Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Guru

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Mulut Bisu

26 September 2015   21:31 Diperbarui: 26 September 2015   21:32 121 2 0

Hari ini aku mendapatkan pesan singkat mengejutkan dari adikku. Tentang tanah warisan dari orang tua. Sebelumnya tak ada yang mengutak-atik tentang peninggalan almarhum dan almarhumah, Bapak dan Ibu. Tiba-tiba aku ingin tahu, ada apa dengan pesan singkat itu.

“Hanafi, Mas. Dia menanyakan tanah warisan bagian dia yang mana?”kata Drajat.

“Drajat, memang Bapak dan Ibu meninggalkan banyak warisan tanah. Tapi selama ini kita belum pernah membicarakan tentang pembagian untuk kita berempat. Kok Hanafi tiba-tiba minta bagian. Memang ada apa dengan Hanafi?”tanyaku pada Drajat.

“Entahlah, sekarang Hanafi suka sms ke aku tentang tanah dan sertifikat. Mungkin dia lagi butuh uang atau kena masalah.”jawab adikku nomer dua.

“Ya sudah nanti kucoba menghubungi dia.”

00000

Komunikasi antara aku dan Hanafi hanya melalui pesan singkat. Hanafi tidak bicara langsung padaku. Aku sendiri juga tidak mempunyai keinginan untuk bicara langsung. Tapi sepertinya memang Hanafi lagi butuh uang. Hanya saja pertanyaanku buat apa?

Bukankah dia dan isterinya sudah mapan dan penghasilannya besar. Anaknya juga masih satu, masih kecil. Kurasa kebutuhannya belum banyak. Pasti ada yang tidak beres dengan adikku ini.

Hari ini Hanafi mengirim pesan singkat lagi. Intinya, dia kena tipu temannya. Dia dan temannya bekerja sama, berbisnis benda-benda pusaka yang konon keuntungannya menggiurkan. Dan bisa ditebak akhirnya! Teman bisnisnya pergi setelah membawa lari uangnya. Padahal uang itu juga hanya pinjaman dari teman sekantornya.

Teman sekantornya menagih uang yang dijanjikan Hanafi. Seandainya Hanafi menunda-nunda dan ingkar janji, maka Hanafi akan dilaporkan kepada atasannya. Besar kemungkinan Hanafi dipecat dari pekerjaannya. (Semudah itu?)

Ketika kusampaikan hal ini pada isteriku, isteriku setengah tidak percaya.

“Alah, itu mungkin cerita rekayasa. Aku tidak keberatan untuk membantu adikmu. Tapi jumlahnya berapa? Kapan dia akan mengembalikan? Yang penting, adikmu datang ke sini. Kalau perlu dengan isterinya.”

Hanafi mau meminjam uang sejumlah lima juta rupiah. Dia akan datang sendiri sore ini. Aku dan isteriku menunggu, sambil menyiapkan materi wejangan yang akan kusampaikan pada Hanafi.

Ketika datang, Hanafi kelihatan sekali salah tingkah. Sebenarnya hidupku sederhana dan biasa-biasa saja. Isteriku selama ini membantu mencari nafkah dengan mengajar. Tabungan kami juga tidak banyak. Tapi aku dan isteriku sepakat akan membantu kesulitan Hanafi. Semoga masalah Hanafi ada jalan keluarnya.

“Ada masalah apa to, Om. Kok sampai hutangnya menumpuk?”

“Kena tipu, mbak. Bisnis benda pusaka, kerja sama dengan teman. Tapi temanku terus pergi entah ke mana setelah menerima uang dariku.”

“Memang benda pusakanya belinya berapa, kalau dijual keuntungannya berapa?”

Hanafi tidak terus menjawab. Kelihatannya Hanafi tiak siap dengan pertanyaan isteriku.

“Om, aku dan kakakmu hidup ya begini-begini saja. Sebelas tahun menempati rumah, sejak dulu rumah tidak ada peningkatan yang berarti. Tidak ngoyo dan selalu bersyukur. Sebenarnya menjadi kaya sih kepingin juga. Cuma ya harus bekerja keras. Tidak mungkin bisa kaya tanpa kerja keras.”

“Terus terang, Mas. Aku pingin bisa kaya seperti orang-orang. Hidupnya serba enak, tidak susah.’

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3