Mohon tunggu...
Ningrum Ahmadi
Ningrum Ahmadi Mohon Tunggu... Pribadi

Penyuka Travelling

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bidikan Jitu Penekanan Nilai Pancasila dan UUD 1945

20 Juni 2019   08:44 Diperbarui: 20 Juni 2019   08:51 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kemajuan zaman dan era modernisasi tidak dapat dihindari oleh setiap bangsa untuk masa kini. Mutlak: seperti "kewajiban" ikut arusnya, bila tidak akan tergerus.

Ternasuk Indonesia yang berproses sesuai tuntutan kemajuan zaman dan modernisasi.

Kemajuan zaman dan modernisasi memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat berbangsa. Jika positif, tentu menguntungkan bagi kita. Namun efek negatif yang patut diantisipasi.

Perubahan paling bahaya bagi Indonesia dari kemajuan zaman dan modernisasi adalah berubahnya nilai-nilai luhur berbangsa, bergesernya ciri khas kehidupan masyarakat dan pudarnya semangat toleransi keberagaman.

Intinya: menyerang pola pikir dan tradisi orisinalitas masyarakat serta bangsa. Jika hal itu tidak diwaspadai lalu dicari penangkalnya: maka runtuhlah Pancasila dan UUD 1945.

Kondisi seperti itu disadari Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Menteri Ryamizard seorang visioner. Mampu 'membaca' potensi masa depan bangsanya.

Bukan sekadar diam saja. Menteri Ryamizard beraksi. Bertindak konkrit. Sikap itu memang melekat pada sosok Menteri Ryamizard yang selama ini dianggap sebagai nasionalis sejati. Tulus mencintai bangsanya.

Stretegi jitu disusun Menteri Ryamizard. Yaitu menggaungkan dan meminta agar nilai-nilai adiluhung Pancasila dan isi konstitusi selalu ditekankan dalam setiap aktivitas masyarakat.

Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa bagi Menteri Ryamizard tetap perlu selalu ditekankan makna Pancasila dan UUD 1945. Bisa melalui berbagai cara dan aktivitas.

Strategi itu disebut bela negara. Strategi yang memang kini tepat diterapkan di semua lini kehidupan bermasyarakat berbangsa. Bela negara rasanya ampuh mempertahankan semangat patriotik.

Ketimbang wajib militer yang kesannya mengerikan, strategi bela negara rasanya lebih diterima masyarakat Indonesia. Apalagi Indonesia bukan dalam kondisi perang. Tidak punya musuh atau bersiap menginvasi negara lain.

Belum tentu juga semua masyarakat kita bersedia sukarela mengikuti wajib militer jika diterapkan.

Menteri Ryamizard memang visioner. Bisa menelaah psikologis masyarakat. Toh, wajib militer juga membutuhkan biaya banyak. Dan bela negara adalah solusi jitu.