Mohon tunggu...
Khanif Fauzan
Khanif Fauzan Mohon Tunggu... Santri

Terima kasih telah membaca tulisan saya! Semoga barakah manfaat

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Menilik Kualitas Penghambaan Manusia kepada Allah

25 Juni 2020   10:46 Diperbarui: 25 Juni 2020   10:36 44 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menilik Kualitas Penghambaan Manusia kepada Allah
Jamaah 212 Sujud Penuh Kekhusyuan/cendikiapos.com

Silakan saja manusia menilai dirinya adalah hamba Allah yang sejati. Setiap hari tak kurang dari 5 waktu ia habiskan untuk ibadah. Belum lagi kewajiban lainnya seperti puasa, zakat, haji, sedekah setiap hari, beramal shalih sepenuh hati. Bekerja mati-matian untuk anak dan istri. Merasa diri punya banyak amal, memang begitulah kelihatannya.

Maka terkadang banyak alasan apabila kita ambil waktu rehat sejenak untuk tidur, mengobrol, menonton film, atau main Hp, sekedar keluar dari rutinitas. Tak sengaja ketika scrolling media sosial kita mendengar ada ustadz yang mengatakan banyak manusia kurang beramal shalih, kita bangga. Kita adalah muslim yang sholeh, kita telah melakukan banyak amalan. Banyak yang kurang beramal, namun itu bukan kita!

Allah Yang Maha Kaya sudah sewajarnya melimpahkan nikmat dan rezeki kepada kita, sebagai ganjaran atas semua yang kita lakukan. Allah yang Maha Pengampun, tentu perlu mengampuni dosa kita sebab kita senantiasa beramal shalih. Selalu sabar, senantiasa menyesali dosa. Aku rajin hanya untuk-Mu

Maka senangkan aku, jangan menyingungku. Berikan semuanya, sebab aku lelah bekerja untuk-Mu  ya Rabb!

Andaikan Allah Subhana hu wata'ala mengatakan, "Semua keinginan mu takkan pernah Ku wujudkan, semua doa-Mu takkan kukabulkan. Kamu akan kumasukkan ke neraka-Ku, kuharamkan surga untukmu" kira-kira bagaimana perasaan kita? Apakah kita tetap ikhlas beribadah kepada-Nya atau justru sakit hati dan meraung protes, "Allah nggak adil!"

Apapun jawaban kita, itu menunjukkan kualitas penghambaan kita kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah, sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji" (QS. Faathir : 15)

Sejatinya manusia tidak dapat melepaskan diri terhadap penghambaan kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Dan barangsiapa yang menyangka (dengan keliru) bahwa seseorang hamba bisa saja keluar dari penghambaan diri kepada Allah (tidak terkena kewajiban beribadah) dalam satu sisi, atau dia menyangka bahwa keluar dari penghambaan diri itu lebih sempurna (utama), maka dia termasuk orang yang paling bodoh bahkan paling sesat"

Maka inilah jawaban seorang mukmin sejati, semisal Allah telah menetapkan semua ibadahnya tak di terima, "Ya Allah! Aku takkan menyerah mengharap rahmat-Mu. Aku akan terus mengabdi kepada-Mu, aku akan terus meminta pada-Mu. Hamba takkan putus asa dari rahmat-Mu"

Sebab Engkau telah memberi petunjuk kami. "..... Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." (QS. Az-Zumar : 53-54)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN