Mohon tunggu...
Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Mohon Tunggu...

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Puluhan Tahun Membagikan Sedekah Menjelang Lebaran Tanpa Berdesakan, Tanpa Korban, Tanpa Publikasi Ala Mbah Wido

6 Juli 2015   06:49 Diperbarui: 6 Juli 2015   06:49 0 1 1 Mohon Tunggu...

Puluhan Tahun Membagikan Sedekah Menjelang Lebaran Tanpa Desak-desakan, Tanpa Korban  Tanpa Publikasi Ala Mbah Wido.

Kisah ini saya tulis dengan niat berbagi. Tidak ada unsur apapun. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Sengaja saya menceritakan ini karena saya pernah dekat dengan mbah Wido. Saat itu saya masih kecil hingga remaja. Cerita yang sederhana namun berkesan. Sampai sekarang semuanya masih membekas dalam ingatan saya.

Tahun 1982 Bapak mengajak keluarga untuk pindah rumah. Awalnya kami tinggal di kampung Suryowijayan kemudian pindah ke kampung Dukuh. Kedua kampung ini masih dalam satu kelurahan yaitu Gedongkiwo , Kecamatan Mantrijeron, Kodya Yogyakarta. Kami bukan menempati rumah sendiri melainkan mengontrak rumah sambil membangun rumah sendiri.

Bapak mengontrak rumah milik pasangan Bapak Wido Suroto dan Ibu Wazilah. Mereka dikenal dengan sebutan Pakde/Bude Wido. Pada akhirnya kami menyebut mbah Wido agar anak-anak kami memanggil mereka berdua dengan sebutan mbah Wido.

Tahun 1982 saya duduk di kelas 4 SD. Rumah mbah Wido sangat luas, halaman rumah dan pekarangannya juga luas. Pada setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu rumah mbah Wido digunakan untuk shalat jamaah maghrib bagi anak-anak, dilanjutkan untuk mengaji dan shalat isya. Alhamdulillah, saya bisa belajar mengaji dari alif ba ta hingga hafalan surat-surat pendek. Akhirnya saya bisa membaca Al Quran meskipun tajwidnya belum sempurna benar.

Setiap selesai shalat jamaah, kadang kami  diberi makanan kecil, permen atau jambu biji hasil panen pekarangan rumah. Waktu itu kami sangat senang. Bila bulan Ramadhan tiba tiap malam rumah mbah Wido digunakan untuk shalat tarawih. Setelah shalat selalu dibagikan jaburan. Jaburan itu juga sedekahnya mbah Wido dan keluarga besarnya.

Mbah Wido termasuk orang kaya, terpandang, dermawan, dan dikenal sebagai orang yang taat beribadah. Sebelum Idhul Fitri biasanya mbah Wido akan membagikan beras. Jumlah beras yang dibagikan melebihi kewajibannya mengeluarkan zakat fitrah. Waktu itu hingga akhir tahun Sembilan puluhan, mbah Wido membungkus beras kemasan 1 kg yang dibagikan ke semua warga di sekitarnya, tidak memandang kaya atau miskin. Mbah Wido tidak membagikan beras dengan cara mengundang tetangga yang akan diberi, melainkan beliau akan mengutus beberapa orang untuk membagikan beras tersebut. Beras yang dibagikan kualitasnya baik. Bila Idhul Fitri tiba, semua warga secara bergantian datang ke rumah mbah Wido untuk bersilaturahmi. Di rumah mbah Wido anak-anak mendapatkan salam tempel yang nominalnya lumayan untuk ukuran anak-anak.

Setelah menempati rumah sendiri (tidak mengontrak), keluarga saya masih mendapatkan sedekah dari mbah Wido.

Bila Idhul Qurban tiba, mbah Wido dan keluarga besarnya waktu itu menyembelih beberapa ekor kambing. Hasil sembelihan dibagikan ke warga sekitar. Kalau sekarang (sudah beberapa tahun) mbah Wido dan keluarga besarnya menyembelih sapi. Tentu saja warga mendapatkan daging lebih banyak dari sebelumnya.

00000

Beberapa tahun terakhir Bapak saya bila shalat lima waktu berjamaah di mushola milik mbah Wido. Mushola yang dibangun di depan rumah mbah Wido, ukurannya cukup luas. Bapak biasanya mengumandangkan azan lalu menjadi imam ketika shalat ditegakkan.

