Mohon tunggu...
Annisa Aninditya
Annisa Aninditya Mohon Tunggu...

Jurnalis yang suka makanan manis.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Balai Kota Tak Pernah Seindah 10 Mei Sebelumnya

10 Mei 2017   19:35 Diperbarui: 14 Mei 2017   13:36 0 1 0 Mohon Tunggu...
Balai Kota Tak Pernah Seindah 10 Mei Sebelumnya
Sumber: kontan.co.id

Lagu-lagu nasional yang dinyanyikan ratusan orang dan dipimpin Addie MS, Rabu, 10 Mei, sepertinya pemandangan terindah yang pernah saya lihat di Balai Kota. Indonesia Raya, Garuda Pancasila, serta Rayuan Pulau Kelapa sangat menggetarkan halaman yang terakhir diinjak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sehari sebelumnya. Sang Wakil Gubernur—yang kini menjadi Plt. Gubernur—Djarot Syaiful Hidayat pun sampai menitikkan air mata.

Beberapa hari belakangan, banyak kejutan di Balai Kota. Mulai dari ribuan bunga, balon merah putih, sampai paduan suara. Saya yakin ini kejadian termanis yang pernah terjadi di sana.

Tak bisa dipungkiri bahwa Ahok memang dicintai. Meskipun juga dibenci.

Barisan kontra Ahok kerap datang di setiap sidang kasus penistaan agama. Demonstrasi dengan tanggal cantik diulang terus-terusan demi menegaskan permintaan mereka terhadap penangkapan Ahok. Permintaan mereka juga, kasus Ahok jangan diintervensi oleh pemerintah. Tapi entah apakah yang mereka lakukan bukan intervensi secara tak langsung.

Apa kesalahan Ahok?

Bagi saya, kesalahan terbesar Ahok cuma satu, komunikasi politiknya. Ahok harusnya menyadari agama merupakan sesuatu yang sangat sensitif di Indonesia. Sebagai tokoh publik, ia semestinya tidak melontarkan sesuatu yang sensitif dan mengundang kontroversi. Umat Islam mengenal ‘lakuum diinukum wa liya diin’ yang artinya ‘bagimu agamamu, bagiku agamaku’. Ia yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah dasar Islam sepertinya paham itu.

Meski begitu, saya kurang setuju kalau Ahok disebut menista agama. Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia (KKBI), nista diartikan (1) hina, rendah; 2 tidak enak didengar; 3 aib, cela, noda. Saya tidak merasa pernyataan Ahok tersebut menghina, merendahkan, atau menodai Al-Qur’an.

Para saksi ahli dalam sidang Ahok menyatakan bahwa tidak ada penistaan agama pada pidato Ahok di Pulau Seribu. Hingga akhirnya Jaksa Penuntut Umum menghapus pasal 156a dengan dakwaan "sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan (a) yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia” dalam gugatannya. Namun, hakim berkata lain.

Ahok memang tidak bisa menjaga mulutnya. Ia kerap memberikan pernyataan yang spontan, keras, meledak-ledak, dan kurang memperhatikan etika berkomunikasi. Saya ingat bahwa sejak posisinya naik menjadi Gubernur DKI Jakarta, banyak pakar mengingatkan gaya komunikasi politik Ahok yang buruk. Sayangnya, Ahok mengabaikan itu.

Para aktor komunikasi politik perlu mengetahui dan menguasai teknik berkomunikasi yang baik dan menjunjung etika. Dalam konteks komunikasi politik, pemahaman menyangkut etika dalam berkomunikasi menjadi sesuatu yang mendesak dalam mewujudkan budaya politik yang santun. Pesan yang disampaikan melalui komunikasi dapat berdampak positif atau pun sebaliknya (Shahreza & El-Yana:2016).

Mulutmu, harimaumu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2