Retno Wahyuningtyas
Retno Wahyuningtyas Sedang Menimba Ilmu dan Melakoni Hidup di Yogyakarta I Tertarik pada isu Sosiologi Keluarga

Alam Raya Sekolahku!

Selanjutnya

Tutup

Digital

Teknologi tidak Mampu "Memeluk" Kesepian Manusia

12 Januari 2019   15:14 Diperbarui: 12 Januari 2019   15:30 339 3 3

Saya memiliki seorang teman laki-laki yang baru dikenali setahun belakangan, di dalam kelompok kecil kami, beliau cukup disegani karena telah menikah dan memiliki dua orang anak. Saat ini kami sama-sama berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir. Setahun belakangan menjadi mahasiswa lanjutan merupakan petualangan tersendiri. Setiap hari harus rela berjuang untuk menyediakan diri menjadi lebih giat untuk menjalankan aktivitas akademis yang "seru" tapi "agak membosankan" bagi penyuka aktivitas berkeliling. 

Singkat cerita, suatu hari kami terlibat dalam percakapan yang agak serius: mengenai bagaimana para scholar laki-laki mengatasi kesepian ketika berada jauh dari keluarga. Dengan tenang dan lugas, teman saya ini menjawab: teknologi telah menjadi jembatan bagi banyak hal, begitu setidaknya yang pernah disampaikan para ahli di awal booming-nya teknologi komunikasi. 

Tidak ada yang salah dengan jawabannya saya, kecuali rasa penasaran saya yang ingin mengulik pelbagai rahasia manusia di dalam suatu ikatan. Di dalama Sosiologi, adalah sikap wajar ketika banyak hal perlu dipertanyakan sebab tidak ada hal yang hadir dan diterima sebagai sesuatu yang taken for granted. Setiap hal mengandung sesuatu.

Jujur saja, selain sungkan saya cukup mengagumi teman saya ini sebagai sosok yang (mungkin) diidam-idamkan oleh banyak perempuan. Bagaimana tidak, dengan penampilannya yang tenang, kebapakan, rajin beribadah, sayang pada keluarga (dengan cerita-cerita yang disampaikannya) maka saya beranggapan bahwa ternyata sosok laki-laki ideal belum luruh dari semesta ini. 

***

Hari-hari terus berlanjut hingga akhirnya sampailah kabar kepada saya bahwa si teman laki-laki ini terlibat dalam suatu jalinan asmara kasih dengan perempuan lain. lalu bagaimana dengan istri dan anaknya? "Semua masih sama" Begitu pungkasnya. Maka segenap asumsi saya runtuh dan membatin: bahwa semua manusia (termasuk saya sendiri) tetaplah manusia biasa yang senantiasa berada dalam perjalanan mencari sesuatu di dalam hidup. 

Sampai pada ujaran: "Kami berniat menjalin ke jenjang serius, menuju tujuan dari hubungan yang diidam-idamkan yakni pernikahan, doakan kami"

***

Sebagai manusia yang berada dalam fase Quarter Life Crisis, tentu saya berupaya memahami bahwa kesepian yang ditanggung manusia adalah hal yang tidak enak, seperti beban dipunggung yang harus dilenyapkan segera tanpa harus terkatung-katung di dalam ruang kosong--Qalbu manusia. Tetapi saya menjadi tidak cukup memahami dengan nalar berpikir bahwa semua cinta yang dirasakan adalah harus bersatu, harus saling memiliki, harus tidak bisa terpisahkan. Padahal, dalam proses belajar cinta itu bisa saja berada dalam jalur yang tidak tepat dan salah. 

Saya tidak memiliki kapasitas untuk menolak keinginan dan harapan besar teman saya untuk bersatu dalam maghligai rumah tangga. Tetapi sebagai manusia biasa, saya tentu memiliki hak untuk bersikap sebagaimana yang ingin saya kehendaki: menolak untuk terlibat lebih jauh dalam obrolan yang dapat mendukungnya untuk segera mewujudkan keinginannya. Tentu saja risih dan tidak enak hati. Tetapi sebagai manusia biasa juga, saya tidak lantas memutuskan hubungan pertemanan hanya karena alasan tidak sepakat. Memilih jalan sendiri-sendiri adalah yang dapat dilakukan saat ini. 

