Mohon tunggu...
Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng Mohon Tunggu...

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dilematis, Untuk Berbuat Baik, Haruskah Orang yang Beragama?

15 Agustus 2015   11:54 Diperbarui: 15 Agustus 2015   12:11 0 16 31 Mohon Tunggu...

[caption caption="Thomas Alfa Edison I Sumber www.emaze.com"][/caption]

Dilematis. Ada pertanyaan yang sangat mendasar. Manusia hidup di dunia apakah cukup berbuat baik ataukah orang harus beragama untuk berbuat baik? Pertanyaan ini tidak mewakili golongan atheis – yang sering disalahpersepsikan bahwa orang atheist tidak percaya akan adanya tuhan. Pertanyaan ini adalah renungan tentang kondisi nyata dalam kehidupan sosial manusia. Mari kita telaah kondisi dilematis manusia tentang keharusan berbuat baik, berperilaku benar secara sosial, dan keharusan beragama dan bahkan perlu mencantumkan di dalam kartu identitas seperti KTP dengan hati riang gembira suka cita bahagia ria pesta-pora suka-suka tertawa menikmati kehidupan senantiasa selamanya.

Ada orang tidak beragama – atau minimal tidak mengatasnamakan dan tidak menonjolkan agamanya – namun berbuat baik untuk kemanusiaan. Bill Gates – salah satu orang terkaya di Dunia – tidak menggunakan alasan agama untuk menyumbangkan setengah hartanya. Bill dan Melinda membantu mengentaskan kemiskinan di Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin dan Asia. Ratusan miliar dollar telah dikeluarkan Bill untuk kemanusiaan tanpa memandang suku, ras, dan agama yang membutuhkan. Bill berbuat baik atas nama kemanusiaan.

Thomas A Edison berkontribusi menerangi dunia dengan temuannya: lampu listrik pijar. Thomas menemukan lampu pijar tanpa memikirkan keuntungan dari segi keagamaan, Thomas dikenal tidak begitu saleh dalam beragama – jika keberagamaan dilihat dari seringnya pergi ke tempat ibadah.

Orang juga menggunakan agama sebagai alat untuk dan alasan berbuat baik. Agama memicu orang berbuat baik karena suruhan dan ajakan dan ajaran agama. Membantu orang lain yang susah, membantu menemukan metoda pengobatan. Ibnu Sina alias Avicenna adalah salah satu orang yang karena kekuatan agamanya menjadi ahli kedokteran yang hebat.

Selain tentu meskipun beragama dan justru menggunakan agama sebagai alat untuk melakukan kejahatan. Para teroris Yahudi yang banyak membunuh orang Palestina. Dan teroris Hamas yang membunuh orang Israel juga dianggap teroris. Al Baghdadi mendirikan ISIS dengan melakukan pembunuhan dan kekejaman terhadap sesama manusia.

Kadang kala ada kontradiksi antara berbuat baik dengan orang beragama. Agama adalah kumpulan aturan sosial-ketuhanan yang dibangun atas dasar kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan sosial-kemasyarakatan (kemudian) kehidupan yang berhubungan dengan keilahian.

Banyak manusia yang beragama dan menggunakan agama sebagai alat kekejaman (Al Baghdadi dengan ISIS), korupsi (Luthfi Hasan Ishaaq dengan mendompleng dan mencoreng Islam dan jelas partai agama PKS), perang (Arab Saudi membunuhi Houthi Yaman) dan bahkan pembunuhan terhadap sesama manusia melalui pemboman dan teror (Boko Haram, Al Qaeda, Jemaah Islamiyah, IRA, Perang Salib).

Di lain pihak banyak pula orang yang tanpa memanfaatkan dan menggunakan agama berbuat baik untuk kemanusiaan – tanpa mengedepankan identitas keagamaan mereka. Dan tanpa alasan keagamaan. Maka pertanyaan selanjutnya. Apakah untuk berbuat baik orang harus beragama? Ataukah agama sebagai jaminan orang untuk berbuat baik, sementara kenyataannya banyak orang yang tidak menggunakan agama sebagai alasan untuk berbuat baik? Apakah kemanusiaan sebagai dasar untuk berbuat baik cukup? Itu hanya pertanyaan yang kita semua bisa menjawab sendiri.

Salam bahagia ala saya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x