Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng karyawan swasta

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Politik

Krisis Mesir: Persamaan PKS, HTI, dan Ikhwanul Muslimin

3 Juli 2013   19:08 Diperbarui: 24 Juni 2015   11:03 4723 6 18

Presiden Mesir Muhamad Mursi tengah menghadapi ultimatum Militer Mesir. Mursi diberi pilihan antara mundur, menyelesaikan krisis politik dan pilihan paksa Militer Mesir menyiapkan ‘roadmap' untuk memaksa Mursi mundur. Apa sebenarnya yang terjadi sehingga Mursi yang berkuasa baru setahun dipaksa mundur? Apa pelajaran yang bisa didapatkan dari krisis Mesir yang disebabkan oleh kerakusan Ikhwanul Muslimin bagi rakyat Indonesia? Apa persamaan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan PKS? Mari kita telaah dengan kepala panas dan hati sejuk, kalau mau.

Seperti diketahui Indonesia tengah mengalami ancaman kekuasaan dari kalangan radikal seperti HTI - yang tak mengakui Indonesia sebagai Negara Bangsa - dan juga dari PKS dan seluruh partai politik yang melakukan korupsi. Krisis Mesir menjadi menarik karena gambaran kekuasaan Ikhwanul Muslimin - di Indonesia ada PKS yang memiliki ideologi sama dengan IM.

Melihat pembajakan Revolusi Mesir yang menjatuhkan Hosni Mubarok oleh Ikhwanul Muslimin, mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan bahaya idiologi PKS dan HTI. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tampaknya akan melakukan apapun juga seperti yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin. Gaya dan ideologi PKS sungguh sama dengan Ikhwanul Muslimin dan HTI yang mengedepankan khilafah. PKS, HTI seperti halya Ihkwanul Muslimin memiliki taktik diam di bawah tanah ketika belum memiliki kekuatan - ketika rezim Soeharto PKS yang memiliki kader militant bekas anggota pengajian usroh tak berani bergerak.

Maka ketika muncul Reformasi 1998, seperti halnya Ikhawanul Muslimin di Mesir langsung memanfaatkan atas nama demokrasi, PKS langsung tampil memanfaatkan keadaan dengan mendompleng Reformasi 1998. Langkah pertama PK(S) adalah mendekati PAN - untuk menunjukkan kedok politik seolah sebagai kelompok reformis. Namun, begitu sedikit mendapat kekuatan, PKS langsung meninggalkan PAN dan bergabung dengan SBY dan Demokrat menjadi bagian dari pemerintahan. Itulah taktik oportunis yang mengaku sebagai partai dakwah agama PKS.

Kini, Mursi - penguasa lalim yang membuat Konstitusi Mesir menjadi begitu berwarna syariat Islam tidak dikehendaki oleh mayoritas rakyat Mesir - diprotes oleh ribuan rakyat Mesir di Lapangan Tahrir. Militer memberikan deadline beberapa jam lagi agar Mursi menyelesaikan krisis Mesir atau mundur. Militer Mesir telah memerintahkan untuk menerapkan ‘roadmap' bagi pemerintahan baru.

Militer akan memaksa (1) transisi kekuasaan dari Mursi ke pemerintahan di bawah kendali Militer, (2) membatalkan Konstitusi Mesir yang bersifat sangat syariah - dengan tidak menghargai golongan lain di Mesir selain Islam, (3) membubarkan Parlemen yang dikuasai oleh kelompok Ikhwanul Muslimin.

Mursi pun tidak akan mundur dari kekuasaan dan sebaliknya mengeluarkan pernyataan bahwa Mursi akan tetap menjadi presiden. Bahkan Mursi menyerukan kepada Militer Mesir untuk menarik ultimatum berkaitan dengan krisis politik di Mesir. Rakyat Mesir pun terpecah menjadi dua: pendukung Mursi - yang minoritas dan penentang Mursi yang mayoritas.

Kesalahan Mursi adalah sebagai presiden Mursi gagal menjadi presiden bagi seluruh rakyat Mesir. Mursi menempatkan seluruh kekuasaan dengan unsur Ikhwanul Muslimin sebagai ujung tombak kekuasaan. Kelompok lain seperti orang rezim Mubarok - yang menguasai sumber daya Mesir selama 3 dekade - disingkirkan begitu saja tampa upaya rekonsiliasi. Ikhwanun Muslimin melupakan bahwa para pengikut Mubarok memiliki ‘uang' - suatu kondisi di Indonesia di mana Golkar tetap menguasai sumber daya keuangan.

Nah, tanda-tanda rusaknya Indonesia jika PKS berkuasa sudah tampak hanya dengan diberi kekuasaan di tiga kementrian. Dengan tiga kementrian di bawah PKS saja, PKS sudah menjadikan mereka sebagai sumber korupsi - terbukti dengan ditangkapnya ustadz Luthfi Hasan Ishaaq dan ustadz Ahmad Fathanah. Mereka menjadi mesin uang bagi partai dakwah agama PKS tersebut. Bukti-bukti mengarah ke sana.

Jadi PKS dan HTI akan bertindak dan bertingkah laku seperti Ikhwanun Muslimin di Mesir saat ini jika suatu saat berkuasa. Partai yang hanya berorientasi kekuasaan seperti PKS dan kakaknya HTI akan hanya memikirkan kelompok dan golongannya sendiri dan tak akan menghargai golongan lain akibat sikap segregatifnya yang nggak ketulungan. Jika mau lihat bagaimana PKS jika berkuasa lihatlah Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah. Juga, lihat Mesir di bawah Ikhwanul Muslimin saat ini: tidak menghargai perbedaan.

Salam bahagia ala saya.