Mohon tunggu...
Politik

Kongres Luar Biasa (KLB) GMNI, Medan 2016

29 Agustus 2016   16:16 Diperbarui: 29 Agustus 2016   16:20 0 0 1 Mohon Tunggu...

Merdeka!!!!

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau lebih dikenal dengan GMNI adalah sebuah organisasi gerakan mahasiswa yang berideologikan Marhaenisme ajaran Bung Karno. GMNI yang lahir pada 23 Maret 1954 di Surabaya ini, merupakan hasil fusi tiga organisasi gerakan mahasiswa yang sama-sama berideologikan Marhaenisme. 

Tiga organisasi tersebut adalah Gerakan Mahasiswa Marhaenis (Yogyakarta), Gerakan Mahasiswa Merdeka (Surabaya), Gerakan Mahasiswa Demokrasi Indonesia (Jakarta). 62 Tahun sudah GMNI mewarnai dinamika gerakan di Indonesia. pasang surut organisasi tentu sudah di alami oleh organisasi berlambang Banteng ini. Dinamika internal di dalam tubuh GMNI beberapa tahun belakang ini cukup berdampak pada aktivitas gerakan yang dihasilkan.

KLB bukanlah hal baru dalam GMNI. Pada tahun 2001 lalu, GMNI melakukan KLB di Kota Semarang. perbedaan pandangan akan strategi dan taktis dalam bergerak menjadi dasar pemikiran KLB Semarang. selanjutnya permasalahan internal di dalam tubuh GMNI berakhir ketika Kongres Persatuan Pangkal Pinang pada Tahun 2006. 

Paska Kongres Persatuan 2006, dinamika di dalam tubuh GMNI nyaris tidak ada. pertemuan-pertemuan nasional baik Kongres maupun Rakornas datar-datar saja. Tidak ada perdebatan-perdebatan yang bersifat substantif bagi tubuh GMNI. Kepengurusan GMNI di tingkat nasional di dominasi oleh kelompok KLB Semarang. 

Secara tidak langsung hal ini menciptakan oligarki kepengurusan di tingkat nasional. Oligarki di tubuh GMNI bisa dilihat dari terpilihnya Twedi Noviadi menjadi Ketua Presidium GMNI selama dua periode berturut-turut yang dilanjutkan terpilihnya Chrisman Damanik sebagai ketua Presidium 2015-2017 pada Kongres Sikka. 

Pada akhir tahun 2015, beberapa cabang GMNI mengadakan pertemuan di Surabaya. Pertemuan yang berlangsung selama 3 hari ini membahas isu-isu seputar GMNI, baik organisasi maupun aktivitas gerakannya. pertemuan Surabaya ini menghasilkan beberapa rekomendasi, yaitu membenahi internal organisasi, Ideologisasi kader, serta membangun kerja-kerja bersama. 

Pertemuan Surabaya ini dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan di beberapa Kota termasuk Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Jakarta. Pertemuan yang dilakukan oleh cabang-cabang GMNI ini akhirnya memuncak pada pertemua Jakarta yang menghasilkan Badan Penyelamat Organisasi serta mengadakan Kongres Luar Biasa di Medan.

Pada Tanggal 20-22 Agustus lalu, 38 Cabang GMNI melakukan pertemuan di Cianjur, Jawa Barat. pertemuan ini menghasilkan 7 poin:

1. Program–Program GMNI kedepan.
2. Metode Perjuangan GMNI dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia
3. Perubahan Struktur Baru secara nasional yaitu Presidium Murni.
4. Mengembalikan logo GMNI dari logo Banteng (paska menjadi underbow PNI tahun 1959) ke Logo semula yaitu Ganesha (sebelum menjadi underbow PNI yaitu tahun 1954- 1958) dan juga untuk mempertegas bahwa GMNI tidak menjadi underbow partai politik manapun.
5. Menghasilkan PO AD/ART GMNI
6. Deklarasi Kongres Luar Biasa (KLB) GMNI Front Marhaenis yang akan diadakan di Medan pada tanggal 08 – 11 September 2016
7. Mengingatkan dan mengajak kepada seluruh cabang GMNI se – Indonesia agar berfikiran obyektif dalam melihat kondisi Ekonomi Politik Internasional dan Nasional, juga dalam melihat kondisi kemunduran GMNI Secara Nasional.

Sampai dengan saat ini, sudah 50 Cabang GMNI yang sudah mengkonfirmasi untuk hadir dalam Kongres Luar Biasa di Medan tersebut. Panitia menegaskan bahwa KLB Medan ini murni untuk mengembalikan GMNI ke jalan perjuangan mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera dengan Marhaenisme sebagai ideologi perjuangan. "Kegagalan kepemimpinan Nasional seharusnya tidak menjadikan gerakan GMNI macet", ujar Dimas Anggara yang merupakan Ketua Cabang Surabaya. "GMNI harus tetap menjadi organisasi pelopor bagi Gerakan Rakyat", tegas Mahasiswa yang akrab dipanggil Gembel ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x