Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng karyawan swasta

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

"Grand Design" Kasus Ahok: Akhir Euforia Rizieq FPI dan TNI-Polri hingga Jokowi Bentengi Pancasila

19 Januari 2017   17:18 Diperbarui: 19 Januari 2017   17:53 15813 59 40
"Grand Design" Kasus Ahok: Akhir Euforia Rizieq FPI dan TNI-Polri hingga Jokowi Bentengi Pancasila
Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Ketum PB NU KH Said Aqil Siradj I Sumber Tribunnews.dom

Momentum itu akhirnya lahir dengan sejumlah kasus yang membelit Rizieq FPI. Euforia perasaan kemenangan malambat melaun hilang ditelan sikap Rizieq FPI sendiri, dan waktu. Kasus Ahok pun makin jernih, semakin hari persidangan semakin membuka mata tentang kebenaran yang haq dan kebatilan yang bathil. Maka rakyat dan pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla beserta TNI-Polri tinggal memetik buah dengan mengedepankan kehadiran Negara dalam memberangus ormas anti-Pancasila.

Mari kita telaah grand design kasus Ahok dan musnahnya dan hilangnya euforia kemenangan semu ala Rizieq FPI dan ketegasan Polri dan TNI lewat dua Jenderal Polisi dan Jenderal TNI serta ketegasan strategi Presiden Jokowi- JK yang merangkul erat stake holder terbesar pendiri NKRI yakni NU sambil menari menyanyi bergembira suka-cita senang riang gembira gempita menertawai kekalahan gerakan keagamaan radikal dan SBY yang berteriak-teriak tetapi tetap tak mampu mengantarkan Agus menang dan ngakak nonton blunder Anies Baswedan dan partai agama PKS yang mencari dukungan FPI dan sikap tegas partai nasionalis PDIP yang tidak takut berhadapan dengan FPI dengan Rizieq FPI-nya untuk menyambut kemenangan kebhinekaan NKRI selamanya senantiasa.

Sejak awal disampaikan – bahkan sejak aksi 411 dan lain-lain – bahkan euphoria 212 yang menjadi tonggak untuk membuat psikologi massa euphoria dengan aneka 161 dan sebagainya hanyalah alat pemetaan bagi Negara. Tak lain tak bukan. Tak lebih dan tak kurang.

Publik yang awalnya gerah dan menganggap kehadiran Negara tidak tampak dan membiarkan gerakan radikal meluas semakin hari makin kecele: TNI-Polri, BIN, dan masyarakat pendukung Pancasila dan Kebhinekaan ternyata melakukan pemetaan.

Dalam hal pemetaan itu, gerakan radikal terjebak oleh berbagai pernyataan bahkan orang eks Pimpinan  Muhammadiyah dengan pentolan semacam manusia Din Syamsuddin yang biasanya cool, nice dan sweet sejalan dengan NU mengambil sikap aneh. Hal itu yang menyebabkan  FPI dengan gempita merasa mendapatkan dukungan mayoritas rakyat Indonesia. Padahal silent majority pencinta kebhinekaan NKRI tengah pasang kuda-kuda setiap saat akan melawan gerakan keagamaan radikal anti Pancasila mana pun.

Maka sikap FPI pun semakin berani dan bahkan menuntut Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jabar untuk didopot. Bahkan pada saat yang bersamaan Rizieq FPI dengan entengnya merendahkan Jenderal Polisi dengan pernyataan yang menyakiti hati.  FPI pun bersikap di atas angina dan langit, bahkan menggunakan Masjid Agung Al Azhar pun kini menjadi salah satu tempat singgah dan berhasil dipeluk oleh FPI. Mantap menurut FPI.

Sikapnya pun semakin menjadi-jadi dan bahkan dalam aksi 616 – meminjam idiom psikologis kemenangan sesaat gede rasa euphoria 212 – ada massa yang mencoret Bendera Merah Putih dengan tulisan laillaha illallah plus gambar pedang mirip bendera Wahabi Arab Saudi.

Namun, di tengah pemetaan sempurna itu, TNI, Polri, Densus 88, dan BIN serta masyarakat pendukung kebhinekaan terus memantau perkembangan sesuai dengan grand design strategi pemetaan intelejen yang memerhatikan psikologi masyarakat. Semua untuk kepentingan bangsa dan negara dan kebhinekaan Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar.

Sikap tegas Polri menetapkan Rachmawati dan Bintang Pamungkas dan kawan-kawan sebagai tersangka makar dan terhadap Ahmad Dhani dkk. berhasil membungkam – dan pada saat yang bersamaan mampu meredam ocehan mulut manis indah menawan hati dunia akhirat bernama nenek Sarumpaet. Cep klakep tak ada bunyi.

Bunyi awal nyaring dari Prabowo dan pengikutnya Fadli Zon dan orang kehilangan induk Fahri Hamzah dijawab dengan pembuktian di pengadilan. Tentu Polri memiliki alasan untuk menetapkan mereka sebagai tersangka. Maka adalah tuduhan yang bukan main-main yang telah coba diredam oleh Prabowo namun tetap Polri akan membuktikan tuduhan makar tersebut di pengadilan.

