan bantuan orang lain.

Olehnya itu, mari memperbanyak me- dan membuang jauh-jauh di- agar kehadiran kita di muka bumi ini dapat memberi warna yang indah.

Kurru sumangakta, salamakkik.