Ketika saya belum menikah, saya mengikuti jamaah shalat di masjid dekat rumah. Biasanya Bapak yang menjadi imam. Saya tahu betul ketika Bapak menjadi imam. Bacaannya fasih, tidak terlalu cepat tapi tidak terasa lama. Biasanya jamaah shalat tarawih senang bila Bapak menjadi imam, karena shalatnya tidak terlalu lama (tapi bukan shalat kilat).

Jamaah shalat setiap 5 waktu shalat di mushola mbah Wido banyak, apalagi bila Ramadhan. Jamaah shalat tarawih juga selalu penuh hingga akhir Ramadhan. Pada akhir Ramadhan, mbah Wido dan keluarga besarnya akan membagikan sedekah berupa uang. Pecahannya tidak terlalu besar. Akan tetapi para jamaah menerima dengan penuh suka cita. Mbah Wido tidak akan memandang siapa yang akan diberi, warga mana, sering berjamaah di musholanya atau tidak, atau hanya datang ketika mau dibagikan uang.

Penerima sedekah pun tidak perlu antri, berdesak-desakan, apalagi sampai terinjak-injak sebab mereka mau tertib dalam pembagian sedekah. Memang yang datang tidak sampai ribuan orang, tapi cara membagi sedekah ini perlu dicontoh. Biasanya setelah malam pembagian sedekah tidak berarti malam berikutnya jamaah sepi. Ternyata jamaah shalat tarawihnya tetap banyak.

Menjelang lebaran, Bapak mendapatkan bingkisan dari mbah Wido. Sepertinya bingkisan itu khusus buat Bapak. Isinya bermacam-macam. Selain bahan makanan/minuman juga amplop berisi uang. Mbah Wido biasanya datang sendiri untuk memberikan bingkisan itu kepada Bapak.

Meskipun mbah Wido Kakung sudah tiada, mbah Wido Putri (usia kurang lebih delapan puluh tahun) tetap melakukan semua. Kami sebagai anak-anak Bapak merasa tersanjung mbah Wido mau datang ke rumah Bapak. Apalagi tujuannya silaturahmi. Tak terasa hubungan antara keluarga saya dan keluarga mbah Wido sudah terjalin lama, yakni 33 tahun (tahun 1982-sekarang).

Saya salut dengan cara mbah Wido dan keluarga besarnya dalam membagi sedekah, meskipun dilakukan di kampung. Semua berjalan sistematis dan tertib. Selama Puluhan Tahun Mbah Wido Membagikan Sedekah Menjelang Lebaran Tanpa Desak-desakan, Tanpa Korban  Tanpa Publikasi. Tidak perlu memakai panitia, tidak perlu pengamanan ketat dan tidak perlu publikasi.

Sebenarnya banyak pengusaha/dermawan yang tinggal di Yogyakarta yang membagikan sedekah menjelang lebaran. Salah satunya adalah adik dari mantan presiden RI. Ketika saya masih tinggal di Yogyakarta, beliau membagikan sedekah kepada warga pada minggu terakhir bulan Ramadhan pada setiap jamaah yang ikut shalat jamaah di sana. Tempatnya di sebelah utara Pasar Ngasem (lokasi lama).

Setahu saya tidak ada musibah atau kejadian pada tiap-tiap pembagian sedekah menjelang lebaran di Yogyakarta. Mungkin karena kesadaran warga tinggi dan mereka mau tertib. Selain itu tidak setiap warga yang tidak mampu mau datang untuk diberi sedekah. Ternyata beberapa warga yang tidak mampu tidak memanfaatkan momen ini. Mereka masih mempertahankan dan menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menengadahkan tangan mesku mereka tak punya.

Semoga banyak dermawan yang memberikan sedekah di akhir Ramadhan ini atau menjelang lebaran. Kalau bisa para dermawan datang sendiri dan membagikan sedekah ke rumah-rumah kaum miskin papa. Atau mereka sudah memiliki panitia/utusan yang ditugaskan untuk membagi sedekah di tempat-tempat tertentu. Sehingga penerima tidak harus datang ke rumah dermawan. Karena biasanya orang-orang yang menginginkan sedekah datang dari jauh/luar desa. Mereka harus naik kendaraan umum dengan mengeluarkan ongkos. Belum lagi harus berdesak-desakan, kepanasan, kehausan dan lain-lain. Kasihan juga bagi orang tua dan perempuan yang membawa anak kecil/menggendong balita. Bisa saja mereka kelelahan lalu mengalami sesak napas mendadak. Mereka bisa pingsan!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2