Mohon tunggu...
Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng Mohon Tunggu... Operator - Seorang penulis yang menulis untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Politik

Soal GKI Yasmin: Presiden Jokowi, Aher, Arya Bima Akan Selesaikan dan Beri Solusi

25 Desember 2015   07:02 Diperbarui: 25 Desember 2015   08:21 1436 11 8 Mohon Tunggu...

[caption caption="Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla I Dok Ninoy N Karundeng"][/caption]Pesan damai Hari Raya Natal berkumandang di seluruh Indonesia. Para pejabat mulai Ahok, Djarot dan Aher alias Ahmad Heryawan pun berkunjung ke gereja-gereja. Pesan damai Natal begitu kental. Kebhinekaan Indonesia mencemburat menggambarkan keindahan kerukunan umat beragama di Indonesia. Luar biasa. Namun di tengah keriuhan itu sebagian umat beragama berdoa tanpa gereja: umat GKI Yasmin Bogor. 

Mari kita tengok keyakinan bahwa Presiden Jokowi, Ahmad Heryawan dan Arya Bima sebagai para pemimpin akan mampu berbuat menyelesaikan masalah gereja GKI Yasmin di Bogor yang berlarut-larut dan menjadi noda di tengah kerukuman hidup manusia berbagai agama di Indonesia dengan hati jauh dari pesta-pora suka-cita bahagia menari menyanyi memuja berdoa berdansa riang suka selamanya senantiasa.

Bagi Presiden Jokowi, tak ada persoalan yang tak dapat diselesaikan. Semua persoalan akan dapat diselesaikan dengan kepala dingin. Setiap tantangan ada jawaban untuk ditemukan jalan keluar dan solusi. Pemimpin besar yang jujur dan bijaksana seperti Presiden Jokowi dipastikan akan mampu menyelesaikan kasus gereja GKI Yasmin dengan baik.

Setiap Natal tiba, maka jemaat GKI Yasmin pun unjuk gigi dengan misa tanpa gereja. Misa jemaat GKI dilakukan di jalanan tanpa altar suci layaknya misa di sebuah gereja, seperti Gereja Immanuel atau pun Gereja Katedral di Jakarta. Umat jemaat GKI Yasmin Bogor selalu merayakan dalam keprihatinan.

Memang kasus GKI Yasmin adalah kasus yang pelik dan mengundang decak kagum dari orang yang masih waras dan berakal sehat. Kisruh hukum, politik dan penuh konflik sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan menjadi pokok permasalahan. Juga kaitan antara mayoritas dan  minoritas selalu menjadi momok yang menakutkan baik bagi mayoritas maupun minoritas. Yang mayoritas takut kehilangan hegemoni kekuasaan atas nama mayoritas. Yang minoritas pun takut akan hak-hak azasi atas nama minoritas terabaikan.

Dalam konflik itu, hukum, politik dan sosial-kepercayaan berbaur menjadi satu dengan dua tonggak menancap: (1) jemaat GKI Yasmin merasa memiliki hak untuk mendirikan tempat ibadah, (2) penentang berdirinya gereja GKI Yasmin merasa berhak menghalangi atau tidak menyetujui pendirian tempat ibadah. Penyebabnya apa? SKB 2 Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama. Isinya? Peraturan tentang pendirian tempat ibadah yang dianggap diskriminatif oleh minoritas dan dianggap benar oleh mayoritas.

Terkait pendirian gereja ini, atau tempat ibadah lainnya, sesungguhnya permasalahan pendirian rumah ibadah adalah hak azasi setiap umat manusia. Tempat ibadah adalah tempat paling azasi karena hubungan antara manusia dan tuhan. Maka pendirian gereja GKI Yasmin pun demikian adanya: dengan catatan harus memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku.

Kasus Gereja GKI Yasmin Bogor sejak zaman pemerintahan SBY yang didukung oleh orang kuat di Indonesia – Muhammad Riza Chalid yang dikabarkan menentukan setiap orang yang akan masuk ke kabinet SBY – pun tidak berani bersikap. Arya Bima pun demi politik mengikuti tingkah laku pendahulunya. Gubernur Ahmad Heryawan pun belum bisa berbuat banyak menghadapi konflik itu. Bahkan SBY pun tak bisa berbuat banyak: takut.

Kini, Presiden Jokowi yang jago berdiskusi dan mendekati persoalan dengan kepala dingin, dengan kekuatan Menteri Menkopolhukam Jenderal Luhut Pandjaitan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dipastikan akan mampu menyelesaikan kasus Gereja GKI Yasmin Bogor. Presiden Jokowi harus bisa menyelesaikan kasus gereja Yasmin yang menjadi catatan buruk Indonesia di mata internasional harus dihapus. Presiden Jokowi harus menemukan solusi once for all bagi kasus gereja GKI Yasmin.

Dalam penyelesaian itu, baik pihak Gereja GKI Yasmin Bogor maupun pihak penentang berdirinya gereja harus duduk bersama-sama untuk satu penyelesaian. Berbagai opsi pasti ada jalan keluarnya. Kini tinggal Presiden Jokowi, Ahmad Heryawan, dan Arya Bima sebagai para petinggi di Indonesia, Jawa Barat dan Bogor harus bertindak memimpin penyelesaian.

Indonesia malu kalau hal kecil begini tak mampu diselesaikan oleh Presiden Jokowi. Hal yang kecil begini, soal keciillll begini kalau Presiden Jokowi, Ahmad Heryawan, dan Arya Bima tak mampu menyelesaikan dengan alasan sama dengan SBY dkk – demi mendapatkan dukungan politik dan ketakutan kehilangan dukungan politik – maka itu menjadi catatan hitam. Memalukan NKRI.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN