Mohon tunggu...
Khanif Firman
Khanif Firman Mohon Tunggu...

Seorang pelajar yang suka berkarya, kebanyakan terinspirasi dari murottal Al-Qur'an, sholawatan, dan instrumennya Yuki Kajiura atau Shiro Sagisu. Paling favorit instrumennya BrunuhVille, ato epic score. Mantap!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Duka

24 Maret 2018   17:15 Diperbarui: 24 Maret 2018   17:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
Duka
https://www.wartaekonomi.co.id/read153118/tragedi-rohingya-tentara-myanmar-tewaskan-hampir-400-orang.html

Ketika engkau memainkan denting piano, sejenak engkau akan dapat melupakan susahnya hidup yang selalu mengggantung di langit-langit pikiranmu. Resapi melodinya, bawalah jiwamu ke alam damai tanpa rasa takut atau kesedihan hati. Sejenak saja, perasaanmu akan rileks serileks ketika kau bangun dari tidur panjangmu. Rasa adalah penggerak hati manusia, maka rasa itulah yang amat peka dengan kedamaian, sekecil apapun itu. Rasa susah akan sedikit terobati bilamana energi positif alunan melodi anggun meresap ke dalam pori-pori jiwamu.

Ini jasad memiliki segudang masalah yang tak kujung selesai. Bagai kasih ibu, sepanjang masa terus menggelayuti setiap detik berjalannya waktu. Ingin rasanya diri ini berubah, sayang sekali waktu telah berlalu meninggalkan memori eligi. Tersisa kenangan manis yang tak lagi manis. Hanya kesedihan hati.

Jemariku menjamah tiap-tiap tuts piano, bait-bait kerinduan mewakili isi hati yang bermuram durja. Sebagai hiburan, janganlah takut dan janganlah bersedih hati. Sesungguhnya Allah bersama kita.

Pasti semuanya akan berakhir pada waktunya.

"Bawalah jiwamu terbang, wahai pujangga. Lewatilah awan-awan kerinduan akan kasih sayang, lalu kumpulkan mereka untuk menurunkan hujan rahmat bagi ruh-ruh yang layu akan cinta sejati. Cinta, yang merelakan segalanya telah terjadi"

Bisikan hati kecil yang mengalun dalam dada.

Kutenggelamkan diriku dalam bait-bait suci, demi menghibur sejenak sebelum nanti ku kan kembali pada kerasnya hidup.

***

Orang tuaku telah tiada semenjak ku masih kecil, hingga ku dewasa kunikmati akan kerasnya jalanan sebagai tempat mencari sesuap nasi. Tak sempat ku mengenyam bangku sekolah, menjadikan diriku hanya jongos bagi orang-orang kaya. Saat ku mengenal cinta, pandanganku tertuju pada dia yang selalu kurindui. Dia yang menebarkan cahaya kasih, dimana kami telah berjanji akan mengikat tali suci pada waktunya nanti. "Tunggulah, hingga ku berhasil menggapai dunia" dia dengan sabar menunggu.

Sayangnya, peristiwa itu pecah membuat suasana mengerikan di depan mataku. Revolusi pemberontak, menurunkan pemerintahan diktator yang menunut kami muslim untuk di musnahkan. Terror dimana-mana, tanpa ampun kami di mutilasi. Kekasihku, dialah satu-satunya cahaya harapanku, terbunuh setelah kesuciannya ternoda. Pandanganku gelap, keputusasaan menghinggapiku. Meski begitu, aku harus tetap bertahan hidup.

Dalam hutan belantara, berbekal selembar pakaian, aku bersembunyi dari kejaran para bajingan. Setiap jengkal langkah, hanya mayat, mayat, dan mayat. Ribuan manusia dibunuh layaknya ayam. Aku terus melarikan diri, sempat pula kepergok mereka. Sampai di pantai, kusebrangi laut menggunakan sampan tanpa pikir panjang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x