Mohon tunggu...
Ninik Karalo
Ninik Karalo Mohon Tunggu... Pendidik berhati mulia

Fashion Designer, penikmat pantai, penjelajah aksara-aksara diksi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kertas Terakhir Menguak Tabir

13 Juli 2020   03:17 Diperbarui: 13 Juli 2020   04:41 59 11 1 Mohon Tunggu...

Di ruang tungu itulah awal pertemuan terjadi, hingga berlanjut layaknya hubungan dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Berawal dari pertemuan tersebut, mereka pun saling memberikan perhatian. Sayang, hubungan itu tak direstui orang tua Zaza disebabkan oleh hal yang rumit.Di ruang yang serba putih itu, Zaza menunjukkan suratnya kepada seorang lelaki yang tengah terbaring sakit."Surat." ucapnya sambil ditunjukkannya kepada lelaki itu.

 Surat Zaza yang isinya memohon agar Prama, menyusulnya tak sempat dikirimnya. Masih disimpannya rapi dalam sebuah bungkusan kecil. Bungkusan itu selalu diselipkan dalam susunan baju di dalam lemari bajunya. Saat baju-bajunya berpindah ke dalam kopor, bungkusan itu mengikutinya ke mana pun kopor itu pergi. Lama Zaza menyembunyikannya dari Larissa, putri semata wayangnya.

Perempuan berkulit kuning langsat itu terus bercerita.

Dari surat itu pula tabir tentang mereka berdua terkuak. Di umur remajanya, Larissa menemukan benda keramat itu dan dimulailah petualangan sang putri. Zaza mengetahui itu ketika benda itu sudah berpindah tempat. Ia juga tambah yakin ketika Larisa membawa-bawa kisah tentang lelaki yang tengah terbaring sakit. Pasien yang nama belakangnya sama dengan nama pemberiannya.

Di saat mengungkap itu, terdengar suara perih di hatinya. Prama mengambil tissu dari meja yang letaknya dekat dengannya. Tangannya gemetar karena desakan penyakitnya. Zaza iba melihatnya. Ditahannya lengan Prama. Diambilnya tissu itu. Dilapnya kristal yang mengalir di ujung mata Prama.

Kini Zaza ada di depan mata Prama. Lelaki itu tak mampu berkata-kata. Ia hanya menimak saja. Ia tak kuasa berkata-kata. Dirabanya bolpoint yang tergeletak di atas meja kecil di dekatnya. Zaza segera memahami, mengambikannya untuk lelaki itu. Prama memberi kode untuk mendudukkannya.

Prama mulai menulis. "Aku tak sanggup untuk percaya bagaimana aku bisa mengakuinya? Apa mungkin ia anakku, Za? tulisnya walau agak berantakan. Zaza menanggapi tulisan itu. "Di dunia ini hanya ada satu laki-laki yang pernah aku kenal, Pram! Hanya kau seorang! Saat itu, aku hanya ingin anakku lahir. Aku benci aborsi!' tegas Zaza.

Prama menatap mata perempuan yang dulu sangat dicintainya. Ia menulis lagi. Saat kau meninggalkanku, aku jatuh sakit, Za. Dan dalam kesakitanku, aku berusaha mencari tahu di mana keberadaanmu. Kamu tahu sendiri keadaanku keuanganku. Biaya kuliah saja kuperoleh dari hasil kerjaku separuh hari, mejadi kuli bangunan. Mustahil aku bisa menyusulmu, Za! Itu nonsens!"

Zaza meraih buku lalu menyobeknya untuknya. Dibacanya. Buku kecil itu diberikan lagi kepada Prama.

Prama menulis lagi. "Akhirnya, aku hanya mampu berusaha melupakan kenangan kita. Dengan sengaja kubunuh perasaan cintaku. Tiga tahun sesudah itu aku bertemu Argyanti."

Perempuan itu meraihnya lagi. dilihatnya tulisan itu mulai terseok. Zaza tak tahan melihatnya. Ditatapnya mata kuyu dan senyum yang mengisyaratkan ketidakberdayaan. Ia tak sanggup menatap lama. Hatinya teriris. "Maafkan aku."

Lelaki itu menulis lagi. "Aku sadar apa yang kulakukan terhadap Argyanti hanyalah pelampiasan rasa dendamku. Akibatnya parah. Sakit! Aku merasa bersalah terhadap Argyanti. Makanya aku ke sini, ke kota ini menyusulnya, agar aku bisa membayar semua kesalahanku terhadapnya. Tapi dengan keadaan seperti ini mana mungkin, Za! Aku tak menyangka justru aku bertemu anak itu, lalu kau ada di sini. Misteri Illahi, kita tak tahu."

Ditulisnya lagi."Aku laki-laki brengsek yang tak tahu diuntung. Aku tak pernah menyangka akan berakhir seperti ini. Aku mohon jangan memusuhinya."

Zaza begitu terharu membacanya. Kalu saja dia tak tahu dari awal tentang Argyanti, sudah ia depak habis-habisan. Semua tentang perempuan yang kaya sabar sudah direguk kisahnya melalui rentetan kelakar atau pun info singkat dari mulut puterinya sepulang dari lepas jaga.

Untuk meyakinkan lelaki itu, Zaza berbisik di telinga Prama. "Aku merasa tak pernah merasa ia musuhku. Dia sudah menjagamu bertahun-tahun, itu sudah lebih dari cukup. Aku bersyukur, Pram!"

Prama melepas bilpoint.Ia menghela nafasnya. Diraihnya lagi. Ia menulis lagi. "Aku merasa tak kuat lagi. Aku tak bisa lolos dari malaikat maut. Kalau dia benar-benar anakku, aku ingin sekali memeluknya untuk terakhir kalinya, Za."

Zaza mulai khawatir. Ia mengelus-elus jemari lelaki itu dengan lembut. "Kau pasti sembuh, Pram!" Zaza memberi penguatan walau dia sendiri ragu. Tulisan lelaki di hadapannya semakin terseok, berantakan. Bak savana teromabang-ambing oleh terpaan angin.

Pilu menyesakkan dada. Zaza ingin menangis. tangisan yang lama tersimpan dalam lempengan bumi, di dasar hati yang terdalam. Tapi ditahannya.

Prama tetap memaksakan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Ia berusaha sekuat ia mampu. Padahal ia tak mampu sesungguhnya. Tapi ia menulis lagi. "Aku ingin hidup tapi rasanya tak ada kehidupan lagi. Hewan kecil pemakan bangkai pun enggan menerimaku. Bahkan cacing saja mungkin tak sudi memakanku."

Ada air meetes melewati tulang pipi yang kini tirus. Matanya cekung.

Pintu terkuak. Seorang perempuan muda mengenakan atasan blazer putih. Keduanya terdiam. Larissa menyentuh bahu perempuan itu. Usahanya mempertemukan keduanya itu bukan tanpa alasan. Suara hatinya yakin itu lelaki yang dicarinya. Di dada Larissa, ada aroma mewangi mengguar di ruang itu.

Jika itu benar, bukan tidak mungkin mereka bisa bersatu lagi. Larissa sadar, ada Bu Argyanti di antara mereka. Perempuan berhati lembut yang telah mendapingi lelaki itu selama bertahun-tahun, sekali pun duri pernah menusuk jantungnya.  

Prama mencuri pandang. Hatinya meringis. "Apa mungkin ia anakku? Benarkah dia puteriku? Tapi tanda itu? Ada sedikit cekung di pipinya. Matanya, keningnya persis wajahku. Argyanti juga bilang begitu. Ah... mungkinkah? 

Ciri khas di wajahnya mirip denganku." teriak bathinnya. Semenjak awal perkenalan dengan gadis itu, jantungnya sering bergemuruh. mereka akrab layaknya dokter dan pasien.

Prama menulis lagi. Kali ini dia benar-benar tak kuat. Dia menulis. Tak sempat terbaca oleh Zaza. Dua lembar kertas serta bolpoint dalam genggamannya terlepas. Sekonyong-konyong kepalanya terasa pening.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada kertas yang terjatuh. Tangannya menggamit kertas itu. Di bacanya. "Larissa, anakku. Peluk Ayah, Nak!" Hah? Matanya membelalak. Ke lima jari lentiknya perllahan menutup mulutnya yang ternganga.  

Belum habis keherannya, dibukanya kertas yang satu lagi. Ini kan surat bunda kepada seseorang. Itu berarti..." ucapnya hampir berbisik. Di anatar rasa percaya dan tidak berkecamuk dalam pikirannya. Tangis pun meledak tak terkontrol. 'Ayah... !" pekik Larissa memenuhi ruang. "Ayah... bertahanlah!"

Zaza tak mampu lagi menahan air bah yang telah menumpuk di pinggiran matanya. "Ya, dia ayahmu, Larissa." bisik Zaza hampir tak terdengar. Terhimpit olah tangisannya.

Larissa sungguh pedih. lidah yang tak pernah sekali pun menyebut kata ayah, akhirnya terucap jua. Dipeluknya sang ayah. Erat sekali. Kerinduan yang lama tersimpan dalam peti kemas yang bermuatan keinginan yang membara, kini justru terbayar oleh raga yang sekarat.

Larissa betul-betul tak berdaya. Ludes sudah kekuatan yang di tabungnya selama bertahun-tahun. Bermil-mil ketegaran yang telah dikumpulkannya, amblas tak karuan.Dadanya sesak. Tangis yang lama teronggok diam kini termuntahkan. Dengungnya mengeluarkan suara falseto. Blazer putih yang dikenakannya, ditanggalkannya,ditaruhnya di atas sandaran kursi di ruang itu. Ia benar-benar merasa tak berguna. Gelar dokter yang disandangnya seakan tiada arti.  

Penyesalannya memburai sebab tak mampunya menolong sang ayah yang telah lama dicarinya. Pupus sudah. Sirna sudah ketegaran seorang dokter yang selama ini merawat lelaki itu dengan harapan masih bisa melepas rindunya terhadap sang ayah jika ia benar-benar lelaki itu yang dicarinya, di saat sembuh nanti.

Zaza menghampiri dan memeluk sang buah hati yang sedang memeluk jasad Prama. Dipeluknya dua insan itu. Bersamaan dengan itu, masuk seorang perempuan yang usianya hampir setara dengan Zaza. Argyanti, perempuan berhati lembut itu. Argyanti melihat kertas itu. Ia tertarik membacanya.

Dihampirinya ketiganya. Dielus-elusnya bahu Larissa. Argyanti nampak tegar menghadapi pemandangan itu. Ia seolah tahu bakal seperti ini. Larissa dan Zaza melepas pelukan. Argyanti mendekati jasad Prama. "Aku suadah memafkanmu jauh sebelum kamu menyadarinya." bisiknya. Ada air yang menetes dari ujung matanya.

Zaza tak tahan melihat pemandangan itu. Air matanya terus mengalir. Larissa berdiri di sudut ranjang, tapa gerakan lagi. Argyanti mendekatinya. "Akhirnya misteri ini terjawab, Nak! Sebelumnya, aku bisa baca dari ulah konyolmu." ucap Argyanti sambil mencolek hidung Larissa. 

Ia mengedipkan matanya agar air yang menggenang secepatnya memburai. "Cerita lama tentang bundamu tersayangmu, asalmu, margamu, dan cara Tuhan mengirim bundamu melalui musibah ini, insiden kecelakaanmu itu...!" ungkap Argyanti tenang setenang ia menerima kenyataan ketika mengetahui tabir besar ini saat ia menintip di balik pintu, beberapa detik lalu.  

Larisa menatap Bu Argyanti. Ia tersenyum. ada rasa syukur hadir di ruang itu. Argyanti membalas menatapnya. "Dokter pantang menangis di depan pasiennya." canda argiyanti.

Sambil menggeleng, dokter menampik kalimat Argiyanti."Aku biasa menghadapi setiap pasien yang sedang sakratul maut, tapi... ini pasien istimewa yang pernah kutemui, Bu! Dia,dia ... ayahku, Bu. Maafkan Bunda, Bu!" Zaza menatap perempuan itu lagi. Terdengar sesenggukannya mengharu biru. Argyanti ikut terharu. Ia pun benar-benar menumpahkan air matanya. 

Tangisan yang sama-sama selama bertahun-tahun menegndap dalam bongkahan awan, belahan bumi di kedalamnan samudera, bahkan dengan rapinya perempuan-perempuan perkasa itu menyimpannya dalam kisah panjang yang baru saja terkuak.  

Zaza tak tega melihat fragmen itu. "Icah sayang, keluarkan air matamu. Suarakan tangismu, ledakkan ratapan pilumu." Ia berucap. Padahal ia sendiri sedang menahan tangisnya. Ia masih menganggap sang buah hatinya seperti gadis kecil.

Argyanti bersuara di antara pecahan tangisnya "Tak ada yang pelu dimaafkan, Sayang. Percayalah... kita akan menjadi satu keluarga. Terkadang Allah tidak memberikan apa yang kita minta, tapi yakinlah! Allah senanntiasa memberikan apa yang kita butuhkan, Nak! Semua yang menimpa kita adalah bagian dari takdir Allah yang tak bisa kita hindari!" dengan bijaknya Argyanti mengucap kalimat itu.

Larissa nampak tersenyum di sela tangis. Degup di dadanya membisikkan kalimat pamungkas. Ketegangan yanbarusan memuncak, perlahan melunglai.

"Selamat jalan, Suamiku!' ucap Argyanti.
Selamat jalan, Sayangku!" Zaza dengan tegarnya berusaha berucap lirih.
Selamat jalan, Ayah! Suara Larissa di sela tangisnya.

Prama pergi untuk selamanya. Zaza tulus mengantar ke peristirahan terakhir. Walau hanya sekilas terasa, pengakuan Prama membuat Ia dan puterinya bahagia. Argyanti mengikhlaskan Prama kembali kembali ke pangkuan Illahi Rabby. "Dia pasti bahagia di sana. Tuhan maha pengampun. Tobatnya melegakan hati Argyanti.

NK/13/07/2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x