***

Kalau tidak salah, saya pernah menuliskan bahwa kesepian itu dirasakan tidak hanya oleh laki-laki saja tetapi juga perempuan. Sama seperti menangis, kondisi yang manusiawi dan akan ditanggung oleh insan manusia. Hanya saja, di era teknologi seperti saat ini, kesepian semakin menggilas habis makna kebersamaan. Secara sosial, manusia telah sibuk dengan urusan masing-masing dan pada perasaan masing-masing yang dibagikan pada akun media sosial masing-masing.

 Secara kuantitas, manusia menelurkannya ke banyak akun media sosial media yang dimiliki, seolah-olah menjadi satu-satunya yang akan/ingin diperhatikan, teknologi menjadi ruang berteduh sementara bagi manusia, tetapi tidak akan pernah menggantikan proses alami dari sebuah perjalanan. Bagaimana bertemu, berbincang-bincang, saling menatap, berpegangan tangan, mandi hujan, saling menyuapi makanan, saling mengusap, berpegangan tangan, bahkan saling memeluk ketika saling terluka dan tersakiti. Sebab pertemuan langsung adalah obat sebab melibatkan proses biologis, psikologis, spiritualis, dan sebagainya. Ada timbal balik yang dihasilkan antara manusia meskipun hanya saling diam tanpa bersentuhan atau hanya sekadar diam. Kesemua pekerjaan ini tidak dapat digantikan oleh mesin apapun, tetap saja hati manusia adalah hal purba sekaligus yang dapat diunggulkan dalam merawat kehidupan ini. 

Tetapi seiring di perjalanan, keberadaan media sosial menambah beban kesepian manusia dengan tampilan postingan yang hanya menunjukan raut ekspresi kebahagiaan dan menyembunyikan kesepian sosial. Padahal, idealnya ketika teknologi menjadi alat bantu bagi kebertahanan hidup manusia, semestinya tidak merenggut nilai-nilai kemanusiaan, harusnya menjadi semakin kuat karena saling melengkapi. Namun kenyataannya, masyarakat semakin terpisah dalam keterjangkauan sosial dan psikis, meski dekat dalam jangkauan dunia yang dilipat oleh teknologi. 

Bila boleh berkomentar, saya akan menganalisis rutinitas teman saya ini. Bukan dalam rangka untuk menjadi yang paling hebat sehingga menjengkalinya. Tetapi saya juga ingin belajar dan mencatat, sehingga ketika saya tersesat lagi. Saya mampu mengingatkan diri saya sendiri. Kekurangan minat terhadap sesuatu hal di usia QLC juga hal-hal yang berbahaya sebab tubuh membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan dan mengedarkan energi (positif ataupun negatif) sehingga tetap bisa waras dan berpikir jernih terhadap setiap kondisi yang akan dihadapi setiap harinya. 

Keinginan untuk berpoligami memang bukan urusan saya untuk kemudian  menjustifikasi dengan standar moral yang lebih banyak bias dalam memandang inti persoalan. Tetapi membingkainya dalam cara pandang gender dan kemanusiaan dimana keadilan yang digadang-gadang mampu dilakukan, nyatanya dapat lahir dari proses yang latihan dan olah rasa dalam waktu yang panjang. Ketika memperlakukan seseorang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya tetapi berdalih telah meletakkan keadilan dalam level sama rata. Saya merasa kita semua perlu belajar lagi ehehe. Perlu mendedah antara cinta yang sebenarnya, atau cinta yang sebenar-benarnya. Saya juga tidak terlalu paham. 

Semoga hati manusia dipenuhi kedamaian yang menyisir sampai ke dalam qalbu. Jangan lupa bahagia dan menyapa tetangga ya. Salam.