Di tengah grand design kasus Ahok sesungguhnya berbagai kepentingan politik bermain. SBY adalah orang yang memiliki kepentingan hukum untuk agar Ahok diadilai dengan teriakan nggak karuan – sementara tidak berteriak untuk kasus Rizieq FPI yang juga dilaporkan ke Mabes Polri. Jelas tujuan SBY berteriak adalah demi Agus, bukan hanya kedok demi hukum dan keadilan. Sikap double standard alias standard ganda SBY jelas karena ada kepentingan Agus agar didorong menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Di tengah euphoria kemenangan yang melaun melambat itu Rizieq FPI masih berpikir bahwa dia bisa mengatur dan menekan Polri untuk memecat Kapolda Jabar dan Kapolda Metro. Polri pun bahkan menunjukkan geligi kuatnya dengan justru memberi penghargaan kepada dua Kapolda tersebut.

Rakyat yang tadinya mulai berpikir mengkiuti FPI kembali tersadarkan oleh justru berbagai aksi luar biasa hebat yang dilakukan oleh Rizieq FPI dengan akhlakul karimah, dengan sikap terbaik dan patut menjadi contoh bagi seluruh umat manusia di dunia dan akhirat sekalian nanti, dengan omongan mulut sejuk dan manis seperti madu yang mengalir di bawah sungai-sungai surgawi. Sungguh indah. Keindahan gaya, busana, sikap, omongan Rizieq FPI seperti itu justru membius kesadaran umat akan pentingnya Pancasila dan NKRI. Dan ... membuat euforia kemenangan semakin melaun melambat seiring waktu.

Dalam kesadaran itu bahkan skondan anak ideologis dan biologis Bung Karno, penemu ideologi terbuka Pancasila, Megawati yakni Sukmawati pun – salah satu oposan Rachmawati sejak dulu – angkat bicara, berbarengan dengan Megawati yang langsung diserang oleh Rizieq FPI. Bahkan Rizieq FPI di tengah perasaan menang karena kasus Ahok – meminta Mabes Polri memeriksa Megawati – yang dijawab oleh Sekjen PDIP yang tidak takut dengan sepak terjang FPI sama sekali.

Pada saat bersamaan kasus yang membelit Rizieq FPI pun tidak akan dibiarkan – sebagai tandem bargaining position untuk kasus Ahok – karena jelas tujuan gerakan FPI adalah menuntut Presiden Jokowi dan melebar ke berbagai kasus. Bahkan di tengah euphoria Rizieq FPI menggemborkan ‘revolusi ala FPI’ yang tak mendapat sambutan siapa pun, apalagi rakyat silent majority tetap melakukan aksi watch and see dan wait and see. Sementara TNI, Polri, dan rakyat kebanyakan memandangnya sebagai red alarm dan red line yang tidak boleh diseberangi.

Kini Polri dan TNI secara tegas bersama-sama akan memberangus ormas anti Pancasila. Orang awam paham bahwa berbagai aksi FPI adalah memanfaatkan momentum MUI dan orang kepo lupa semacam Din Syamsuddin. Untung NU dengan jernih lewat Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siradj tidak mau terlibat ke dalam politik praktis yang merusak kebhinekaan dan lewat pembicaraan empat mata dengan Presiden Jokowi.

Tak pelak, dalam waktu dekat ini NU akan menerjunkan seluruh kekuatan kiai dan ulama rahmatan lil alamin – kredo dan ideologi Islam rahmatan lil alamin yang moderat akan terjun ke masyarakat untuk membentengi diri dari Islam radikal. Momentum kebangkitan radikalisme agama yang muncul seperti kasus Dwi Estiningsih PKS – yang kecele dan merasa menang di tengah euphoria – dan Rizieq FPI yang justru menghadapi pelaporan atas diri mereka atas kasus ucapan dan sikap mereka.

Maka, euforian kasus Ahok dan kebangkitan radikalis keagamaan itu pun dengan cepat dan cerdas ditangani oleh Presiden Jokowi. TNI dan Polri pun tidak akan gamang menghadapi radikalisme keagamaan yang meresahkan – dan mengancam kebhinekaan dan bahkan Pancasila dan NKRI. Kini momentum eufororia kemenangan radikalisme keagamaan itu melaun melambat dengan munculnya kesadaran masyarakat dan tindakan tegas TNI-Polri, BIN dan penegakan hukum yang adil dan beradab tanpa menghiraukan tekanan dan demo FPI.

Sementara itu, kasus Ahok pun akan diurai sampai ke titik kesadaran masyarakat akan adanya grand design politik dan hukum. Kaitannya jelas dengan Pilkada DKI – dengan didahului oleh teriakan gak karuan SBY soal Ahok agar melapangkan Agus, maka sebagai penawarnya Silvy pun besok diperiksa untuk kasus korupsi. Selain itu rancangan kolaborasi politik-keagamaan dengan Anies-Sandiaga yang didukung oleh FPI dan partai agama PKS membuat posisi mereka di buncit dan tidak laku. Kedekatan dan pertemuan Anies Baswedan dan Rizieq FPI merupakan reuni sesama keturunan Arab di Indonesia yang saling mendukung. Pas.

Pun pada saat yang bersamaan Polri, TNI, BIN dan masyarakat termasuk elemen stake-holder terbesar berdirinya Indonesia, NU, bersama-sama dengan masyarakat mengerem radikalisme keagamaan yang anti Pancasila dan NKRI. Bagi SBY – Agus akan tetap keok – Anies silakan meminta FPI secara resmi mendukungnya – dan Rizieq FPI untuk terus berjuang dalam menghadapi belitan kasusnya dan tak usah merengek mediasi segala.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2