Mohon tunggu...
Niza Ismi Azeeza
Niza Ismi Azeeza Mohon Tunggu... Mahasiswa UMM

banyak ide, sedikit karya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Mengapa Memori Negatif Lebih Sering Diingat?

19 Juni 2021   10:15 Diperbarui: 19 Juni 2021   10:16 88 1 0 Mohon Tunggu...

Sadar atau tidak sadar, kita tentu lebih banyak yang mengingat kenangan yang membuat kita merasa tidak nyaman, entah kenangan memalukan atau menyakitkan bagi diri kita. Begitu pula ketika mengingat orang-orang yang pernah kita kenal, atau bahkan yang sekarang berada di dekat kita. Kita cenderung lebih banyak mengingat orang-orang yang kita anggap pernah membuat kenangan negatif atau perbuatan buruk seseorang. Mengapakah memori yang negatif cenderung lebih sering kita ingat daripada memori yang positif?

Beberapa sumber menjelaskan bahwa memori berkaitan erat dengan emosi yang sedang kita alami. Ketika suasana hati kita sedang tidak baik, meski tidak diinginkan, pikiran kita akan memutar ingatan-ingatan yang tidak baik pula. Sebaliknya, ketika suasana hati kita sedang bahagia, tentu kita akan mengingat pengalaman-pengalaman yang membuat kita bahagia pula  (Martono & Hastjarjo, 2008).

Hal-hal yang berkaitan dengan diingatnya peristiwa yang buruk berkaitan dengan aktivitas pada amygdala, bagian otak yang bekerja untuk mengatur emosi yang dialami manusia, terutama rasa ketakutan, dan juga aktivitas di hipokampus, bagian otak yang memiliki peran penting dalam proses terbentuknya memori jangka panjang. Kita akan lebih mudah mengingat suatu peristiwa yang secara langsung menyebabkan reaksi emosional kita. Pengalaman yang sangat emosional akan membangkitkan lokus coeruleus, yang meningkatkan pelepasan norepinefrin melalui korteks dan pelepasan dopamin di hipokampus (Kalat, 2019; Takeuchi dkk., 2016).

Dikutip dari situs webmd.com, para peneliti menjelaskan bahwa emosi-emosi negatif seperti ketakutan atau kesedihan akan memicu peningkatan aktivitas di bagian otak yang berhubungan dengan memori, dalam hal ini, yaitu amigdala dan hipokampus. Peneliti mengatakan studi-studi yang menggunakan fMRI (functional magnetic resonance imaging) telah menunjukkan bahwa peristiwa bersifat negatif akan merangsang aktivitas pada area pemrosesan emosi di dalam otak, seperti korteks orbitofrontal dan amygdala. Semakin pusat emosional ini diaktifkan oleh suatu peristiwa, maka semakin besar pula kemungkinannya untuk mengingat rincian yang berkaitan dengan aspek emosional dari peristiwa tersebut.

Martono dan Hastjarjo (2008), menuliskan beberapa teori yang menjelaskan keterkaitan antara memori dan emosi, antara lain yaitu teori jaringan yang dijelaskan oleh Bower pada tahun 1981 dan teori skema oleh Aaron T. Beck sebagai pelopornya. Teori jaringan menjelaskan, kondisi emosi diwakilkan oleh node, unsur dari memori semantik, yang menghubungkan satu unsur dengan unsur lainnya. Sementara itu, teori skema menjelaskan bahwa orang yang sedang mengalami emosi tertentu, akan memiliki skema yang sesuai dengan kondisi emosi tersebut. Misal, seseorang yang sedang sedih akan memiliki skema yang memacunya untuk mengambil kembali ingatan yang menyedihkan (Martono & Hastjarjo, 2008).

Apakah ada perbedaan antara wanita dan pria dalam intensitas emosional yang dialami dari ingatan adegan negatif yang diinduksi secara eksperimental? Suatu eksperimen dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2019, menunjukkan bahwa wanita mengalami ingatan yang lebih intens terhadap konten-konten negatif, terlepas dari jenis pengambilannya. Wanita juga memiliki tingkat intensitas emosional yang lebih tinggi dalam menanggapi peristiwa yang emosional selama penyandian (Staugaard & Berntsen, 2020).

Kesimpulannya, peneliti menemukan bahwa wanita menilai memori tentang peristiwa emosional sebagai sesuatu yang lebih intens dan disertai oleh reaksi tubuh yang lebih hebat daripada pria. Penjelasan lain yang terkait, pria memiliki strategi regulasi emosi yang berbeda dari wanita. Pria juga menurunkan intensitas ingatan negatif mereka ke tingkat yang lebih tinggi (McRae dkk., 2008). Hal ini menjelaskan bahwa pria cenderung lebih sering melupakan ingatan emosional mereka (Staugaard & Berntsen, 2020).

Akhirnya, setelah seluruh penjelasan yang dijabarkan sebelumnya, muncul pertanyaan, apakah memori negatif perlu dilupakan? Penulis sempat membuat survei kecil di akun Instagram dengan menanyakan hal ini. Total 24 orang menjawab pertanyaan tersebut, 16 orang menjawab ya, 7 orang menjawab tidak, dan satu orang menjawab jawaban lain.

Memori negatif memang seringkali membawa kita pada energi-energi negatif pula, seperti merasakan keterpurukan atau kesedihan yang turut mendalam. Namun, Allah SWT. berfirman dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 139. Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak pernah sekalipun kita diminta untuk putus asa, jatuh ke dalam keputusasaan, dan mengisolasi diri kita terus-menerus memikirkan kelemahan kita. Ubah memori negatif menjadi pengalaman yang bisa kita pelajari. Ingatan-ingatan tentang masa lalu akan selalu ada, namun jika kita berpegang pada hal-hal negatif dari masa lalu tersebut, kita akan membiarkan hal-hal negatif itu mengganggu diri kita dan kehidupan kita.  

Menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan adalah langkah pertama menuju peningkatan diri. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Al-Quran 13:28). Pada akhirnya, tidak ada yang bisa kita kendalikan. Yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa Allah memegang kekuasaan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

REFERENSI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN